This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 24 Agustus 2017

Sukses Bisnis Budidaya Ayam Broiler





Ayam Pedaging (Broiler) adalah merupakan ayam ras yang permintaannya cukup tinggi di Indonesia, oleh karena itu pangsa pasarnya cukup besar. Keunggulan ayam broiler adalah mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat 35-40 hari. Ayam broiler mempunyai peranan yang penting sebagai sumber protein hewani asal ternak. Di Indonesia peternakan ayam broiler cukup banyak, baik perusahaan besar atau peternak kecil. Pasar ayam broiler masih terbuka lebar, ini merupakan peluang bisnis yang masih menjajikan. Sebelum memulai bisnis budidaya ayam broiler penting sekali untuk dipertimbangkan aspek pasar yaitu kemana harus menjual hasil panen dan harga jual, lokasi budidaya yang stategis tidak mengganggu lingkungan, teknik budidaya, manajemen kesehatan ternak, ketersediaan pakan, dan analisa ekonomi. Secara sederhana teknik budidaya ayam broiler adalah sebagai berikut:
A. Pemilihan Bibit
Bibit yang baik mempunyai ciri : sehat dan aktif bergerak, tubuh gemuk (bentuk tubuh bulat), bulu bersih dan kelihatan mengkilat, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta lubang kotoran (anus) bersih
B. Pemilihan Lokasi Ideal
Lokasi kandang. Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk, udah dicapai sarana transportasi, terdapat sumber air, arahnya membujur dari timur ke barat. Pergantian udara dalam kandang. Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik. Kemudahan mendapatkan sarana produksi. Lokasi kandang sebaiknya dekat dengan poultry shop atau toko sarana peternakan.
C. Tata Laksana Pemeliharaan
1. Pemeliharaan awal  

Tipe kandang ayam Broiler ada dua, yaitu bentuk panggung dan tanpa panggung (litter). Tipe panggung lantai kandang lebih bersih karena kotoran langsung jatuh ke tanah, tidak memerlukan alas kandang sehingga pengelolaan lebih efisien, tetapi biaya pembuatan kandang lebih besar. Tipe litter lebih banyak dipakai peternak, karena lebih mudah dibuat dan lebih murah.
Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk menjaga kehangatan, sehingga energi yang diperoleh dari pakan seluruhnya untuk pertumbuhan, bukan untuk produksi panas tubuh. Kepadatan kandang yang ideal untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah 8-10 ekor/m2, lebih dari angka tersebut, suhu kandang cepat meningkat terutama siang hari pada umur dewasa yang menyebabkan konsumsi pakan menurun, ayam cenderung banyak minum, stress, pertumbuhan terhambat dan mudah terserang penyakit.
2. Pakan
Pakan merupakan 70% biaya pemeliharaan. Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari (Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu tersedia/tidak dibatasi). Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%. Tahap kedua disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya. Penambahan POC NASA lewat air minum dengan dosis 1 – 2 cc/liter air minum memberikan berbagai nutrisi pakan dalam jumlah cukup untuk membantu pertumbuhan dan penggemukan ayam broiler. Dapat juga digunakan VITERNA Plus sebagai suplemen khusus ternak dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari, yang mempunyai kandungan nutrisi lebih banyak dan lengkap.
Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio). Cara menghitungnya adalah, jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.
Contoh perhitungan : Diketahui ayam yang dipanen 1000 ekor, berat rata-rata 2 kg, berat pakan selama pemeliharaan 3125 kg, maka FCR-nya adalah :
Berat total ayam hasil panen = 1000 x 2 = 2000 kg
FCR = 3125 : 2000 = 1,6
Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena lebih efisien (dengan pakan sedikit menghasilkan bobot badan yang tinggi). Penggunaan POC NASA atau VITERNA Plus dapat menurunkan angka FCR tersebut.
3.  Vaksinasi
Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami. Vaksinasi penting yaitu vaksinasi ND/tetelo. Dilaksanakan pada umur 4 hari dengan metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan pada umur 21 hari dengan vaksin ND Lasotta melalui suntikan atau air minum.

4. Penyakit Pada Ayam Broiler
i. Tetelo (Newcastle Disease/ND).
Disebabkan virus Paramyxo yang bersifat menggumpalkan sel darah. Gejalanya ayam sering megap-megap, nafsu makan turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat. Setelah 1 – 2 hari muncul gejala syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan ayam berputar-putar yang akhirnya mati. Ayam yang terserang secepatnya dipisah, karena mudah menularkan kepada ayam lain melalui kotoran dan pernafasan. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk mengurangi kematian, ayam yang masih sehat divaksin ulang dan dijaga agar lantai kandang tetap kering.
ii. Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD).
Merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan Reovirus. Gejala diawali dengan hilangnya nafsu makan, ayam suka bergerak tidak teratur, peradangan disekitar dubur, diare dan tubuh bergetar-getar. Sering menyerang pada umur 36 minggu. Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air minum dan peralatan yang tercemar. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, yang dapat dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin Gumboro.
iii. Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease).
Merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum Gejala yang nampak adalah ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare dengan kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan melalui pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai. .
iv.Berak Kapur (Pullorum).
Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum. Kematian dapat terjadi pada hari ke-4 setelah infeksi. Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan sanitasi kandang. Infeksi bibit penyakit mudah menimbulkan penyakit, jika ayam dalam keadaan lemah atau stres. Kedua hal tersebut banyak disebabkan oleh kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca yang jelek. Cuaca yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang terlalu panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara drastis. Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus sukar untuk disembuhkan.
Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan ventilasi kandang yang baik. Pemberian multi-vitamin yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan ayam, ketahanan tubuh ayam, mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran. Asam-asam amino utama seperti Arginin, Histidin, Isoleucine, Lycine, Methionine , Phenylalanine, Threonine, Thryptophan, dan Valine sebagai penyusun protein untuk pembentukan sel, jaringan, dan organ tubuh Vitamin-vitamin lengkap, yaitu A, D, E, K, C dan B Komplek untuk kesehatan dan ketahanan tubuh.
5. Sanitasi/Cuci Hama Kandang

Sanitasi kandang harus dilakukan setelah panen. Dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu pencucian kandang dengan air hingga bersih dari kotoran limbah budidaya sebelumnya. Tahap kedua yaitu pengapuran di dinding dan lantai kandang. Untuk sanitasi yang sempurna selanjutnya dilakukan penyemprotan dengan formalin, untuk membunuh bibit penyakit. Setelah itu dibiarkan minimal selama 10 hari sebelum budidaya lagi untuk memutus siklus hidup virus dan bakteri, yang tidak mati oleh perlakuan sebelumnya.

