This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 24 Oktober 2017

Budidaya Kelinci






Kelinci adalah salah satu hewan ternak yang sudah umum dibudidayakan sebagai penghasil daging. Daging kelinci memiliki cita rasa gurih dan nikmat sehingga banyak diminati banyak kalangan. Berkembangnya kuliner kelinci mendorong usaha budidaya kelinci semakin berkembang di tanah air. Budidaya kelinci relative mudah, dan modalnya pun tidak terlalu besar, dan dapat dilakukan siapa saja.
1. Pembuatan Kandang Kelinci
Kandang sebagai tempat perkembangbiakan kelinci harus di simpan pada suhu 15-20 derajat celcius (idealnya 21) dengan sirkulasi udara yang lancar dan terkena sinar matahari pagi. Ukuran kandang disesuaikan dengan skala usaha, iklim, ukuran ternak kelinci dan kemudahaan dalam pengelolaan. Idealnya kandang berukuran 200 x 70 x 70 cm sudah cukup untuk menampung 12 ekor kelinci betina atau 10 ekor kelinci pejantan.
Kandang harus dibersihkan setiap hari dan selalu kering untuk menghindari timbulnya penyakit. Cara pembuatan kandang kelinci di sesuaikan dengan kebutuhan, bisa menggunakan bambu, kayu dan kawat. Silahkan baca postingan lain tentang cara membuat kandang kelinci.
#2 Pakan Kelinci
Pakan diberikan 2 kali sehari, setiap pagi dan sore hari. Pagi hari diberi makanan penguat berupa butiran pelet khusus untuk kelinci, dan pada sore hari diberi pakan hijauan (rumput atau sayuran). Pakan yang bisa diberikan pada ternak kelinci :
·         Makanan pokok terdiri dari macam-macam rumputan dan sayuran, diberikan dalam keadaan layu (tidak berair).
·         Makanan penguat terdiri dari pelet khusus untuk kelinci.
Rumputan yang tidak boleh diberikan untuk pakan kelinci : alang-alang, jelantir, rumput embun, dan dedaunan yang berbulu kasar. Formula pakan kelinci : Ampas tahu 40%, Dedak padi 40%, Tepung jagung 9%, Tepung gaplek 10%, Mineral premik 0.5%, Arang aktif 0.5%.
#3 Pemilihan Bibit Kelinci
Sebelum memilih bibit kelinci, kita harus menentukan terlebih dahulu jenis usaha apa yang akan dijalankan. Seperti yang kita ketahui, kelinci ternakan terdiri dari beragam ras dan setiap ras memiliki ciri khas tersendiri. Ada ras kelinci penghasil wool, kulit, daging dan ras kelinci hias. Ras kelinci penghasil wool : Angora
Ras kelinci penghasil daging : Chinchilla, Carolina
Ras kelinci penghasil fur (bulu dan kulit) : Silver, Rex
Ras kelinci penghasil daging dan kulit : Flemish Giant, New Zealand White
Ras kelinci hias : Polish, Nederland Dwarf, Lop
Setelah jenis usaha ditentukan, pilih bibit kelinci yang sesuai. Bibit kelinci dipilih seekor demi seekor dengan teliti untuk memastikan bibit kelinci tersebut bagus untuk dibudidayakan. Bibit kelinci yang berkualitas akan mampu menghasilkan banyak anakan. Pilih bibit yang masih muda dan masih produktif.
#4 Umur Induk Betina dan Pejantan Siap Kawin
Kelinci betina sudah mencapai umur dewasa dan siap kawin dalam waktu 5 – 6 bulan. Sedangkan kelinci jantan setelah berumur 6 – 8 bulan sudah dapat digunakan sebagai pejantan.
#5 Tanda Kelinci Betina Sudah Birahi
Ciri-ciri kelinci betina sudah birahi dan siap kawin diantaranya yaitu, dagu digosok–gosokkan pada bagian kandang, air kencingnya keruh, sikapnya gelisah, nafsu makan bekurang, kemaluannya bengkak dan berwarna merah tegas.
#6 Cara Mengawinkan Kelinci
Waktu yang baik untuk mengawinkan kelinci yaitu pada waktu pagi hari maupun sore hari, biasanya pada waktu tersebut kelinci sedang dalam keadaan subur. Cara mengawinkannya dengan memasukkan kelinci pejantan ke dalam kandang betina, tunggu sampai terjadi perkawinan 2 kali, setelah itu pejantan dikembalikan ke kandang semula. Kebuntingan bisa diketahui setelah 12-14 hari dari perkawinan dengan cara meraba perut kelinci betina, jika terasa ada bola-bola kecil berati terjadi kebuntingan. Lamanya bunting umumnya satu bulan, ada kalanya lebih atau kurang 1–2 hari. Pada masa kebuntingan, kelinci jangan diganggu atau dipindah–pindah kandang. Kelinci yang bunting harus diberi makanan yang lebih dari biasanya. Lima hari sebelum melahirkan sediakan peti berukuran 60 x 30 x 15 cm, dan beri alas berupa rumput kering atau guntingan kertas koran. Biasanya kelahiran terjadi pada waktu malam hari dengan jumlah anak 3-10 ekor, idealnya 6 ekor sesuai dengan jumlah putting kelinci betina.
#7 Penyakit Pada Kelinci
Beberapa penyakit yang biasa menyerang pada kelinci diantaranya yaitu,
1.    Kudis (scabies) – Disebabkan oleh kutu Sarcoptis scabiei yang menimbulkan gatal-gatal di kepala, kaki, hidung, bahkan bisa menjalar ke seluruh tubuh. Pencegahannya adalah dengan meningkatkan kebersihan kandang. Pengobatan dengan disuntik IVOMEX atau obat yang mengandung ivermextin dengan dosis 1 ml/ 20 kg berat tubuh.
2.    Perut kembung – Perut bengkak ini disebabkan karena salah makan atau masuk angin. Pengobatannya dengan menggunakan minyak adas 1 bag dan minyak kelapa 4 bag, dioleskan atau diminumkan.
3.    Mencert – Disebabkan oleh makanan yang kotor dan busuk. Pencegahannya dengan menggunakan pakan buatan yang ada kandungan anti biotik alami (arang aktif). Pengobatannya dengan diberi air kaldu sesudah 30 menit, diberi trisulpa dengan dosis ½ tablet atau disuntik antibiotik.
4.    Pilek – Disebabkan karena bakteri atau virus, kandang yang kotor dan kurang mendapat sinar matahari. Pengobatannya hidung yang penuh ingus disemprot dengan larutan antiseptik lalu diobati dengan antiobiotik.
5.    Kokkidiosis – Disebabkan oleh kuman parasit yang menyerang usus atau hati kelinci. Gejalanya seperti kurang nafsu makan, badan kurus dan lemes. Pengobatannya dengan obat yang mengandung Sulfa.
6.    Pasteurellosis – Disebabkan oleh kuman Pasteurella multicida yang menyerang sistem pencernaan. Pencegahannya dengan menjaga kebersihan kandang.
7.    Makan Bulu – Kelinci yang kekurangan gizi cenderung akan memakan bulunya sendiri dan bulu temannya. Pastikan anda selalu memberi pakan yang bergizi.
8.    Cacingan (pinworm) – Disebabkan karena ada cacing kecil yang hidup di usus. Cacingnya bisa masuk karena terbawa makanan. Cara pengobatannya dengan memberi obat cacing secara teratur.
9.    Favus – Disebabkan oleh jamur yang menginfeksi kulit kelinci. Pengobatan dengan mencuci bagian kulit yang infeksi lalu diberikan salep belerang (scabid cream).
10. Kanker Telinga – Disebabkan oleh adanya kutu di permukaan kulit telinga sebelah dalam. Cirinya kelinci sering menggosok-gosokkan daun telinganya. Bisa diobati dengan menggunakan obat oles pembasmi kutu yang dioleskan pada bagian telinga yang terinsfeksi.
11. Radang Paru (pneumonia) – Disebabkan oleh kuman Pasteurella multocida. Pengobatan dengan menggunakan Sulfa Strong, Penicilin yang disuntikkan.
12. Sembelit – Disebabkan karena pakan yang diberikan kekurangan air. Pengobatannya dengan memberi kelinci air minum dan pakan hijauan segar yang masih mengandung air.
13. Radang Mata – Biasanya disebabkan karena infeksi akibat terkena benda tajam, terkena denu, asap, kotoran, dan kekurangan vitamin A. Pengobatannya dengan menggunakan obat tetes yang mengandung antibiotik seperti salep Chloramphenicol
14. Kaki Bengkok – Disebabkan karena kelinci kekurangan vitamin D terutama pada masa pertumbuhannya. Pastikan anda memberi pakan yang mengandung asupan gizi protein yang cukup.
15. Kanibal – Kurangnya pakan dan air minum selain bisa menyebabkan penyakit makan bulu, parahnya bisa membuat kelinci menjadi kanibal. Mereka memakan daging antar sesamanya sampai akhirnya ada yang mati. Pencegahannya dengan memberi asupan pakan yang teratur dan bergizi.
16. Enteritis Kompleks – Penyakit pencernaan yang disebabkan karena salah makanan atau pakannya sudah terkontaminasi. Pencegahan dengan selalu memberikan pakan yang bersih dan diganti secara teratur. Pengobatannya dengan memberi air minum yang sudah dicampur dengan antibiotic.
17. Young Doe Syndrome – Biasa terjadi pada kelinci betina yang sedang menyusui diakibatkan oleh mastitis dan menyebabkan pembengakakan pada puting susu. Cara pengobatannya dengan mengisolasi dan mensuntikkan Penicilin, Oxylin, atau Sulfa Strong.
Cara paling efektif untuk mencegah timbulnya beragam penyakit pada kelinci yaitu dengan merawat kelinci dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar kandang termasuk kebersihan sangkar, tempat minum dan tempat pakan.
Hal penting yang perlu diperhatikan sebagai tindakan preventif terhadap penyakit diantaranya :
1.    Timbulnya penyakit bisa diminimalisir dengan senantiasa menjaga sanitasi kandang.
2.    Kandang jangan terlalu padat di isi kelinci.
3.    Selalu gunakan pakan yang bersih, bergizi dan berkualitas tinggi.
4.    Kandang harus punya sirkulasi udara yang baik.
5.    Ada sinar matahari yang masuk ke dalam kandang.
6.    Peralatan kandang harus dalam selalu dalam keadaan kering dan bersih.
7.    Kalau tidak ada keperluan, jangan terlalu sering memegangi kelinci ternak, pakan, air minum dan peralatan kandang.


