This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 30 November 2018

Ragi Oncom



Jual Ragi Oncom
087731375234


Neurospora sitophila merupakan salah satu spesies dari genus Neurospora yang memiliki spora berbentuk seperti urat saraf berloreng-loreng sering terdapat pada produk-produk bakeri dan  menyebabkan kerusakan sehingga biasanya disebut bakery mold atau red bread-mold. Neurospora sithophila juga dikenal sebagai jamur oncom. Dalam proses fermentasi Neurospora sitophila berkembang biak dan menjadikan makanan menjadi berwarna kuning-kemerahan. Dua spesies lain dari Neurospora sitophila adalah Neurospora crassa dan Neurospora tetrasperma.
Neurospora sithophila sebelumnya dinamakan Monilia sithophila. Hal ini disebabkan oleh belum diketahuinya alat perkembangbiakan dari Neurospora sithophila. Sebelum diketahui alat perkembangbiakannya, jamur ini tergolong kelas Deuteromycetes. Nama ilmiahnya adalah Monilia sitophila (monile = manik-manik kalung, sitos = makanan, philos = menyukai). Setelah diketahui alat perkembangbiakannya, maka kapang ini digolongkan ke dalam kelas Ascomycetes lalu nama spesies ini diganti menjadi Neurospora sitophila. Hifa  Neurospora sitophila yang membentuk sejumlah miselium dapat dikenali dengan mudah dari sejumlah massa berwarna pink dan konidia oval yang terdapat pada rantai di conidiophores yang bercabang. Jamur ini dapat menggandakan dirinya secara tidak terbatas dengan cara aseksual.
Neurospora, seperti kebanyakan anggota Sordariaceae lainnya, adalah organisme yang pertumbuhannya sangat cepat tetapi askosporanya membutuhkan perlakuan khusus untuk tumbuh sebagaimana dilakukan pada Sordariaceae lainnya. Sel hifanya memiliki inti banyak (multinucleate). Miseliumnya berpigmen dengan jumlah pigmen bervariasi tergantung substratumnya. Neurospora sitophila dan Neurospora crassa bersifat octosporous, hermaphrodit dan heterothallic. Unsur betinanya diwakili oleh protoperithecia, dimana setiap multinucleate askogonium ditempelkan. Askogonia menghasilkan cabang hifa panjang yang berfungsi sebagai trichogynes. Antheridia tidak dihasilkan. Unsur jantan diwakili oleh mikrokonidia yang diproduksi dalam rantai di microconidiophores; sejenis konidia, yang juga dapat menyalurkan nuclei ke receptive trichogynes. Dalam spesies ini, ditemukan bahwa peran organ seks jantan tidak terlalu besar dan fungsi seksual dikerjakan oleh bagian khusus dari thallus.

Mengolah Limbah Cair Industri Tahu Dan Tempe Menjadi Nata De Soya




Jual Acetobacter xylinum
087731375234

Proses pembuatan tahu dan tempe menghasilkan limbah padat dan limbah cair. Limbah padatan pada industri tahu berupa ampas tahu yang umumnya dimanfaatkan untuk pakan ternak seperti sapi, kambing, kelinci, ayam, tempe gembus, sedangkan limbah padatan pada industri tempe berupa kulit kedelai dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Limbah cair tahu dan tempe masih jarang dimanfaatkan, umumnya dibuang ke sungai atau selokan. Limbah cair industri tahu dan tempe seringkali menjadi penyebab pencemaran lingkungan yang mengganggu ekosistem dan kesehatan manusia lingkungan tersebut. Pembuangan limbah ke sungai mencemari lingkungan dan menyebabkan meningkatkan BOD (Biological Oxigen Demand) dan menimbulkan bau tidak sedap. Limbah cair industri tahu dan tempe tersebut masih mengandung nutrisi yang masih dapat diolah menjadi nata de soya. Pengolahan limbah cair industri tahu dan tempe menjaid nata de soya merupakan salah satu solusi mengatasi pencemaran lingkungan dan menghasilkan produk bernilai ekonomis yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Limbah cair produk olahan kedelai difermentasi dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylinum sehingga dihasilkan produk nata de soya. Pemanfaatan air limbah industri tahu-tempe sebagai produk pangan memberikan manfaat yang besar bagi pengusaha industri tahu-tempe, baik nilai ekonomis maupun manfaat dalam upaya penanganan limbah. Pengolahan limbah cair tahu-tempe menjadi nata de soya merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pencemaran. Oleh karena itu, pengembangan usaha nata de soya perlu digalakan guna mengatasi pencemaran lingkungan di wilayah pemukiman sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Limbah cair industri tahu dan tempe mengandung protein dan karbohidrat yang cukup tinggi, kandungan protein dan karbohidrat dalam limbah cair tahu dan tempe tersebut dapat menjadi media hidup yang sangat baik bagi bakteri Acetobacter xylinum. Bakteri ini mengubah karbohidrat dan protein dalam limbah cair tahu-tempe menjadi serat selulosa dengan tekstur yang kenyal. Limbah air tahu (whey tahu) dan limbah cair tempe selain mengandung protein juga mengandung vitamin B terlarut dalam air, lestin dan oligosakarida. Berdasarkan kandungan unsur kimiawinya.
Limbah cair tahu-tempe menjadi salah satu aliterernatif bahan baku untuk pembuatan produk nata. Nata berbahan baku limbah kedelai memiliki karakteristik produk yang secara kenampakan sedikit kekuningan, cita rasa yang khas kedelai, kenyal namun lebih mudah putus dibandingkan dengan nata de coco lebih ulet, dan kandungan seratnya cukup tinggi.