Selasa, 22 Agustus 2017

Membuat Pakan Alternatif Ternak Ruminansia






Salah satu aspek yang menentukan kesuksesan dalam usaha budidaya hewan ternak ruminansia (Sapi, Kerbau, Kambing) adalah ketersediaan pakan dalam jumlah yang cukup dan berkualitas. Agar hewan ternak produktifitasnya tinggi maka pakan yang diberikan harus bergizi dan cukup, serta harganya juga terjangkau. Masing-masing lokasi atau daerah memiliki potensi ketersediaan pakan yang berbeda-beda. Pakan ternak ruminansia terdiri dari pakan hijauan dan konsentrat. Ketersediaan pakan ternak seringkali fluktuatif baik jumlah maupun harga. Oleh karena itu, para peternak harus bisa memanfaatkan potensi SDA yang ada sekitar lokasi kandang sebagai pakan alternatif. Pakan alternatif tersedia dalam jumlah melimpah dengan harga yang murah, sehingga lebih efesien karena dapat menekan biaya produksi. Pakan ternak alternatif dapat dengan memanfaatkan dan mengembangkan limbah hasil pertanian dan perkebunan yang memiliki kandungan nutrisi tinggi antara lain; jerami padi, jerami jagung, limbah sayuran, limbah kelapa sawit, limbah tebu dan limbah kakao. Jagung dan dedak (padi) adalah salah contoh bahan baku yang tersedia cukup memadai tetapi belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak. Limbah hasil pertanian dan perkebunan cukup tersedia di Indonesia, namun potensinya belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak. Pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan sebagai pakan ternak baru mencapai 30-40% dari potensi yang tersedia saat ini.
Permasalahan yang dihadapi dalam menggunakan pakan limbah pertanian dan perkebunan terdiri dari faktor pengetahuan peternak, kualitas pakan limbah pertanian dan perkebunan dan faktor lingkungan (cemaran). Untuk mengatasi kendala tersebut diperlukan dukungan teknologi dan sosialisasi tentang pemanfaatan limbah hasil pertanian sebagai pakan ternak secara berkesinambungan.
Mutu pakan limbah hasil pertanian dan perkebunan dapat ditingkatkan dengan beberapa pendekatan, diantaranya melalui pengolahan (pretreatment) limbah hasil pertanian, suplementasi pakan dan pemilihan limbah pertanian/perkebunan. Pengolahan limbah hasil pertanian dilakukan dengan metoda fisik, kimia, biologis maupun kombinasinya. Bahan suplementasi diantaranya adalah leguminosa, kacang-kacangan maupun sisa pengolahan industri pertanian. Seleksi jenis limbah tanaman perlu pula dilakukan untuk mengurangi efek samping terhadap kesehatan ternak dan keamanan produknya. Seleksi dapat dilakukan dengan mengetahui terlebih dahulu mutu nutrisi pakan limbah pertanian/perkebunan, kandungan toksin dan/atau antinutrisi di dalam tanaman dan cemaran berbahaya pada tanaman. Limbah hasil pertanian organik merupakan alternatif yang dapat diterapkan untuk mendapatkan pakan limbah karena mampu mengurangi resiko terjadinya residu bahan beracun berbahaya pada produk ternak serta mengurangi ancaman terhadap kesehatan ternak.
Ketersediaan dan kontinyuitas bahan baku pakan ternak sapi sering kali menjadi kendala dalam budidaya sapi. Selain penyebarannya yang tidak merata, pemanfaatan bahan baku pakan ternak masih sangat terbatas. Dalam budidaya sapi, faktor-faktor yang perlu diketahui oleh peternak adalah tentang ketersediaan bahan baku pakan lokal, komposisi kimiawi bahan pakan, pengolahan, penyusunan ransum dan kebutuhan akan dibahas dalam makalah ini.
Beberapa jenis limbah hasil pertanian dan perkebunan cukup tersedia di berbagai daerah Indonesia, namun potensi limbah tersebut untuk digunakan sebagai pakan ternak belum dikembangkan secara optimal. Potensi ketersediaan beberapa limbah pertanian dan perkebunan yang dapat digunakan sebagai pakan ternak antara lain adalah:

1. Jerami padi
Jerami padi merupakan limbah hasil pertanian yang sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Ketersediaan jerami padi cukup melimpah di Indonesia. Namun demikian, pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak belum optimal karena rendahnya kandungan protein kasar (3 – 4%) dan tingginya kandungan serat kasar (32 – 40%) sehingga memiliki tingkat kecernaan yang rendah yaitu berkisar antara 35 – 37%. Rendahnya nilai gizi dan daya cerna bahan kering jerami padi maka inovasi teknologi sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas jerami padi sebagai pakan ternak baik secara kimiawi, fisik dan biologis. Proses fermentasi jerami padi merupakan salah satu pendekatan secara biologis untuk meningkatan kualitas pakan jerami padi. Proses ini menggunakan biostarter untuk mempercepat peningkatan kualitas pakan dan untuk penyimpanan jangka panjang. Bahan biostarter yang umum digunakan adalah mikroorganisme (bakteri asam laktat: Lactobacillus sp.) dan jamur (Aspergillus niger).
Proses fermentasi dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap pengeringan dan penyimpanan. Proses fermentasi dapat dipercepat dengan penambahan urea untuk disimpan (dibiarkan) selama 21 hari sebelum digunakan sebagai pakan ternak. Jerami padi yang telah difermentasi memiliki penampilan bewarna coklat dengan tekstur yang lebih lunak. Kandungan nutrisi yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa fermentasi serta memiliki nilai gizi yang sebanding dengan rumput gajah. Beberapa penelitian melaporkan bahwa bahwa kandungan protein kasar pada jerami padi fermentasi meningkat dari 5,36% menjadi 6,78% yang sekaligus menurunkan kadar ADF dan NDF masing-masingnya mencapai 63,91% dan 66,03%. Kandungan protein tersebut ternyata cukup untuk memenuhi kebutuhan sapi potong. Untuk memperbaiki daya cerna pakan, energi metabolik dan daya cerna, maka pakan jerami padi fermentasi dapat ditambahkan beberapa bahan kimia seperti urea. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa proses fermentasi dapat menurunkan kandungan residu pestisida golongan organokhlorin (OC) maupun organofosfat (OP), yang mana keberadaan residu pestisida dalam pakan dapat membahayakan kesehatan ternak dan produk ternak yang dihasilkan.

2. Limbah kelapa sawit
Indonesia memiliki lahan kelapa sawit yang cukup luas tersebar di Sumatera, Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi, dll. Bagian-bagian tanaman dari kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak terdiri dari daun, pelepah, lumpur, bungkil, dan bungkil inti sawit. Proses pengolahan kelapa sawit menghasilkan limbah bungkil sawit. Bungkil sawit sangat potensial dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi karena kandungan nutrisinya masih cukup baik. Pada umumnya produk samping yang diperoleh dari industri kelapa sawit dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu: (1) berasal dari kebun kelapa sawit (diantaranya pelepah dan daun) dan (2) dari pabrik pengolahan buah kelapa sawit (seperti bungkil dan lumpur). Limbah hasil pengolahan kelapa sawit juga mengandung serat kasar yang tinggi, namun kandungan protein kasar lumpur sawit dan bungkil kelapa sawit secara berurutan yaitu 14,58 % BK dan 16,33 % BK, sangat  potensial untuk digunakan sebagai bahan bakan ternak ruminansia.