Pengolahan Jerami Padi Sebagai Pakan Sapi





Usaha penggembukan sapi potong saat ini mulai digalakan, seiring dengan tingginya permintaan daging sapi, sedangkan pasokan masih sangat belum memadai. Sebagian pasokan daging sapi adalah impor dari negara lain. Pemerintah pun berusaha meningkatkan swasembada daging sapi, melalui program-progam pembinaan usaha budidaya sapi potong di desa-desa. Namun, masalah yang sering dihadapi dalam usaha budidaya sapi potong ketersediaan  pakan baik berupa hijauan maupun konsentrat dalam jumlah yang cukup dan berkualitas.  Produksi hijauan pakan menjadi lebih terbatas karena pertambahan penduduk yang membutuhkan lahan untuk pemukiman, perluasan lahan untuk produksi pangan dan pembangunan subsektor lainnya. Oleh sebab itu penyediaan pakan memerlukan pengolahan limbah pertanian yang relatif sederhana untuk mendukung ketersediaan pakan sepanjang tahun.
Jerami padi merupakan limbah pertanian yang tersedia dalam jumlah cukup banyak dibanding dengan limbah pertanian lainnya, serta mudah diperoleh untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan sebagian menjadi kompos.  Ternak sapi  yang menkonsumsi jerami padi menghasilkan  kotoran (pupuk kandang), yang nantinya apabila dikelola secara baik, akan menjadi pupuk organik dan akan  bermanfaat optimal bagi tanaman. Jerami padi dapat digunakan untuk pakan sapi potong dewasa sebanyak 2-3 ekor sepanjang tahun.  Sehingga pada lokasi yang mampu panen 2 kali setahun akan tersedia pakan berserat untuk 4 – 6 ekor sapi.    
Hambatan pemanfaatan jerami padi secara luas sebagai sumber pakan ternak adalah rendahnya nilai nutrisi bila dibandingkan dengan hijauan pakan.  Untuk mengatasi hal tersebut, maka dapat diperbaiki dengan teknologi untuk meningkatkan nilai gizi jerami padi. Cara  yang relatif murah, praktis dan hasilnya sangat disukai ternak sapi adalah melalui proses fermentasi dengan menambahkan bahan mengandung mikroba proteolitik, lignolitik, selulitik, lipolitik dan bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik (starbio, starbioplus, probion). Hal ini akan meningkatkan motivasi untuk meningkatkan ternak sapi yang dipelihara.
Pembuatan jerami padi fermentasi dengan sistem terbuka.  Proses fermentasi terbuka dilakukan pada tempat terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung. Bahan-bahan yang digunakan untuk menghasilkan 1 ton jerami fermentasi adalah : 1 ton jerami padi segar, Probion (probiotik) 2,5 kg, Urea 2,5 kg, dan air secukupnya.