 Prospek Pasar Nata De Soya
 Nata de soya memiliki tekstur yang cukup baik, tidak kalah dengan nata de coco. Kadar seratnya yang cukup tinggi dan memiliki cita rasa yang nikmat sebagai bahan baku minuman instan sehingga nata de soya mampu bersaing dengan nata de coco. Sebagaimana kita ketahui bahwa pasar nata de coco sebagai produk pangan yaitu minuman kemasan dan aneka produk olahan lainnya sangat tinggi baik pasar domestik maupun pasar luar negeri. Permintaan bahan nata oleh pabrik minuman kemasan sangat tinggi per hari mencapai ratusan ton bahan mentah nata berupa lembaran atau potongan. Kebutuhan produk nata yang sangat tinggi tersebut, menjadi peluang bisnis bagi para petani nata untuk bermitra dengan perusahaan besar yang ada di tanah air. Selain sebagai produk pangan, di negara maju seperti Jepang, saat ini nata telah dikembangkan sebagai produk non-pangan yaitu bahan baku elektronik dan komposit baja ringan.
Melihat potensinya yang sangat besar tersebut Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk mengolah aneka limbah pangan menjadi produk nata. Saat ini, di pasaran sudah familier produk nata dari bahan air kelapa (nata de coco), limbah cair olahan kedelai (nata de soya), umbi singkong atau limbah cair pengolahan industri singkong (nata de cassava). Masing-masing produk nata dari bahan baku baku yang berbeda tersebut memiliki aroma khas, tekstur dan tampilan yang sedikit berbeda. Namun, secara umumnya memiliki prospek pasar yang sama besar, meskipun saat ini produk nata de coco lebih familier dan permintaanya paling tinggi.

 Proses Produksi Nata De Soya
Limbah cair industri tahu-tempe yang telah didiamkan kurang lebih 2-3 hari (agar pH turun 3-4 sehingga asam), disaring dengan kain kasa agar kotoran-kotoran dan partikel kasar dapat dipisahkan, kemudian direbus dengan panci dengan tungku berbahan bakar kayu, setelah mendidih ditambahkan ZA 80 gram, gula pasir 100 gram, asam cuka 120 ml untuk media 50 liter limbah cair tahu atau tempe, diaduk-aduk kurang lebih 10-15 menit kemudian dituangkan kedalam nampan yang sudah disiapkan dengan penutup koran yang telah diikat dengan karet ban. Susun nampan yang telah diisi media larutan tersebut pada rak. Nampan dapat disusun bertingkat 5-10 nampan dengan bersilangan. Setalah dingin kurang lebih 5-7 jam, media larutan dalam nampan tersebut diinokulasi dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylnum kurang lebih 10% dari media larutan dalam nampan. Proses fermentasi akan berlangsung 8 – 10 hari. Lakukan pemanenan. Tampung nata de soya hasil panen dalam drum plastik yang diisi dengan air. Penyimpanan akan dapat bertahan lama apabila selalu diganti dengan air.