3. Daun dan pelepah kelapa sawit
Daun dan pelepah kelapa sawit merupakan salah satu bahan pakan ternak yang memiliki potensi yang cukup tinggi, akan tetapi kedu abahan pakan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal oleh peternakan sapi. Produksi daun/pelepah dapat mencapai 10,5 ton pelepah kering/ha/tahun. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kandungan protein kasar pada kedua bahan pakan tersebut masing-masingnya mencapai 15% BK (daun) dan 2 – 4% BK (pelepah). Campuran kedua bahan pakan tersebut dapat meningkatkan kandungan protein menjadi 4,8%. Kedua bahan pakan tersebut mengandung lignin yang sangat tinggi dibandingkan dengan jerami padi yang hanya mengandung 13% BK. Tingginya kadar lignin di dalam pakan akan mengakibatkan rendahnya palatibilitas, nilai gizi dan daya cerna terhadap pakan. Nilai nutrisi pelepah sawit dapat ditingkatkan melalui amoniasi, penambahan molases, perlakuan alkali, pembuatan silase/pelet, perlakuan dengan tekanan uap yang tinggi dan secara enzimatis. Pemberian pakan daun kelapa sawit kepada sapi jantan dapat meningkatkan bobot badan sebesar 930 g/ekor/hari.

4. Lumpur sawit dan bungkil inti sawit
Lumpur sawit dan bungkil inti sawit adalah hasil ikutan dari pengolahan minyak kelapa sawit. Dalam proses pengolahan minyak kelapa sawit dapat diperoleh rendemen sebesar 4 – 6% lumpur sawit dan 45% bungkil inti sawit dari tandan buah segar. Setiap hektar tanaman kelapa sawit dapat menghasilkan 840 – 1246 kg lumpur sawit dan 567 kg bungkil inti sawit. Bungkil inti sawit telah lama dimanfaatkan sebagai pakan ternak untuk ruminansia dan babi yang sedang dalam masa pertumbuhan Sebaliknya lumpur sawit belum dimanfaatkan sebagai pakan ternak.  Lumpur sawit dan bungkil inti sawit dapat sebagai campuran konsentrat pakan 30-70 %, dan campuran dengan bungkil inti sawit (70%) sebagai pakan suplemen dan dapat memerikan pertambahan berat badan kambing jantan sekitar 54 – 62 g/ekor/hari dengan konversi pakan sebesar 8,1 – 9,4. Kandungan energi yang rendah dan kadar abu yang tinggi menyebabkan lumpur sawit tidak dapat digunakan secara tunggal tetapi harus dicampur dengan pakan lain. Untuk mengoptimalkan penggunan limbah pengolahan kelapa sawit yang berupa lumpur sawit dan bungkil inti sawit perlu memanfaatkan teknologi fermentasi dengan penambahan biostarter seperti Aspergillus niger.

5. Jerami jagung
Limbah jagung merupakan salah satu sumber pakan alternative yang potensial yang banyak dijumpai di Indonesia. Limbah jagung yang dimanfaatkan sebagai bahan pakan atau pakan ternak masih belum optimal berkisar 50% dari total limbah yang dihasilkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa limbah tanaman jagung belum dimanfaatkan secara optimal untuk pakan ternak, karena kualitas yang rendah dan mengandung serat kasar yang tinggi (27,8%).

Untuk meningkatkan kualitas bahan pakan jerami jagung, dapat dilakukan dengan fermentasi denga Aspergillus niger atau bakteri asam laktat.

6. Limbah tebu
Limbah utama dari tanaman tebu yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak adalah pucuk tebu/daun, molases, ampas tebu dan empulur (pith). Dari total produksi tebu dapat dihasil limbah tanaman tebu sebanyak 1,8 juta ton/tahun. Namun limbah tanaman tebu belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak. Pucuk tebu merupakan limbah tanaman yang sangat potensial untuk digunakan sebagai pakan ternak. Pemberian pucuk tebu pada sapi perah dan sapi potong dapat meningkatkan pertambahan produksi susu sebesar 2 kg susu per hari pada sapi perah dan berat badan sebesar 0,25 kg/hari pada sapi potong.
Bagas adalah limbah hasil penggilingan tebu atau hasil ekstraksi sirup tebu. Limbah ini umumnya digunakan sebagai bahan bakar dalam industri gula. Namun, bagas merupakan pakan limbah yang berkualitas rendah karena mengandung kadar ligno-selulosa yang tinggi. Intake bagas dapat ditingkatkan bila dicampur dengan 55% molases dalam ransumnya. Karena bagas merupakan bahan pembawa yang baik untuk molases, maka ransum ini akan sangat bermanfaat bila diberikan kepada ternak pada level optimum sekitar 20–30% konsentrasi ransum.
Molases adalah tetes tebu yang umumnya digunakan sebagai sumber energi dan untuk meningkatkan palatibilitas pakan basal, meningkatkan kandungan mineral Ca, P dan S, atau sebagai perekat dalam pembuatan pelet. Molases dapat memberikan hingga 80% energy metabolisibel untuk sapi potong dan pertambahan berat badan harian antara 0,7– 0,9/kg/hari pada saat persediaan rumput terbatas.

7. Limbah tanaman kakao
Tanaman coklat (Theobroma cacao, Linn.) tumbuh secara baik di daerah tropis, termasuk Indonesia. Kulit buah (pod) cokelat merupakan limbah utama dari tanaman coklat yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Limbah kulit buah kakao yang dihasilkan dapat mencapai 75,6% dari total biji kakao. Kulit buah coklat mengandung kadarprotein kasar (6 – 12%) sedikit lebih tinggi dari jerami padi, tetapi hampir setara dengan Kandungan serat kasar dalam kulit buah coklat memiliki kadar selulosa (27– 31%) dan hemiselulosa (10–13%) yang lebih rendah daripada jerami padi. Sementara itu, kadar lignin berkisar antara 12 – 19% lebih tinggi 2 – 3 kalinya dibandingkan dengan jerami padi (6%). Secara umum tingkat kecernaan kulit buah cokelat lebih rendah dibandingkan dengan jerami padi. Meskipun limbah tanaman cokelat lainnya seperti kulit biji dan lumpur kakao mengandung kadar protein kasar dan TDN yang lebih tinggi, namun produk samping tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak karena jumlah yang dihasil sangat rendah sekali.

Mengolah Limbah Menjadi Pakan Alternatif Ternak Unggas





Ransum atau pakan merupakan salah satu komponen biaya yang terbesar dalam budidaya hewan unggas berkisar 70%. Mahalnya harga pakan sering kali dikeluhkan oleh para peternak. Untuk menekan biaya pakan, kita dapat menggunakan pakan alternatif yang relatif murah, cukup bergizi, tersedia cukup banyak dan kontinu di sekitar lokasi kandang, sehingga dapat menyubstitusi pakan konsentrat.  Bahan pakan lokal sebagai sumber pakan alternatif yang biasa digunakan antara lain; bahan nabati yaitu bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang umumnya mempunyai serat kasar tinggi seperti dedak atau daun-daunan yang disukai hewan unggas seperti daun pepaya, bungkil kelapa, bungkil kedele dan bahan pakan asal kacang-kacangan yang kaya kandungan proteinnya

a. Sumber Pakan Nabati
1. Dedak halus
Dedak merupakan bahan yang diperoleh dari  limbah penggilingan padi kemudian dihaluskan yang sudah umum digunakan sebagai bahan campuran makanan unggas. Dedak halus memiliki  kandungan protein berkisar 10,1 % – 13,6 %, kandungan lemaknya mencapai 13%, dan serat kasarnya kurang lebih 12%. Penggunaan dedak halus dalam pakan ayam buras tidak dianjurkan melebihi 45%.