Proses pembuatan dibagi dua tahap, yaitu tahap fermentatif dan pengeringan serta penyimpanan. Pada tahap pertama, jerami padi yang baru dipanen dari swah dikumpulkan pada tempat yang telah disediakan, dan diharapkan masih mempunyai kandungan air 60%. Jerami padi segar yang akan dibuat menjadi jerami padi fermentasi ditimbun dengan ketebalan kurang lebih 20 cm kemudian ditaburi dengan Probiotik dan urea. Tumpukan jerami tersebut dapat dilakukan hingga ketinggian sekitar 3 meter.  Setelah pencampuran dilakukan secara merata, kemudian didiamkan selama 21 hari agar proses fermentatif dapat berlangsung dengan baik.  Tahap kedua adalah proses pengeringan dan penyimpanan jerami padi fermentasi. Pengeringan dilakukan dibawah sinar matahari dan dianginkan sehingga cukup kering sebelum disimpan pada tempat yang terlindung. Setelah proses pengeringan ini, maka jerami padi fermentasi dapat diberikan pada ternak sebagai  pakan pengganti rumput segar.



Aspergillus niger

Penyakit Pada Sapi





1. Penyakit Antraks
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Penyakit antraks tergolong berbahaya dan mematikan. Penularan penyakit ini terjadi melalui kontak langsung sentuhan kulit, makanan, minuman, dan pernapasan. Penyakit ini bisa menyerang semua sapi dari berbagai tingkatan umur dan bisa menular kepada manusia. Serangan antraks ditandai dengan demam tinggi; badan lemah dan gemetar; pernapasan terganggu; terjadi pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin; badan dipenuhi bisul; keluar darah berwarna merah kehitaman melalui hidung,telinga, mulut, anus, dan vagina; kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; serta limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
Pencegahan penyakit dilakukan dengan memberikan vaksin spora (Max Sterne) dosis 1 ml setiap 6 bulan sekali atau serum anti-antraks dosis 50-100 ml per ekor sapi. Pengobatan sulit dilakukan karena dapat menyebarkan penyakit kepada sapi yang lain. Karena itu, sapi yang terkena antraks harus segera dipotong dan dibakar atau dikubur dengan kedalaman lebih dari 2 m.
2. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) atau Apthae epizootica (AE)
Penyakit ini disebabkan oleh virus Rhinovirus. Penularan dengan cepat melalui kontak langsung misalnya air kencing, air susu, air liur, dan benda lain yang tercemar kuman AE. Penyakit PMK tidak dapat menular kepada manusia.
Gejala PMK terlihat dari melepuhnya rongga mulut, lidah, dan telapak kaki (tracak), disertai adanya tonjolan bulat berisi cairan bening; sapi mengalami demam atau panas, selanjutnya suhu badan menurun drastic; nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; serta keluar air liur secara berlebihan. Pencegahan PMK dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang dan lingkungan, serta memberikan vaksinasi secara rutin setiap 6 bulan sekali. Sapi yang terserang harus diisolasi, sedangkan sapi yang mati harus segera dikubur atau dibakar.
3. Penyakit Ngorok (Mendengkur) atau Penyakit Septichaema Epizootica (SE)
Penyakit ngorok adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan sapi yang berusia muda (umur 6-24 bulan). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri PastureIla multocida. Bakteri ini biasanya menyerang sapi yang baru mengalami perjalanan jauh. Penularan penyakit terjadi melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.

Gejala penyakit ditandai dengan membengkaknya kulit kepala dan selaput lendir lidah disertai warna merah dan kebiruan; membengkaknya leher, anus, dan vulva; paru-paru meradang; selaput lendir usus dan perut masam serta berwarna merah tua; serta sapi mengalami demam dan sulit bernapas sehingga terdengar mengorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam. Pencegahan penyakit ini dilakukan dengan memberikan vaksinasi anti-SE, setiap 6 bulan sekali. Sementara pengobatannya dapat dilakukan dengan memberikan antibiotika atau sulfa.

Beberapa Penyakit Pada Unggas





Jual Probiotik Untuk Unggas
Telp. 087731375234

Ayam adalah hewan ternak yang rentan dengan serangan penyakit. Di antara berbagai jenis penyakit menular yang banyak mengancam hewan ternak disebabkan oleh virus. Penyakit yang disebabkan oleh virus merupakan jenis penyakit yang sangat ditakuti oleh para peternak. Virus lebih lembut dari bakteri, karena jasad renik ini bisa tembus dari saringan bakteri. Virus tidak bisa dilihat dengan mikroskop biasa. Untuk melihatnya secara jelas diperlukan foto dengan mempergunakan mikroskop elektron.
Penyakit virus mudah sekali menular. Baik secara kontak langsung maupun lewat perantara benda-benda lain. Misalnya udara, air minum, makanan, dan alat-alat peternakan yang tercemar. Di antara berbagai jenis penyakit akibat virus yang sering merugikan peternakan ayam antara lain adalah tetelo alias ND (New Cattle Desease), cacar unggas alias Fowl Pox, leukosis, lumpuh marek alias marek’s disease, gumboro alias infectious bursal disease, salesma ayam alias infectious laryngotracheitis, dan kini flu burung, dll. Berikut akan dijelaskan beberapa penyakit yang diakibatkan oleh virus.
1. Tetelo adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dari golongan Paramixovirus. Keganasannya tergantung dari strain atau tipenya. Penyakit ini menyerang alat pernafasan, susunan dan jaringan syaraf, serta alat-alat reproduksi telur. Yang ganas cepat sekali menular, dan seringkali menimbulkan kematian secara mendadak.
2. Cacar unggas adalah penyakit bercak-bercak kulit yang disebabkan oleh virus Borreliota avium. Menyerang rongga mulut, hulu tenggorokan, daerah sekitar mata, jengger dan pial. Selain secara kontak langsung, penyakit ini bisa meluar lewat perantaraan nyamuk dan lalat.