Peluang Mengolah Singkong Menjadi Nata De Cassava




Jual Bibit Nata (Acetobacter xylinum)
Enzim Amylase
087731375234

Singkong adalah salah satu komoditas pertanian unggulan Indonesia. Singkong telah banyak diolah menjadi aneka produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi diantaranya adalah; tapioka, tepung mocaf, bioetanol, casapro, pakan ternak, dan berbagai aneka makanan camilan.  saat ini, singkong telah dikembangkan menjadi nata de cassava-bahan baku minuman kemasa. Pengolahan singkong menjadi nata de cassava merupakan temuan yang sangat bermanfaat bagi industri minuman karena bisa menjadi subtitusi  nat de coco yang kebutuhannya sangat tinggi. Industri minuman nata de coco memiliki permintaan yang sangat tinggi karena selain memiliki pasar domestik juga pasar manca negara. Kebutuhan pabrik minuman nata de coco masih belum terpenuhi secara maksimal, karena masih terkendala keterbatasan bahan baku air kelapa. Nata de cassava yang berbahan baku singkong memiliki keunggulan bahan baku yang melimpah dan karakteristik natanya tidak beraroma menyengat, serta lebih kenyal tidak terlalu alot.
Nata de cassava secara tampilan mirip dengan nata de coco yaitu berbentuk jel, warna putih, kenyal, berserat tinggi. Nata de cassava lebih lunak tidak alot, dan aroma nya tidak terlalu menyengat dibanding dengan nata de coco-nata berbahan baku air kelapa. Nata merupakan bahan baku produk minuman kemasan yang sudah sangat popular dan banyak disukai kalangan. Saat ini kebutuhan air kelapa untuk industi nata de coco semakin bersaing, seiring dengan tingginya permintaan nata de coco. Ketersediaa bahan baku singkong yang melimpah menjadi keunggulan tersendiri pengembangan industry nata de cassava sebagai subtitusi nata de coco. Urutan proses pembutan nata de cassava adalah sebagai berikut:
1. Pengupasan
Singkong yang telah ditimbang, kemudian dikupas dengan menggunakan pisau. Kemudian singkong yang telah dikupas ditampung dalam ember yang berisi air agar tidak terjadi penambahan asam sianida yang menyebabkan warna singkong menjadi biru dan berasa pahit.
2. Pencucian
Singkong yang telah dikupas, kemudian dicuci hingga bersih dengan menggunakan air yang mengalir.
3. Pemarutan
Proses pemarutan dilakukan dengan menggunakan mesin pemarut. Proses pemarutan dengan menggunakan mesin pemarut lebih efesien dan lebih cepat.
4.Pengenceran
Singkong yang telah diparut kemudian diencerkan dengan penambahan air bersih kurang lebih 50 liter per 5 Kg umbi singkong yang telah dikupas. Air yang digunakan untuk pengenceran harus dengan menggunakan air yang bebas dari bahan kimia seperti kaporit atau tercemar bahan kimia lainnya.
5. Perebusan I
Tambahkan enzim ╬▒lfa-amilasi sebanyak 10-15 ml. Kemudian lakukan pengadukan sampai merata. Setelah mendidih, larutan diangkat kemudian pada saat proses pendinginan mencapai suhu kurang lebih 60-65˚C ditambahkan enzim gluco-amylase sebanyak 10-15 ml, biarkan sampai dingin kurang lebih 2-3 hari.
6.Penyaringan
Setelah larutan menjadi dingin lakukan penyaringan dan pemerasan/pengepresan dengan menggunakan kain atau menggunakan alat pengepres mekanik.
7.Perebusan II
Larutan sebanyak 50 liter yang telah disaring dan dipisahkan ampasnya, kemudian direbus lagi. Kemudian tambahkan asam asetat sebanyak 200 ml. Setelah mendidih tambahkan ZA (ammonium sulfat) sebanyak 150 gram.
8.Fermentasi / inkubasi
Siapkan nampan bersih, tutup koran dengan diikat karet ban secara melingkar pada bagian tepi nampan, lalu susun pada rak. Jika media larutan singkong telah mendidih, kemudian buka salah satu bagian ujung nampan, tuangkan larutan dalam keadaan mendidih ke dalam nampan kemudian ditutup kembali dan diikat dengan tali karet ban, disusun tumpuk bersilangan hingga 6-8 nampan di rak. Setelah dingin, kemudian diinokulasi dengan penambahan bibit Acetobacter xylinum sebanyak 10 % atau kurang lebih 100-120 ml, biarkan hingga 8-10 hari.