2. Jagung
Jagung merupakan produk pertanian yang telah banyak dimanfaatkan, sebagai produk pangan maupun pakan ternak. Jagung merupakan sumber pakan ternak berprotein tinggi yang diformulasi dengan bahan-bahan lain menjadi pakan konvensional berupa pellet, yang telah banyak dipasarkan kepada peternak lokal maupun sebagai komoditas ekspor. Adanya pakan yang murah, mudah pengolahannya dan bermutu (gizi) tinggi merupakan peluang bagi para peternak ayam buras untuk melakukan efesiensi biaya pakan.

3. Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa dihasilkan dari limbah pembuatan minyak kelapa. Bungkil kelapa dapat digunakan sebagai salah satu penyusun ransum pakan ternak karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi mencapai 21,5 % dan energi metabolis 1540 - 1745 Kkal/Kg. Tetapi bungkil kelapa memiliki kandungan lemak yang cukup tinggi mencapai 15%, sehingga mudah rusak terkontaminasi jamur dan tengik. Oleh karena itu penggunaan bungkil kelapa dianjurkan tidak melebihi 20% sebagai penyusun ransum.

4. Singkong
Singkong adalah tanaman tropis yang banyak tersebar di seluruh Indonesia. Produksi singkong Indonesia adalah nomer tiga di dunia. Singkong telah banyak diolah menjadi produk pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Singkong memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternative ayam buras yang dipelihara secara intensif. Singkong dapat diberikan dalam bentuk mentah (segar) ataupun setelah melalui pengolahan misalnya gaplek atau tepung singkong. Penggunaan tepung gaplek atau tepung singkong dalam ransum dianjurkan tidak melebihi dari 40%.

5. Bungkil kedelai.
Bungkil kedelai dihasilkan dari limbah pembuatan minyak kedelai. Bungkil kedelai memiliki kandungan protein kurang lebih 42,7% dan kandungan energi metabolisme mencapai 2240 Kkal/Kg, kandungan serat kasarnya rendah kurang lebih 6%. Penggunaan bungkil kedelai dalam ransum ayam dianjurkan tidak melebihi 40%. Bungkil kedelai memiliki kandungan methionisne rendah, namun  kekurangan methionisme dapat dipenuhi dengan menggunakan tepung ikan atau methionisme buatan pabrik. Kacang kedelai mentah tidak dianjurkan untuk dipergunakan sebagai pakan ayam karena kacang kedelai mentah mengandung beberapa trypsin, yang tidak tahan terhadap panas, karena itu sebaiknya kacang kedelai diolah lebih dahulu.

b. Bahan Pakan Hewani.
Bahan pakan hewani memiliki kandungan gizi yang tinggi terutama protein. Beberapa bahan sumber pakan asal hewani yang biasanya digunakan sebagai penyusun ransum antara lain adalah; bekicot, serangga, cacing, tepung ikan, tepung tulang, tepung udang dan tepung kerang. Saat ini, banyak dibudidayakan sebagai bahan pakan alternatif yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein pada ransum ayam.


1. Tepung Ikan.
Tepung ikan merupakan bahan pakan yang memiliki sumber protein  tinggi. Tepung ikan umumnya berasal dari sisa-sisa pengolahan ikan yang tidak terpakai. Kandungan gizi tepung ikan  berbeda-beda, sesuai dengan jenis ikannya. Tepung ikan yang berasal dari sisa industri ikan kalengan atau limbah tangkapan nelayan yang dijemur dengan panas matahari mempunyai kandungan protein kasar berkisar 50 -55%. Selain sebagai sumber protein dengan asam amino yang baik, tepung ikan juga merupakan sumber mineral dan vitamin. Harganya yang cukup mahal, maka penggunaan tepung ikan sebaiknya tidak lebih dari 10 %, hal ini dimaksudkan agar lebih efesien.

2. Tepung Udang
Tepung udang merupakan bahan pakan alternatif yang memiliki kandungan protein cukup tinggi yaitu berkisar 43 – 47%. Umumnya, tepung udang berasal dari limbah industri udang, dan kualitas gizinya tergantung dari bagian yang tergiling. Apabila bagian kepala dan kaki ikut tergiling tentu kualitasnya lebih baik daripada hanya kulit udangnya saja.

3. Tepung Tulang
Tepung tulang digunakan sebagai sumber mineral. Tepung tulang umumnya mengandung Calcium antara 24 - 25% dan Phospor antara 12-15%. Karena sifatnya sebagai pelengkap, pemakaian tepung tulang hanya sedikit.

4. Tepung Kerang
            Tepung kerang merupakan sumber Calcium dengan kandungan Calcium-nya mencapai hampir 36%. Peternak dapat memanfaatkan tepung kerang ini sebagai  alternative sumber Calcium untuk ransum, jika ketersediaannya melimpah dan murah.  

5. Bekicot
Bekicot merupakan bahan pakan hewani yang mudah diperoleh di sekitar kita dan mudah membudidayakannya.  Daging bekicot dapat diberikan sebagai pakan ayam, baik dalam bentuk basah segar, kering, atau dalam bentuk tepung. Untuk mengolah bekicot menjadi pakan ayam yaitu dengan merendam daging bekicot dalam larutan air dengan perbandingan 1 liter air 75 gr garam dapur selama 15 menit. Kemudian daging bekicot dicuci kemudian masukkan ke dalam air mendidih selama 20 menit sampai masak. Penggunaan daging bekicot sebagai pakan ayam dianjurkan tidak melebihi 10%.

Untuk meningkatkan mutu pakan alternatif dapat dilakukan dengan melalakukan fermentasi dengan menggunakan mikroba Lactobacillus sp atau Aspergillus niger.