3. Leukosis adalah penyakit tumor menular yang bersifat menahun. Penyebabnya adalah virus leukosis. Gejala dimulai dengan timbulnya pertumbuhan abnormal pada sel-sel darah putih. Tumor yang menyerang jaringan syaraf akan menimbulkan kelumpuhan pada leher, sayap dan kaki. Yang menyerang mata akan membuat bentuk mata tidak normal, rabun atau buta sama sekali. Yang menyerang organ bagian dalam (hati, ginjal, limpa dan ovarium) akan membuat ayam berjalan tegak seperti itik, dan penyakitnya disebut big liver disease. Akibatnya hati akan membengkak 3 sampai 4 kali normal, kotorannya encer, tubuh kurus, jengger dan pial pucat berkerut.
4. Lumpuh marek adalah penyakit lumpuh yang disebabkan oleh virus herpes. Menyerang anak ayam berumur 1-5 bulan. Gejalanya ditandai kejang lumpuh dengan kaki satu ke depan dan kaki lainnya kebelakang. Selain itu juga menimbulkan pembesaran yang mencolok pada syaraf dan timbulnya tumor pada organ dalam, kulit dan otot.
5. Gumboro adalah penyakit yang menyerang bursa fabricii (kelenjar bulat terletak di atas kloaka), penyebabnya adalah virus gumbaro. Anak ayam umur 1-12 hari yang terkena penyakit ini tidak begitu nampak tanda-tandanya. Tapi anak ayam umur 3-6 minggu akan menunjukkan gejala yang khas. Anak ayam tampak lesu, mengantuk, bulu mengkerut, bulu sekitar dubur kotor, mencret keputih-putihan, dan duduk dengan sikap membungkuk. Suka mematuki duburnya sendiri, sehingga menimbulkan luka dan pendarahan. Ayam yang mati bangkainya cepat sekali membusuk.

6. Salesma ayam adalah penyakit yang disebabkan virus avium. Menyerang saluran pernafasan. Gejalanya sesat nafas, batuk-batuk, mata dan hidung meradang berair, dan sulit bernafas karena adanya lendir berdarah dalam rongga mulut. Bila benafas kepala ditegakkan, dan waktu mengeluarkan nafas kepala ditundukkan dengan mata terpejam. Penyakit ini bersifat akut. Obat yang efektif untuk menyembuhkan penyakit virus sampai saat ini belum ada. Tapi pengobatan dengan antibiotika atau kombinasi dengan obat-obatan lain tetap diperlukan untuk mencegah terjadinya komplikasi dengan penyakit yang lain. Dan karena tak adanya obat yang mampu menyembuhkan penyakit virus, alangkah bijaksananya sebelum penyakit berbahaya ini terjadi, peternak melakukan tindak pencegahan. Caranya antara lain adalah melakukan tata laksana pemeliharaan yang baik, melaksanakan vaksinasi pada saat yang tepat, dan hindarkan terjadinya stress pada ternak.

Senin, 09 Oktober 2017

Biosekuriti Pada Peternakan Unggas




Biosekuriti adalah merupakan praktik manajemen yang bertujuan mengurangi potensi transmisi perkembangan organisme patogen (virus, bakteri, fungi) yang menyerang hewan dan  manusia. Biosekuriti terdiri dari dua elemen penting yaitu bio-kontaimen dan bio-ekslusi. Bio-kontaimen adalah pencegahan terhadap datangnya virus terinfeksi dan bio ekslusi adalah menjaga supaya virus yang ada tidak keluar atau menyebar (WHO 2008b).  Biosekuriti peternakan unggas adalah suatu konsep yang merupakan bagian integral dari suksesnya sistem produksi suatu peternakan unggas, khususnya ayam petelur dalam mengurangi risiko dan konsekuensi dari masuknya penyakit infeksius terhadap unggas maupun manusia (Payne 2000). Biosekuriti adalah suatu sistem untuk mencegah penyakit baik klinis maupun subklinis, termasuk penyakit-penyakit zoonosa, yang merupakan sistem untuk mengoptimalkan produksi unggas secara keseluruhan dan bagian dari kesejahteraan hewan. Menurut Shulaw dan Bowman (2001), biosekuriti adalah semua praktek-praktek manajemen yang diberlakukan untuk mencegah organism penyebab penyakit ayam dan zoonosis yang masuk dan keluar peternakan.
Tujuan utama dari penerapan biosekuriti adalah; meminimalkan keberadaan penyebab penyakit, meminimalkan kesempatan agen berhubungan dengan induk semang membuat tingkat kontaminasi lingkungan oleh agen penyakit seminimal mungkin ( Zainuddin dan Wibawan, 2007). Menurut Dirjen Peternakan (2005) tujuan dari biosekuriti adalah mencegah semua kemungkinan penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit. Penerapan biosekuriti pada seluruh sektor peternakan, baik di industri perunggasan atau peternakan lainnya akan mengurangi risiko penyebaran mikroorganisme penyebab penyakit yang mengancam sektor tersebut. Meskipun biosekuriti  bukan satu – satunya upaya pencegahan terhadap serangan penyakit, namun biosekuriti merupakan garis pertahanan pertama terhadap penyakit (Cardona, 2005). Biosekuriti sangat penting untuk mengendalikan dan mencegah berbagai penyakit yang mematikan. Biosekuriti dapat digambarkan sebagai satu set program kerja dan prosedur yang akan mencegah atau membatasi hidup dan menyebarkanhamadan jasad renik berbahaya diberbagai tempat seperti peternakan tempat penampungan hewan dan rumah potong hewan.
Program biosekuriti meliputi pengendalian pergerakan hewan, peralatan, orang – orang dan sarana pengangkutan dari luar dan ke farm yang satu ke farm yang lain. Pemisahan jenis unggas, burung liar, binatang pengerat dan binatang  yang diasingkan secara geografis untuk memperkecil penyebaran penyakit. Vaksinasi untuk meningkatkan sistem imunitas. Pemeriksaan prosedur untuk mengurangi infeksi /peradangan jasad renik berbahaya dan pengobatan untuk mencegah atau perlakuan hasil bakteri atau protozoa penyakit. Pengendalian serangga yang dapat menyebabkan penyakit. Penerapan disinfeksi dan prosedur yang higienis untuk mengurangi tingkat infeksi membasmi mikroorganisme berbahaya dan pengobatan untuk mencegah dan mengobati penyakit bakteri dan protozoa (Grimes danJackson, 2001). Biosekuriti pada peternakan dapat dilakukan dengan; lokasi peternakan berpagar dengan satu pintu masuk, rumah tempat tinggal, kandang unggas serta kandang hewan lainnya ditata pada lokasi terpisah, pembatasan secara ketat terhadap keluar masuk material (hewan/unggas, produk unggas, pakan, kotoran unggas, alas kandang, litter, rak telur) yang dapat membawa agen penyakit, pembatasan secara ketat keluar masuk orang/tamu/pekerja dan kendaraan dari atau ke lokasi peternakan, setiap orang yang masuk atau keluar peternakan harus mencuci tangan dengan sabun atau desinfektan, mencegah keluar masuknya tikus (rodensia), serangga atau unggas lain seperti burung liar yang dapat berperan sebagai vektor penyakit ke lokasi peternakan,  unggas dipisahkan berdasarkan spesiesnya,         kandang, tempat pakan/minum, sisa alas kandang/litter dan kotoran kandang dibersihkan secar teratur,  tidak membawa unggas sakit atau bangkai unggas keluar dari area peternakan, unggas yang mati harus dibakar atau dikubur, kotoran unggas diolah terlebih dahulu sebelum keluar dari area peternakan,  air kotor hasil sisa pencucian langsung dialirkan keluar kandang secara terpisah melalui saluran limbah ke tempat penampungan limbah (septik tank) sehingga tidak tergenang di sekitar kandang atau jalan masuk kandang.
Menurut Jeffrey (1997), penerapan biosekuriti pada peternakan petelur dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu (1) isolasi, (2) pengendalian lalu lintas, dan (3) sanitasi.
1. Isolasi
Isolasi mengandung pengertian penempatan atau pemeliharaan hewan di dalam lingkungan yang terkendali. Pengandangan atau pemagaran kandang akan menjaga dan melindungi unggas serta menjaga masuknya hewan lain ke dalam kandang. Isolasi ini diterapkan juga dengan memisahkan ayam berdasarkan kelompok umur. Selanjutnya, penerapan manajemen all-in/all-out pada peternakan besar mempraktekan depopulasi secara berkesinambungan, serta memberi kesempatan pelaksanaan pembersihan dan disinfeksi seluruh kandang dan peralatan untuk memutus siklus penyakit (Jeffrey 1997).
2. Pengendalian lalu lintas
Pengendalian lalu lintas ini diterapkan terhadap lalu lintas ke peternakan dan lalu lintas di dalam peternakan. Pengendalian lalu lintas ini diterapkan pada manusia, peralatan, barang, dan bahan. Pengendalian ini data berupa penyediaan fasilitas kolam dipping dan spraying pada pintu masuk untuk kendaraan , penyemprotan desinfektan terhadap peralatan dan kandang, sopir, penjual, dan petugas lainnya dengan mengganti pakaian ganti dengan yang pakaian khusus. Pemerikasaan kesehatan hewan yang datang serta adanya Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).  (Jeffrey 1997).
3. Sanitasi
Sanitasi ini meliputi praktek disinfeksi bahan, manusia, dan peralatan yang masuk ke dalam peternakan, serta kebersihan pegawai di peternakan (Jeffrey 1997). Sanitasi meliputi pembersihan dan disinfeksi secara teratur terhadap bahan – bahan dan peralatan yang masuk ke dalam peternakan. Pengertian disinfeksi adalah upaya yang dilakukan untuk membebaskan media pembawa dari mikroorganisme secara fisik atau kimia, antara lain seperti pembersihan disinfektan, alkohol, NaOH, dan lain-lain (Anonymous, 2000).
Sanitasi peternakan meliputi kebersihan sampah, feses dan air yang digunakan. Air yang digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan lainnya harus memenuhi persyaratan air bersih (Depkes, 2001). Jika digunakan air tanah atau dari . Salah satu perlakuan air yang umum dilakukan adalah dengan menambahkan klorin 2 ppm. Untuk menjamin bahwa air tersebut memenuhi syarat air bersih, maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala, minimum 1 tahun sekali. Klorin berguna untuk mematikan mikroorganisme yang terkandung dalam sumber air. Air merupakan media pembersih selama proses sanitasi serta merupakan bahanbakupada proses pengolahan pangan (Depkes, 2001). Air juga dapat sebagai sumber pencemar. Jika air tercemar, perlu dicari alternatif sumber air lain atau air tersebut harus diolah dengan metode kimia atau metode lainnya. Sumber pencemar lain adalah udara di sekitarnya (Marriott, 1999).
Pangan dapat tercemar oleh mikroorganisme pada udara selama proses, pengemasan, penyimpanan dan penyiapan. Cara yang efektif untuk mengurangi pencemaran mikroorganisme dari udara antara lain praktek higiene, penyaringan udara yang masuk ke ruang proses, dan penerapan metode pengemasan yang baik (Marriott, 1999).
Intensitas pengambilan sampah dan limbah peternakan (kotoran ayam) dilakukan pada periode tertentu secara teratur, karena dapat mengundang lalat atau insekta lain serta tumpukan sampah dapat menjadi sumber pencemaran di peternakan (Jeffrey, 1997).