Teknik Budidaya Belut






       Belut adalah salah satu komoditas perikanan semakin diminati seiring dengan berkembangnya kuliner belut, dan olahan seperti keripik belut, dan lain-lain. Rasanya yang gurih dan special membuat olahan belut permintaannya semakin meningkat dan harganya pun cukup mahal. Saat ini, pasokan belut untuk industri olahan belut dan kuliner masih kekurangan. Tingkat produksi masih cukup rendah. Dan tidak menutup kemungkinan pasar ekspor sangat potensial. Hal ini merupakan peluang bisnis yang menjanjikan baik sector budidaya belut atau produk olahan belut. Namun, untuk berbisnis olahan belut penting sekali untuk melakukan budidaya sendiri, sehingga produksi bisa dilakukan secara kontinue dan dapat berkembang ke depannya. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahi bagamana cara budidaya belut.
Beternak belut sebenarnya tidak susah karena belut dapat dibudidayakan di kolam, terpal, atau drum. Belut akan cepat besar jika medianya cocok sehingga dalam budidaya belut harus diperhatian. Media yang baik untuk beternak belut di kolam dan drum adalah lumpur kering, kompos, jerami padi, pupuk TSP, dan mikroorganisme starter. Peletakkannya diatur: bagian dasar kolam dilapisi jerami setebal 50 cm. Di atas jerami disiramkan 1 liter mikroorganisma stater. Berikutnya kompos setinggi 5 cm. Media teratas adalah lumpur kering setinggi 25 cm yang sudah dicampur pupuk TSP sebanyak 5 kg.
Karena belut tetap memerlukan air maka dalam beternak belut dalam kolam dan drum ini sebagai habitat hidupnya, kolam diberi air sampai ketinggian 15 cm dari media teratas. Jangan lupa tanami eceng gondok sebagai tempat bersembunyi belut. Eceng gondok harus menutupi ¾ besar kolam. Bibit belut yang ingin diternakkan tersebut tidak serta-merta dimasukkan. Media dalam kolam perlu didiamkan selama 2 minggu agar terjadi fermentasi. Media yang sudah terfermentasi akan menyediakan sumber pakan tambahan untuk ternak belut nantinya secara alami seperti jentik nyamuk, zooplankton, cacing, dan jasad-jasad renik. Setelah itu baru bibit belut yang akan diternakkan dimasukkan.
Sifat kanibalisme dalam beternak belut di kolam dan drum yang dimiliki Monopterus albus itu tidak terjadi selama pembesaran. Asal, pakan dalam budidaya belut tersebut tersedia dalam jumlah cukup. Saat masih anakan belut tidak akan saling mengganggu. Sifat kanibal muncul saat belut berumur 10 bulan, ujarnya. Sebab itu tidak perlu khawatir memasukkan bibit dalam jumlah besar hingga ribuan ekor. Dalam 1 kolam berukuran 5 m x 5 m x 1 m, saya dapat memasukkan hingga 9.400 bibit, katanya.
Pakan yang diberikan agar budidaya belut haruslah segar dan hidup, seperti ikan cetol, ikan impun, bibit ikan mas, cacing tanah, belatung, dan bekicot. Pakan diberikan minimal sehari sekali di atas pukul 17.00. Untuk menambah nafsu makan dapat diberi temulawak Curcuma xanthorhiza. Sekitar 200 g temulawak ditumbuk lalu direbus dengan 1 liter air. Setelah dingin, air rebusan dituang ke kolam pembesaran. Pilih tempat yang biasanya belut bersembunyi, Pelet ikan dapat diberikan sebagai pakan selingan untuk memacu pertumbuhan belut yang dibudidayakan. Pemberiannya ditaburkan ke seluruh area kolam. Tak sampai beberapa menit biasanya anakan belut segera menyantapnya. Pelet diberikan maksimal 3 kali seminggu. Dosisnya 5% dari bobot bibit yang ditebar. Jika bibit yang ditebar 40 kg, pelet yang diberikan sekitar 2 kg.
Hama utama dalam budidaya belut di kolam dan drum adalah kehadiran hama seperti burung belibis, bebek, dan berang-berang perlu diwaspadai. Mereka biasanya spontan masuk jika kondisi kolam dibiarkan tak terawat. Kehadiran mereka sedikit-banyak turut mendongkrak naiknya pH karena kotoran yang dibuangnya. Hama bisa dihilangkan dengan membuat kondisi kolam rapi dan pengontrolan rutin sehari sekali, Perlu diingat selain pakan, yang perlu diperhatikan dalam budidaya belut di kolam atau drum adalah kualitas air. Bibit belut menyukai pH 5-7. Selama pembesaran, perubahan air menjadi basa sering terjadi di kolam. Air basa akan tampak merah kecokelatan. Penyebabnya antara lain tingginya kadar amonia seiring bertumpuknya sisa-sisa pakan dan dekomposisi hasil metabolisme. Belut yang hidup dalam kondisi itu akan cepat mati. Untuk mengatasinya, pH air perlu rutin diukur. Jika terjadi perubahan, segera beri penetralisir. Suhu air optimal untuk beternak belut perlu dijaga agar tetap pada kisaran 26-28oC.


Teknik Budidaya Bebek






Bebek atau itik adalah salah satu hewan unggas yang saat ini kian naik daun. Daging bebek memiliki cita rasa yang nikmat dan khas sehingga banyak diminati oleh pecinta kuliner Indonesia. Saat ini telah bermunculan kuliner daging bebek yang cukup banyak peminatnya dari warung makan kelas lesehan hingga restoran papan atas. Selain sebagai penghasil daging, bebek juga produktif menghasilkan telor yang memiliki kandungan gizi tinggi. Telor bebek banyak diolah menjadi telor asin yang gurih dan nikmat rasanya, atau sebagai bahan campuran membuat makanan seperti kue, martabak dan lain-lain. Tingkat permintaan daging bebek dan telor bebek semakin tinggi, seiring dengan menjamurnya kuliner bebek dan popularitas telor asin sebagai hidangan lauk pauk atau oleh-oleh. Rendahnya pasokan telor bebek di pasaran menyebabkan harga telor bebek mentah cukup tinggi berkisar Rp.1800 – Rp.2000.
Meningkatnya permintaan daging bebek dan telor bebek adalah merupakan peluang bisnis yang patut dilirik. Usaha budidaya bebek relatif mudah dan tidak memerlukan modal yang terlalu besar dapat dimulai dari 100 -500 ekor sudah cukup lumayan untuk tambahan pendapat. Namun, apabila kiat ingin berinvestasi lebih besar dengan harapan mendapatkan laba yang lebih besar, maka budidaya bebek perlu dilakukan secara intensif yaitu dengan pembuatan kandang yang representatif, pakan yang cukup dan berkualitas, serta manajamen perawatan yang baik.
Untuk melakukan budidaya bebek ada baiknya kita mengenal jenis-jenis bebek antara lain yaitu: a) Bebek petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Orpington); b) Bebek pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga; c) Bebek ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India, Call (Grey Call), Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood. Sedangkan Jenis bebek unggul yang banyak dibudidayakan di Indonesia anatara lain adalah bebek tegal, bebek khaki campbell, bebek alabio, bebek mojosari, bebek bali.
Langkah awal untuk melakukan budidaya bebek adalah dengan menentukan lokasi kandang. Lokasi kandang yang perlu diperhatikan adalah jauh dari keramaian/pemukiman penduduk, mempunyai letak transportasi yang mudah dijangkau dari lokasi pemasaran dan kondisi lingkungan kandang mempunyai iklim yang kondusif bagi produksi ataupun produktivitas ternak. Itik serta kondisi lokasi tidak rawan penggusuran dalam beberapa periode produksi. Langkah berikutnya adalah menyiapkan Sarana dan Peralatan kandang. Persyaratan temperatur kandang ± 39°C. Kelembaban kandang berkisar antara 60-65%. Penerangan kandang diberikan untuk memudahkan pengaturan kandang agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian kandang.
Model atau tipe kandang ada 3 (tiga) jenis, yaitu: a). Kandang untuk anak itik (DOD) pada masa stater bisa disebut juga kandang box, dengan ukuran 1 mx 1 m mampu menampung 50 ekor DOD; b) Kandang Grower (untuk itik remaja) disebut model kandang Ren/kandang kelompok dengan ukuran 16-100 ekor perkelompok; c) Kandang layar ( untuk itik masa bertelur) modelnya bisa berupa kandang baterei ( satu atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga berupa kandang lokasi ( kelompok) dengan ukuran setiap meter persegi 4-5 ekor itik dewasa ( masa bertelur atau untuk 30 ekor itik dewasa dengan ukuran kandang 3 x 2 meter). Kondisi kandang tidak harus dari bahan yang mahal tetapi cukup sederhana asal tahan lama (kuat) seperi bambu atau kayu-kayu bekas. Perlengkapan kandang yang diperlukan antara lain adalah: tempat makan, tempat minum, alat sanitasi, dan lain-lain.
Langkah selanjutnya adalah dilakukan pemilihan bibit. Pemilihan bibit dan calon induk. Ada 3 (tiga) cara memperoleh bibit itik yang baik, yaitu sebagai berikut :a) Membeli telur tetas dari induk itik yang dijamin keunggulannya; b) Memelihara induk itik yaitu pejantan + betina unggul untuk mendapatkan telur tetas kemudian meletakannya pada mentok, ayam atau mesin tetas;c) Membeli DOD (Day Old Duck) dari pembibitan yang sudah dikenal mutunya maupun yang telah mendapat rekomendasi dari Dinas Peternakan setempat. Ciri DOD yang baik adalah tidak cacat (tidak sakit) dengan warna bulu kuning mengkilap. Perawatan bibit dan calon induk. Perawatan Bibit. Bibit (DOD) yang baru saja tiba dari pembibitan, hendaknya ditangani secara teknis agar tidak salah rawat. Adapun penanganannya sebagai berikut: Bibit diterima dan ditempatkan pada kandang brooder (indukan) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam brooder adalah temperatur brooder diusahakan yang anak itik tersebar secara merata, kapasitas kandang brooder (box) untuk 1 m² mampu menampung 50 ekor DOD, tempat pakan dan tempat minum sesuai dengan ketentuan yaitu jenis pakan itik fase stater.
Langkah berikutnya yang tak kalah penting adalah perawatan calon Induk. Calon induk itik ada dua macam yaitu induk untuk produksi telor konsumsi dan induk untuk produksi telur tetas. Perawatan keduanya sama saja, perbedaannya hanya pada induk untuk produksi telor tetas harus ada pejantan dengan perbandingan 1 jantan untuk 5 – 6 ekor betina. Untuk mendapatkan bibit baru maka penting sekali mengetahui bagaimana manajemen reproduksi hewan unggas bebek. Reproduksi atau perkembangbiakan dimaksudkan untuk mendapatkan telur tetas yang fertil/terbuahi dengan baik oleh itik jantan. Sedangkan sistem perkawinan dikenal ada dua macam yaitu itik hand mating/pakan itik yang dibuat oleh manusia dan nature mating (perkawinan itik secara alami).
            Teknik pemeliharaan adalah aspek penting dikuasai dalam usaha budidaya bebek secara intensif. Beberapa hal yang perlu dilakukan adalah: Sanitasi dan Tindakan Preventif
Sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan itik dan tindakan preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk mewaspadai timbulnya penyakit.
Pengontrol penyakit dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. Cacat dan tangani secara serius bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik.
Sedangkan untuk pemberian pakan itik juga harus dilakukan dengan jumlah yang tepat dan kualitas pakan yang sesuai untuk pertumbuhan dan masa produksi. Pemberian pakan untuk bebek meliputi tiga fase, yaitu fase stater (umur 0–8 minggu), fase grower (umur 8–18 minggu) dan fase layar (umur 18–27 minggu). Pakan ketiga fase tersebut berupa pakan jadi dari pabrik (secara praktisnya) dengan kode masing-masing fase. Cara memberi pakan tersebut terbagi dalam empat kelompok yaitu: 1) Umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder) 2) Umur 16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai; 3) Umur 21 hari samapai 18 minggu disebar dilantai;4). Umur 18 minggu–72 minggu, ada dua cara yaitu : 7 hari pertama secara pakan peralihan dengan memperhatikan permulaan produksi bertelur sampai produksi mencapai 5%. Setelah itu pemberian pakan itik secara ad libitum (terus menerus). Dalam hal pakan itik secara ad libitum, untuk menghemat pakan biaya baik tempat ransum sendiri yang biasa diranum dari bahan-bahan seperti jagung, bekatul, tepung ikan, tepung tulang, bungkil.
Masa panen adalah masa yang ditunggu-tunggu, setelah bebek memasuki masa panen dengan bobot yang dikendaki pasar, maka dapat segera dipanen dengan menimbangnya dan memasarkan. Jika panen yang diharapkan adalah telor bebek, telor bebek setiap hari dapat diambil dan ditampung dengan menggunakan wadah peti atau ember, pisahkan telor cacat atau pecah. Selamat mencoba berwirausaha..