Praktek Disinfeksi
            Menurut Gernat (2004), disinfeksi merupakan hal yang sangat penting menjaga biosekuriti di area peternakan. Disinfeksi pada peternakan ditunjang adanya fasilitas disinfektan, seperti kolam dipping dan spraying. Kolam dipping digunakan untuk merendam sepatu bot ataupun roda kendaraan yang akan masuk ke dalam peternakan. Tempat spraying digunakan untuk mendisinfeksi tubuh dari orang yang akan masuk ke dalam wilayah peternakan. Semua peralatan yang berasal dari luar peternakan hendaknya diisolasikan terlebih dahulu dalam ruangan yang tertutup sempurna selama dua hari. Dalam ruangan ini, benda-benda tersebut difumigasi. Setelah dilakukan fumigasi, kemudian diuji terhadap kontaminan oleh seorang staf ahli (EF, 2003).
Penggunaan disinfektan harus memperhatikan kandungan disinfektan tersebut sehingga disinfektan tidak salah penggunaannya dan sesuai dengan syarat disinfektan yang baik, yaitu aman, efektif dan efisien (Smith, 2001). Klasifikasi disinfektan dan disinfektan yang sering digunakan.

Biosekuriti Sumber Ayam
            Ayam hidup yang akan masuk ke dalam peternakan berpotensi membawa agen penyakit. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terhadap sumber ayam yang akan masuk ke dalam wilayah peternakan, yaitu: 1) Ayam yang datang berasal dari peternakan atau peternakan bibit yang bebas penyakit. Ayam yang boleh masuk ke area kandang adalah yang telah diperiksa oleh dokter hewan dan hasilnya harus negatif dari keberadaan agenagen patogen dalam unggas tersebut (Shulaw dan Bowman 2001), 2) Ayam yang datang harus disertai Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) yang dikeluarkan oleh Dinas yang membawahi Kesehatan Hewan dan ditandatangani oleh dokter hewan yang terkait (Anonymous 1977), 3) Ayam yang akan masuk ke area peternakan diisolasi terlebih dahulu dalam ruang tertutup sempurna agar tidak ada agen-agen penyakit yang dapat keluar atau masuk ke area isolasi (Shulaw dan Bowman 2001).