Teknik Budidaya Udang Galah





Udang galah adalah jenis udang air tawar yang memang memiliki potensi pasar yang cukup besar karena banyak diminati oleh konsumen baik dalam negeri maupun luar negeri. Udang galah memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dengan harga jual mencapai Rp.80.000 per Kg. Ini menjadi daya tarik yang tinggi bagi para peminat bisnis sektor perikanan di Indonesia. Beberapa pasar luar negeri di antara nya adalah pasar Eropa, Jepang, dan beberapa negara lainnya. Harga jual yang cukup tinggi menyebabkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan budidaya ikan air tawar seperti lele, patin, emas, nila, dan lain-lain. Pasar udang galah masih terbuka cukup labar, sehingga merupakan peluang bisnis yang cukup menggiurkan. 
     Budidaya udang galah tidak sulit, hanya saja butuh ketelatenan dan ketekunan. Budidaya udang galah bisa dilakukan di kolam ataupun tambak darat.  Budidaya udang galah sudah meluas di berbagai daerah, di antaranya; Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Bali. Untuk menunjang keberhasilan kegiatan/usaha budidaya maka dibutuhkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan skala usaha yang dimiliki oleh pembudidaya.
Tahapan memulai budidaya udang galah adalah:
1. LOKASI BUDIDAYA
Perencanaan pembangunan wadah budidaya harus memenuhi persyaratan antara lain; kawasan bebas banjir dan pencemaran, jenis tanah liat berpasir, kolam dibuat pada ketinggian 0-700 meter dpl. Air tersedia sepanjang tahun, bebas polusi, sirkulasi air harus bagus, bebas pencemaran, bebas polusi. Debit air yang dianjurkan 0,5-1 liter per detik untuk luasan kolam 300-1.000 m2.
2. BAHAN DAN ALAT
Seperti budidaya di kolam pada umumnya, peralatan yang umum digunakan antara lain; alat pengangkut benih, serok, ember, seser, timbangan, Ayakan halus dari kain, cangkul.
3. PENGELOLAAN AIR
Sirkulasi air yang baik memegang peranan penting dalam pelaksanaan pembesaran udang galah. Sebaiknya air dikolam harus mengalir. Untuk kolam pemeliharaan dengan media yang tidak mengalir kualitas air cenderung menurun setelah satu bulan masa pemeliharaan. Untuk mengatasinya dapat dilakukan penggantian air sebanyak 30-50% dengan air yang baru. C, dengan pH 6,5-8,5. Oksigen°Suhu optimum yang diperlukan adalah 28-30 terlarut minimal adalah 4 ppm, diperlukan juga Ca minimal 52 ppm dan salinitas 0-5 ppt.
4. PENCEGAHAN HAMA DAN PENYAKIT
Adanya hama dan penyakit ditentukan dengan pemeriksaan yang dilakukan secara visual terhadap organisme pengganggu baik yang bersifat predator maupun kompetitor.
Hama yang sering mengganggu dikolam pemeliharaan adalah ikan-ikan liar yang masuk tanpa sengaja seperti ikan gabus, lele dan lain-lain. Untuk mencegah masuknya hama pemangsa tersebut perlu dibuat saringan pada pintu pemasukan dan pengeluaran air kolam berupa hapa yang terbuat dari jaring dengan mesh size 0,2 mm.
Dalam proses pembesaran diperlukan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebagai berikut:
  1. Pengambilan contoh untuk pengujian kesehatan udang galah (Macrobrachium rosenbergii) dilakukan secara acak dengan jumlah udang sesuai dengan kebutuhan untuk pengamatan visual maupun mikroskopik.
  2. Pengamatan visual dilakukan untuk pemeriksaan adanya gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi udang galah (Macrobrachium rosenbergii) .
  3. Pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad pathogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium.
Penyakit yang sering menyerang adalah udang berlumut yang disebabkan kedalaman air di kolam kurang memadai dengan sirkulasi yang kurang baik, untuk mengatasi masalah dengan sirkulasi air bisa dipasang kincir angin.

5. MASA PANEN UDANG GALAH
Udang galah dapat dipanen setelah 4 bulan, 6 bulan, atau bahkan lebih, sesuai dengan ukuran udang yang dibutuhkan oleh konsumem. Biasanya udang galah dapat mulai dijual setelah mencapai ukuran 20 – 25 gram/ekor, tetapi semakin besar ukuran udang harganya juga semakin mahal.


Teknik Budidaya Ikan Lele






Potensi Pasar Produk Ikan Lele
Ikan lele adalah salah satu komoditas perikanan yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai produk unggulan. Ikan lele memiliki pangsa pasar yang sangat luas baik lokal maupun manca negara. Kini, kuliner ikan lele di Indonesia kian berkembang  seperti pecel lele, pecak lele, dan lain-lain. Ikan lele juga telah banyak diolah menjadi aneka olahan seperti  sosis, nugget, fillet yang yang banyak diminati konsumen. Berkembangnya kuliner ikan lele dan aneka produk olahan lele memacu meningkatnya permintaan ikan lele.  Hal ini menjadi peluang bisnis yang prospektif pengembangan usaha budidaya ikan lele di Indonesia.
Di Indonesia budidaya ikan lele berkembang cukup pesat. Lele merupakan jenis ikan tawar yang relatif mudah dibudidayakan, pertumbuhannya cepat, relatif tahan penyakit. Ikan lele dapat dibudidayakan di kolam tanah atau dengan menggunakan terpal. Dengan pengembangan usaha budidaya ikan lele secara intensif tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejhateraan masyarakat dan meningkatkan perekonomian nasional. Usaha budidaya ikan lele juga relatif sederhana dan mudah serta membutuhkan investasi yang tidak terlalu tinggi sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai program pengembangan ekonomi kerakyatan.

Teknik Budidaya Ikan Lele
Budidaya ikan lele dengan menggunakan terpal merupakan upaya terobosan untuk pembudidayaan secara intensif di lahan terbatas air atau lahan yang kurang mendukung untuk pembuatan kolam ikan. Budidaya ikan lele dengan menggunakan terpal sangat efektif dan efesien dan hasilnya juga memuaskan. Kelebihan memelihara ikan lele di kolam terpal antara lain: terpal mudah didapatkan, dan harganya cukup murah, kontaminasi dengan tanah yang tidak diketahui kualitasnya dapat dihindar, kontrol air mudah diatur baik dari segi kualitas maupun kuantitas air, meminimalisir hama yang sering terdapat di permukaan tanah seperti berang-berang dan sejenis bakteri, praktis dalam pemanenan lele. Kolam lele yang paling baik adalah kolam yang sesuai antara lebar kolam dengan populasi bibit lele yang ditebar. Kapasitas kolam lele adalah 100-200 ekor / m3 (1 meter panjang x 1 m lebar x 1 m tinggi air). Semua jenis lele (sangkurinag, dubo dan lainnya) dapat dipelihara di kolam terpal. Oleh karena itu budidaya  dengan menggunakan terpal sangat potensial dikembangkan untuk meningkatkan produksi ikan lele di Indonesia.
Dengan pemanfaatan teknologi bioflock yaitu pemanfaatan mikrobia untuk menetralisir kandungan nitrit pada kolam yang disebabkan oleh sisa-sisa  pakan, sehingga budidaya ikan lele dengan menggunakan terpal dapat dilakukan dengan kepadatan yang sangat tinggi. Dengan memanfaatkan mikrobia probiotik ikan lele akan lebih sehat meski dengan kepadatan yang tinggi, sehingga tingkat kematian dapat diperkecil.
Untuk melakukan budidaya ikan lelel penting sekali mengenal jenis-jenis lele. Beberapa jenis ikan lele yang banyak dibudidayakan di Indonesia antara lain adalah;   Lele Lokal (Charias Batrachus), Lele Dumbo (Clarias Gariepinus), Lele Sangkuriang, dan Lele Phyton. Jenis-jenis ikan lele tersebut sudah sangat popular dan hasilnya telah terbukti sangat produktif. Jenis-jenis ikan lele tersebut sudah cukup banyak tersebar di Indonesia, sehingga pembibitanya relatif mudah.
Setelah menentukan jenis ikan lele yang akan dibudidayakan, langkah selanjutnya adalah menyiapakan kolam. Pada proposal ini ditekankan pada usaha budidaya ikan lele dengan menggunakan kolam terpal karena dipandang lebih praktis dan fleksibel untuk diaplikasikan. Kolam ukuran 2 x 3 x 1 meter membutuhkan luas terpal 4 x 5 meter dan  kolam ukuran 4 x 5 x 1 meter membutuhkan luas terpal 6 x 7 meter.Bentuk kolam terpal dapat berupa persegi empat dengan menggunakan tiang terbuat dari bambu atau kayu berukuran tinggi kurang lebih 1.5 meter.
Cara membuat kolam terpal dapat dilakukan dengan cara membuat galian tanah setinggi 1,5 m dengan luas 4 x 5 m untuk kurang lebih 1000 ekor lele. Setelah tanah tersebut digali tekan-tekan permukaan galian hingga rata, jauhkan kerikil, bebatuan dan benda keras lainnya dari permukaan galian kolam tanah. Semprot galian tanah tersebut dengan disinfektan sebagai tindakan sanitasi. Setalah disanitasi biarkan galian kolam tersebut selama tiga hari, kemudian dipasangkan terpal sesuai ukuran. Untuk menahan terpal yang akan diisi air menjadi kolam bisa menimbunnya dengan tanah atau dipancang dengan kayu. Cara yang kedua yaitu tanpa membuat galian tanah, tapi langsung membuat kolam terpal dengan dipancang pada bagian sisi-sisinya dengan menggunakan bambu, kayu, atau besi dengan ketinggian kurang lebih 1.5 m -2 m. 
Setelah kolam disiapkan, langkah selanjutnya adalah pengadaan bibit dan pakan. Pakan merupakan faktor penting yang sangat menentukan dalam usaha budidaya ikan lele. Pakan ikan lele dapat menggunakan pelet, sisa-sisa makanan, limbah industri pangan seperti onggok sinkong, ampas tahu, bungkil dan lain-lain. Pakan ikan lele relatif mudah, hewan ini tergolong hewan yang rakus sehingga efesiensi pakan relatif mudah dilakukan. Pemberian pakan alternatif dengan memanfaatkan sisa-sisa makanan dan limbah industri pangan merupakan upaya untuk menekan biaya sehingga labanya dapat maksimal. Pemanfaatan limbah industri sebagai pakan alternatif dapat meningkatkan nilai ekonomis bagi industri pengolahan pangan yang dapat berjalan secara sinergis.