Biosekuriti terhadap Hewan Penggangu
            Beberapa hewan yang potensial sebagai hewan penganggu adalah unggas/burung liar, tikus, dan insekta (Hanson 2002). Hal yang harus diperhatikan oleh pemilik ataupun pekerja peternakan (EF 2003), yaitu: 1) Tidak diperbolehkan mempunyai/merawat unggas lain, babi, dan segala hewan yang bisa menimbulkan risiko penyakit atau bahaya terhadap ayam (tikus dan unggas liar merupakan vektor yang potensial), 2) Melakukan pencegahan khusus setelah kontak dengan hewan lain sebelum masuk atau kontak dengan unggas. Pada penerapan sistem hazard analysis critical control point (HACCP) di peternakan ayam, salah satu titik kendali kritis (critical control point/CCP) adalah adanya pemantauan harian terhadap burung liar dan rodensia di sekitar area kandang ayam. Dalam program dan prosedur biosekuriti dilakukan pemisahan unggas terhadap jenis unggas lain, spesies bukan unggas, termasuk burung liar, rodensia, dan hewan-hewan lainnya (Grimes 2001). Menurut Kuney (1999), pakan bisa menjadi sumber datangnya bangsa rodensia dan unggas liar. Oleh karena itu, tikus dan unggas liar dicegah agar tidak menjangkau pakan.
Pada dasarnya tidak semua yang disebutkan tadi berbahaya karena juga tergantung spesies hewan tersebut, penyakit yang dibawanya, dan resistensi ayam ternak terhadap penyakit yang dibawa hewan-hewan liar tersebut. Namun, karena ketidakmungkinan setiap hewan yang masuk diperiksa satu per satu, lebih baik dicegah sedini mungkin agar hewan-hewan tersebut tidak memasuki wilayah peternakan (Soeroso, komunikasi pribadi, 14 Juli 2007). Jadi, sebisa mungkin meminimalisasi paparan mikroorganisme berbahaya terhadap ayam (Kuney 1999).

Biosekuriti Peti Telur
            Peti telur yang berasal dari luar peternakan sangat tidak boleh masuk ke dalam area peternakan. Hal ini bertujuan untuk mencegah agen-agen pathogen ataupun yang berbahaya mengkontaminasi area dalam peternakan. Peti telur bekas yang terbuat dari kayu dapat membawa mikroba dari peternakan lain sehingga mampu menulari ayam yang berada dalam peternakan. Bahan kayu sangat sukar untuk didisinfeksi dan sebaiknya tidak digunakan untuk peralatan dalam peternakan, termasuk peti telur (Marriott 1999).

Biosekuriti Tamu dan Pekerja Peternakan
            Penerapan biosekuriti dalam pengawasan lalu lintas manusia (EF 2003) meliputi: 1) karyawan atau orang yang terlibat di bisnis peternakan pembibitan ayam tidak diperbolehkan memelihara burung atau ayam di rumahnya. Begitu pula untuk peternakan komersial, 2) Orang yang akan masuk kedalam peternakan, sebelumnya tidak mengunjungi peternakan pada tingkat di bawahnya (peternakan komersial, processing dan lain-lain) yang status higienenya tidak diketahui, minimum dua hari setelah kunjungan tersebut, 3) tamu sebaiknya tidak mengunjungi peternakan bibit tetua (grand parent), kecuali profesional (ahli) yang berhubungan dengan peternakan bibit tetua (grand parent) tersebut.Aspek sanitasi ini berkaitan erat dengan penerapan higiene. Yang harus diperhatikan adalah menjaga agar jangan ada kontaminan yang masih menempel pada tubuh sehingga dapat menulari ayam di kandang. Hal ini dapat diterapkan dengan mencuci tangan, mengganti baju yang kotor, melakukan dipping sepatu bot dan spraying seluruh anggota badan (Stanton, 2004).
Orang yang memasuki lokasi peternakan diharuskan mengikuti persyaratan sanitasi peternakan, yaitu disinfeksi dengan spray, mandi, mengganti baju, dan alas kaki khusus. Hal ini berlaku juga untuk sanitasi bagi barang (disinfeksi dengan cairan disinfektan).
Biosekuriti Ayam Sakit/Mati
            Ayam yang sakit/mati dapat menjadi sumber penyakit berbahaya bagi ayam sehat yang berdekatan. Oleh karena itu, ayam yang sakit/mati harus segera dikeluarkan dan dipisahkan sejauh mungkin dari kandang ayam sehat sehingga tidak menulari ayam yang sehat. Ayam yang sakit/mati segera diisolasikan dan didiagnosa di laboratorium oleh dokter hewan peternakan untuk segera diketahui penyakitnya. Setelah itu, ayam tersebut harus segera dibakar di krematorium (Hanson 2002).

Higiene Peternakan Telur
            Higiene adalah segala upaya yang berhubungan dengan masalah kesehatan serta berbagai usaha untuk mempertahankan atau untuk memperbaiki kesehatan. Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan (Anonymous 2004). Pengertian higiene pangan adalah semua kondisi dan tindakan untuk menjamin keamanan dan kelayakan makanan pada semua tahap dalam rantai makanan (CAC 1997). Keamanan pangan (food safety) adalah jaminan agar bahan makanan tidak membahayakan konsumen pada saat disiapkan dan/atau dimakan menurut kebutuhannya (CAC 1997). Sedangkan, menurut pemerintah, keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia (Anonymous 1996). Kelayakan Pangan (food suitability) adalah jaminan agar bahan makanan dapat diterima untuk konsumsi manusia menurut kebutuhannya (CAC 1997).Dalam suatu peternakan, praktek higiene yang baik wajib diterapkan pada penanganan telur, karena telur termasuk pangan yang berpotensi membawa agenagen patogen (misalnya Salmonella Enteritidis) dan termasuk pangan yang mudah rusak (PCFS 1999).

Biosekuriti Bangunan
            Bangunan yang didirikan dalam suatu area peternakan hendaknya menggunakan bahan-bahan yang mudah dibersihkan dan didisinfeksi, serta tahan terhadap tumbuhnya kapang (Marriott 1999). Begitu juga untuk disain bangunan dalam suatu peternakan, harus memperhatikan kegunaan dari bangunan tersebut (Hanson 2002). Gudang pakan harus memperhatikan suhu dan kelembaban, serta aliran udara yang baik, sehingga menghindari tumbuhnya kapang. Jika untuk gudang telur, diperhatikan kelembabannya tidak lebih dari 80% dengan suhu 12- 15°C (Sudaryani 1996).

Biosekuriti Fasilitas
            Fasilitas yang direncanakan secara baik dengan tataletak (layout) tepat sangat penting untuk kelancaran operasional di unit usaha pangan. Tataletak, disain, dan fasilitas secara langsung mempengaruhi (1) keselamatan dan produktivitas pekerja, (2) biaya pekerja dan energi, (3) kepuasan pelanggan. Semakin baik fasilitas unit usaha direncanakan, maka semakin mudah pencapaian keamanan pangan dan perolehan keuntungan (McSwane et al. 2000). Fasilitas dalam area peternakan harus menunjang penerapan higiene di peternakan tersebut. Area kandang sebaiknya ditanami rumput dengan kualitas bagus. Rumput ini berguna untuk mengurangi panas dengan cara memantulkan panas yang dapat timbul ketika udara sangat panas di area kandang. Kegunaan lainnya adalah mencegah erosi langsung tanah di area tersebut yang bisa menyebabkan kerusakan kandang/bangunan (Berry 2003). Pepohonan sebaiknya tidak terlalu banyak di area kandang karena dapat mengganggu sirkulasi udara area kandang. Untuk fasilitas listrik, diatur agar intensitas cahaya cukup di area kandang dan gudang pakan/telur (Berry 2003).

Biosekuriti Peralatan
            Setiap pekerja atau orang di unit usaha pangan bertanggung jawab menjaga segala sesuatu tetap bersih dan saniter. Pembersihan peralatan yang efektif mengurangi peluang terjadinya kontaminasi selama penyiapan, penyimpanan, dan penyajian. Pembersihan berarti penghilangan kotoran-kotoran yang kasat mata (visible) dari permukaan peralatan dan bahan. Saniter berarti sehat atau higienis. Hal ini mencakup pengurangan sejumlah mikroorganisme patogen pada permukaan peralatan dan bahan sampai tingkat aman bagi kesehatan. Sesuatu yang saniter tidak memiliki risiko bagi kesehatan manusia (McSwane et al. 2000). Peralatan yang terdapat di dalam area peternakan dianjurkan menggunakan bahan yang mudah untuk dibersihkan dan didisinfeksi. Hindarkan peralatan dengan menggunakan bahan kayu karena bahan ini sukar untuk didisinfeksi. Bahan yang dianjurkan adalah yang menggunakan plastik atau stainless steel karena kedua bahan ini mudah dibersihkan dan tidak cepat rusak (Marriott 1999).

Higiene Personal
            Menurut Marriott (1999), kata higiene digunakan untuk menggambarkan penerapan prinsip-prinsip kebersihan untuk perlindungan kesehatan manusia. Higiene personal mengacu kepada kebersihan tubuh perseorangan. Manusia merupakan sumber potensial mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Pegawai dapat memindahkan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit. Kenyataannya, manusia merupakan sumber utama pencemaran pangan. Tangan, nafas, rambut, dan keringat dapat mencemari pangan. Pemindahan mikroorganisme fekal manusia dan hewan melalui karyawan merupakan sumber potensial mikroorganisme patogen yang dapat masuk ke dalam rantai pangan. Karyawan yang sakit tidak diperkenankan kontak dengan pangan, peralatan, dan fasilitas.
Penyakit manusia yang dapat ditularkan melalui pangan adalah penyakit saluran nafas seperti demam, radang tenggorok, pneumonia, scarlet fever, dan tuberkulosis; gangguan pencernaan; disentri; demam tifoid; serta hepatitis infeksius. Pada beberapa penyakit, mikroorganisme penyebab penyakit masih dapat bertahan/tinggal pada penderita setelah sembuh. Orang dengan kondisi demikian disebut carrier. Karyawan yang sakit berpotensi sebagai sumber pencemar. Staphylococcus biasanya terdapat di sekitar bisul, jerawat, karbunkel, luka yang terinfeksi, serta mata dan telinga. Infeksi pada sinus, radang tenggorok, batuk terus-menerus, serta gejala penyakit dan demam merupakan gambaran bahwa mikroorganisme meningkat. Prinsip tersebut perlu diterapkan pada saluran pencernaan seperti diare. Bahkan setelah sembuh, mikroorganisme masih dapat berada dalam tubuh yang merupakan sumber pencemaran, contohnya Salmonellae dapat bertahan beberapa bulan setelah penderita sembuh. Virus hepatitis masih dapat dijumpai pada saluran pencernaan sampai lebih darilima tahun setelah gejala penyakit. Di bawah ini akan dibahas beberapa bagian tubuh manusia yang merupakan sumber pencemaran mikroorganisme.

Biosekuriti Higiene Penanganan Telur
            Menurut PCFS (1999), sebaiknya saat pengumpulan telur di kandang, telur yang utuh dan baik dikumpulkan dengan menggunakan baki telur plastik (egg tray) yang dipisahkan dengan telur yang retak/kotor. Hal ini dilakukan untuk mencegah telur yang baik terkontaminasi agen patogen yang mungkin terdapat pada telur kotor/retak. Perlakuan yang dapat diterapkan terhadap telur yang kotor adalah dengan cara dilap, tanpa dicuci terlebih dahulu. Pada gudang penyimpanan telur, telur disimpan pada egg tray terbuat dari plastik yang telah dibersihkan dan didisinfeksi, atau jika tidak ada, telur dapat diletakkan di dalam peti kayu baru dengan sekam yang telah didisinfeksi, terpisah dengan telur yang retak/rusak. Telur yang retak harus segera digunakan. Baki telur diletakkan di atas palet plastik setinggi minimum 15 cm dari permukaan lantai dan berjarak minimum 15 cm dari dinding. Menurut McSwane et al.(2000) penyimpanan pangan pada area gudang kering pada permukaan datar yang berjarak minimum 6 inch (15.24 cm) dari permukaan lantai dan dinding. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pembersihan lantai dan dinding, mencegah seranganhama, serta memberikan sirkulasi udara yang baik terhadap produk.

Sanitasi Peternakan Petelur

            Sanitasi berasal dari kata latin sanitas yang berarti sehat. Sanitasi adalah upaya pencegahan terhadap kemungkinan berkembangbiaknya mikroba pembusuk dan patogen dalam makanan, minuman, peralatan, dan bangunan yang dapat merusak pangan asal hewan dan membahayakan kesehatan manusia (Marriott 1999). Sanitasi berkaitan erat dengan disinfeksi. Sanitasi yang diterapkan pada peternakan unggas meliputi praktek disinfeksi bahan, manusia, dan peralatan yang masuk ke dalam peternakan, serta kebersihan pegawai di peternakan (Jeffrey 1997).
Pengertian disinfeksi adalah upaya yang dilakukan untuk membebaskan media pembawa dari mikroorganisme secara fisik atau kimia, antara lain seperti pemberian disinfektan, alkohol, NaOH, dan lain-lain (Anonymous 2000). Sanitasi peternakan meliputi kebersihan sampah, feses, dan air yang digunakan. Air yang digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan lainnya harus memenuhi persyaratan air bersih (Depkes 2001). Jika digunakan air tanah atau dari sumber lain, maka air harus diperlakukan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan air bersih.
Salah satu perlakuan air yang umum dilakukan adalah dengan menambahkan klorin 2 ppm. Untuk menjamin bahwa air tersebut memenuhi syarat air bersih, maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala, minimum 1 tahun sekali. Klorin berguna untuk mematikan mikroorganisme yang terkandung dalam sumber air. air merupakan media pembersih selama proses sanitasi serta merupakan bahanbakupada proses pengolahan pangan (Depkes 2001). Air juga dapat sebagai sumber pencemar. Jika air tercemar, perlu dicari alternatif sumber air lain atau air tersebut harus diolah dengan metode kimia atau metode lainnya. Sumber pencemar lain adalah udara di sekitarnya (Marriott 1999).
Pangan dapat tercemar oleh mikroorganisme pada udara selama proses, pengemasan, penyimpanan, dan penyiapan. Cara yang efektif untuk mengurangi pencemaran mikroorganisme dari udara antara lain praktek higiene, penyaringan udara yang masuk ke ruang proses, dan penerapan metode pengemasan yang baik (Marriott 1999). Intensitas pengambilan sampah dan limbah peternakan (kotoran ayam) dilakukan pada periode tertentu secara teratur, karena dapat mengundang lalat atau insekta lain serta tumpukan sampah dapat menjadi sumber pencemaran di peternakan (Jeffrey 1997).

 DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 1967. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan
Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan. Bab I Pasal 8.
Anonymous. 1977. Peraturan Pemerintah RI Nomor 15 Tahun 1977 tentang Penolakan,           Pencegahan, Pemberantasan, dan Pengobatan Penyakit Hewan. Bab II Pasal 3.
Anonymous. 2000. Katalog Produk.Jakarta: Agro makmur Sentosa.
Anonymous. 2007. Poultry health and disease. [terhubung berkala].       http://www.thepoultrysite.com. [5 Juni 2011]
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2001. Kumpulan Modul Kursus Penyehatan  Makanan Bagi Pengusaha Makanan dan Minuman Jakarta: Yayasan Pesan.
[Depkes] Departemen Kesehatan RepublikIndonesia. 2001. Kumpulan Modul Kursus Penyehatan Makanan bagi Pengusaha Makanan dan Minuman.Jakarta: Yayasan Pesan.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2005. Bagaimana Terhindar dari Flu Burung (Avian      Influenza).Jakarta.
 [Dit Kesmavet] Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner. 2006. Buku Pedoman    Nomor Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan. Jakarta: Direktorat          Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen      Pertanian.

[EF] Euribrid Farm. 2003. Biosecurity Requirements for Poultry-Farms. Boxmeer:    Euribrid.
Gernat A. 2000. Poultry farm biosecurity field manual. Cooperative Extension AG(651).         [terhubung berkala]. http://www.ncsu.edu.html [5 Juni 2011].
Grimes T. 2001. Biosecurity in egg industry. Rural Industries Research and     Development Corporation 1(102). [terhubung berkala]. http://www.rirdc.gov.au.    [5 Juni 2011].
Jeffrey JS. 1997. Biosecurity for poultry flocks. Poultry fact sheet 1(26). [terhubung    berkala]. http://www.vmtrc.ucdavis.edu.html [5 Juni 2011].
Kay RD, Edwards WM. 1994. Farm Management.Singapore: McGraw-Hill.
Kuney DR.1999. Guidelines for risk reduction of microbial introduction intopoultry       flocks and products. Poultry fact sheet 11a. [terhubung berkala].             http://animalscience.ucdavis.edu/extension/avian. [5 Juni 2011].
Marriott NG. 1999. Principles of Food Sanitation. 4th Ed.Gaithersburg,Maryland:  Aspen.
McGuire D, Scheideler SE. 2005. Biosecurity and the poultry flock. Nebfacts NF597.             [terhubung berkala]. http://www.usda.gov/extension/poultry. [5 Juni 2011].
McSwane D, Rue N, Linton R. 2000. Essentials of Food Safety and Sanitation. 2nd Ed.      UpperSaddleRiver: Prantice Hall.
Payne JB, Kroger EC, Watkins SE. 2002. Evaluation of litter treatments on Salmonella            recovery from poultry litter. J. Appl. Poult. Res. 11: 239-243.

Stanton, N. 2004. Biosecurity trifold. Maryland Department of Agriculture News 1(1). http://www.aphis.usda.gov/vs.html. [5 Juni 2011].

Jual Bakteri Acetobacter xylinum



Telp. 087731375234


Acetobacter Xylinum adalah salah satu jenis bakteri dengan panjang 2 mikron, berbentuk batang pendek dan memiliki permukaan dinding yang berlendir. Acetobacter Xylinum pada kultur sel masih muda merupakan individu sel yang sendiri-sendiri namun ketika sudah tua, mereka akan membentuk lapisan seperti gelatin yang kokoh dan menutupi sel koloninya. Bakteri ini memiliki kemampuan dalam melakukan oksidasi dari asam asestat menjadi H2O dan CO2. Acetobacter Xylinum mampu mempolimerisasikan glukosa menjadi selulosa. Untuk selanjutnya, selulosa akan membentuk matrik yang dikenal dengan sebutan nata.
Acetobacter Xylinum merupakan jenis bakteri yang mengalami pertumbuhan sel. Bakteri ini mengalami beberapa fase  mulai dari fase beradaptasi, fase pertumbuhan awal, fase eksponensial, fase pertumbuhan yang lambat, fase pertumbuhan yang tetap, fase menuju kematian dan yang terakhir adalah fase kematian. Ketika Acetobacter Xylinum di pindah ke suatu media baru, maka bakteri ini akan melakukan adaptasi terlebih dahulu pada lingkungannya. Fase adaptasi umumnya dicapai dari 0-24 jam sejak inokulasi. Untuk fase pertumbuhan awal umumnya terjadi dalam beberapa jam saja yang ditandai dengan adanya pembelahan sel berkecepatan rendah. Selanjutnya, ada fase eksponensial yang akan dicapai antara 1-5 hari kedepan.

Untuk fase eksponensial ini, Acetobacter Xylinum akan mengeluarkan sebanyak – banyaknya enzim ekstraselulerpolimerase. Pengeluaran enzim ini berguna untuk menyusun polimer glukosa menjadi selulosa atau matrik mata. Fase ini menjadi penentu dari kecepatan membentuk nata oleh strain Acetobacter Xylinum. Ketika nutrisi berkurang, maka fase pertumbuhan bakteri Acetobacter Xylinum menjadi lambat. Pertumbuhan bakteri Acetobacter Xylinum menjadi lambat karena terdapat metabolik yang bersifat racun. Pada fase ini, pertumbuhan tidak lagi stabil namun jumlah sel yang mati masih lebih sedikit dibanding yang bertahan hidup. Fase pertumbuhan tetap pada Acetobacter Xylinum akan terjadi keseimbangan antara sel yang mati dan yang hidup. Pada fase ini juga terjadi produksi nata yang lebih banyak. Terjadinya fase kematian merupakan akibat dari nutrisi sudah hampir habis dan ketika nutrisi sudah benar – benar habis maka Acetobacter Xylinum akan mengalami fase kematian.