Selama pemeliharaan ikan lele penting sekali diperhatikan kesehatannya agar tidak terserang penyakit yang akan dapat menimbulkan kerugian yang signifikan. Dengan teknologi bioflock yaitu pemanfaatan mikrobia probiotik dapat memperbaiki sistem perairan di kolam sehingga ikan lele dapat bertahan dalam kepadatan yang sangat tinggi. Teknologi bioflock sangat menguntungkan sehingga telah banyak diaplikasikan oleh para peternak ikan lele. Masa panen ikan lele dapat dicapai pada usia 35 – 60 hari sesuai dengan permintaan pasar. 


Rabu, 16 Agustus 2017

Mantapnya Bisnis Ayam Kampung Super






Permintaan daging ayam kampung terus meningkat di Indonesia seiring dengan meningkatnya bisnis kuliner ayam kampong. Namun, pertumbuhan ayam kampong terbilang lama untuk mencapai masa potong yaitu berkisar 6 bulan dibandingkan dengan ayam potong ras berkisar hanya 40 hari. Hal ini kemudian mendorong para pelaku usaha peternakan ayam kampong untuk melakukan persilangan jenis ayam kampong yang pertumbuhannya cepat. Beberapa usaha yang dilakukan oleh berbagai fihak akhirnya ditemukan ayam kampong persilangan yang memiliki masa panen kurang lebih 2,5 bulan, yang kemudian disebut dengan ayam kampong super.
Ayam kampung super adalah ayam hasil persilangan antara ayam kampung dengan ayam ras jenis petelor. Jenis ayam kampung hasil persilangan tersebut memiliki pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan ayam kampung lokal sehingga orang menyebutnya ayam kampung super. Secara tampilan ayam kampung super memiliki bentuk yang hampir sama dengan ayam kampung lainnya yaitu ayam jantan memiliki ukuran lebih besar dari betina, memiliki jengger yang besar dan pial, besar dan  tegap, memiliki jalu, warna bulunya bervariasi antara lain hitam, coklat, putih, brontok dan lain-lain. Proses penyilangan tersebut adalah bertujuan untuk mendapatkan jenis ayam kampung yang memiliki produktifitas daging dan telor yang tinggi sehingga mampu memenuhi permintaan pasar yang semakin meningkat dan lebih menguntungkan karena dapat dipanen dalam waktu yang cukup singkat.
Ayam kampung super merupakan jenis unggas yang saat ini kian populer dan banyak digemari oleh para peternak karena pertumbuhannya yang cepat sehingga sangat cocok untuk dibudidayakan secara intensif. Keberadaan ayam kampung super diharapkan mampu meningkatkan pasokan daging ayam kampung di tanah air sehingga mampu memenuhi permintaan yang ada dan ke depannya diharapkan dapat dijadikan sebagai komoditas ekspor yang potensial untuk dikembangkan seiring dengan meningkatnya popularitas dan preferensi terhadap ayam kampung. Namun, disisi lain berkembangnya budidaya ayam kampung super, dirasa menjadi ancaman bagi para peternak ayam kampung asli lokal dan juga ayam potong karena dapat menjadi pesaing. Namun, anggapan semacam itu ditepis bagi sebagian fihak suatu yang berlebihan, karena tingkat permintaan daging unggas sangat tinggi sedang pasokan masih sangat rendah, selain itu pasar manca negara juga masih terbuka lebar.
Ayam kampung super bertubuh esar mirip ayam negeri sehingga bobot tubuhnya lebih besar jibandingkan dengan ayam kampung seumurya. Dalam usia 2 bulan bisa mencapai 1,5 kg. Massa panen atau umur siap potong 45 – 75 hari sudah siap untuk di konsumsi, hal ini sangat jauh berbeda dengan ayam kampung asli yang umumnya baru dapat dipanen setelah 3-6 bulan. Pertumbuhan badannya lebih cepat dari ayam kampung lainnya.  Ayam kampung super juga memiliki prilaku yang hampir sama dengan ayam kampung lainnya yaitu lebih tahan penyakit dibandingkan dengan ayam broiler, lincah, suka bertengger, berkokok, rakus makan, jinak, dan pada umur 6 bulan hingga 1,5 tahun tingkat produktifitas telornya tinggi mencapai 60-80% per hari dari total jumlah ayam betina, setelah umur 1,5 – 2 tahun menurun kurang lebih 50%. Ayam kampung super memiliki kemampuan bertelor yang terus menerus seperti ayam ras, namun tidak memiliki sifat mengeram. Telor ayam kampung super memiliki warna putih kecoklatan dan ukuran bobotnya seperti telor ayam ras, tapi telor ayam kampung super dapat tetaskan.

Saat ini ayam kampung super sudah mulai marak dibudidayakan secara intensif terutama di daerah Jawa seperti Yogyakarta, Semarang dan lain-lain. Ayam hasil persilangan (F1) tersebut mempunyai rasa dan tampilan yang diterima konsumen. Saat ini, DOC ayam kampung super sudah banyak diperdagangkan secara komersil dalam jumlah yang cukup besar oleh para peternak-peternak unggas. Di pasaran DOC ayam kampung super berkisar Rp.4200 – 4500 per ekor. Sedangkan harga jual per ekor untuk bobot 0,7 Kg – 0,8 Kg mencapai Rp.16.000. Sedangkan harga daging ayam kampung super berkisar Rp.20.000 – Rp.24.000 per Kg.    



Dapatkan bukunya di Andi Publisher