Sukses Budidaya Kambing



Jual Probiotik
087731375234

Kambing adalah salah satu hewan ternak yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Daging kambing banyak diminati karena aroma khas daging kambing sangat disukai oleh penggemarnya. Di Indonesia kuliner sate kambing, tongseng kambing, dan lain-lain, sangat populer di Indonesia. Selain itu, daging kambing juga telah banyak dikalengkan menjadi  produk kemasan yang menarik, tahan lama, dan dipasarkan luas. Oleh karena itulah permintaan daging kaming terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, saat ini peternakan kambing di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan yang ada. Hal ini disebabkan   budidaya kambing di Indonesia secara umum belum dilakukan secara intensif, sehingga kapasitas produksinya masih rendah. Hal ini menjadi peluang yang menarik untuk mengusakan budidaya kambing. Di Indonesia, jenis kambing yang sudah umum dibudidayakan di antaranya adalah kambing Jawa, kambing Gibas, PE (peranakan etawa).  Langkah-langkah dalam budidaya kambing adalah sebagai berikut:
1. Pembuatan Kandang
Untuk beternak kambing  hal pertama yang harus di perhatikan adalah kualitas  kandang. Ukurannya harus sesuai dengan jumlah kambing yang akan kita pelihara. Kandang harus memudahkan kita melakukan pengawasan terhadap kambing yang ada pada kandang, memudahkan kita dalam pemberian pakan dan aman serta kuat bagi si kambing. Sirkulasi udara yang cukup, dan pencahayaan matahari yang cukup (tidak terlalu panas dan tidak terlalu lembab).  Kandang cukup kokoh dan biayanya layak terjangkau sehingga mampu bertahan lama. Kandang yang akan dibuat hendaknya minimal berjarak 10 meter dari rumah agar menghindari bau yang tidak sedap  yang dapat mengganggu kesehatan.
Pada umumnya tipe kandang yang baik bagi ternak kambing adalah yang berbentuk panggung. Kandang panggung memiliki kolong untuk menampung kotoran di bagian bawah kandang, berfungsi menghindari kebecekan serta kontak langsung dengan tanah yang bisa jadi tercemar penyakit. Lantai kandang di tinggikan antara 1 – 2 meter, bak untuk pakan dapat di tempelkan pada dinding kandang dengan ketinggiannya sebahu kambing. Dasar kolong kandang bagian pinggir di gali sedalam ±20 cm dan 30-50 cm pada bagian tengah serta di buatkan saluran yang menuju bak penampung kotoran yang selanjutnya dapat di proses untuk menjadi pupuk kandang.
Ukuran kandang: jika ingin memelihara kambing terpisah, bisa dengan ukuran 1,5 x 1,5 meter untuk 1 ekor kambing dewasa, jika kambing masih kecil tapi sudah di sapih bisa muat 2 ekor kambing. Sedangkan bagi kambing yang baru di lahirkan, kandang ini cukup utuk 2 ekor kambing kecil beserta induknya. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan kandang agar kambing tidak mudah terserang penyakit. Jika kandang sudah pernah digunakan oleh kambing yang terserang penyakit, lebih baik kandang di desinfektan terlebih dulu. Tapi kalo kambingnya sehat cukup di cuci menggunakan air bersih saja. Kandang dan lingkungan disekitarnya juga tidak boleh lembab dan juga bebas dari genangan air, agar tidak di jadikan sarang nyamuk atau hewan sejenis lain yang dapat menggigit dan menghisap darah si kambing.
2. Pemilihan bibit yang bagus
Kambing Jawa cirinya adalah badannya kecil dan relatif pendek, telinganya juga pendek dan tegak, baik jantan maupun betinanya memiliki sepasang tanduk, lehernya yang pendek dan punggung meninggi, warna bulu bervariasi, ada yang tunggal hitam, coklat, merah atau belang hitam putih dan rasa kambing ini juga enak, banyak yang menyukainya. Jenis kambing ini lebih mudah perawatannya karena lebih tahan terhadap penyakit dan memiliki presentase perkembangbiakan yang bagus.
Sedangkan kambing Etawa ukuran tubuhnya lebih tinggi dan lebih besar serta telinganya memanjang ke bawah sepanjang 15 – 30 cm. Bagian hidung ke atas melengkung dan warna bulunya bervariasi antara coklat, putih dan hitam adalah yang paling sering dijumpai. Bagi kambing jantan memiliki bulu tebal dan agak panjang di daerah pundak dan di bawah leher, sedangkan kambing betinanya di bagian bawah ekor. Kambing ini bisa menghasilkan susu yang banyak, sehingga sering di gunakan juga sebagai penghasil susu. Tapi, kambing ini juga sangat cocok untuk di jadikan sebagai kambing penghasil daging.
Setelah mengenal jenis kambing yang akan di pelihara barulah memilih bibit yang berkualitas dan di butuhkan ketelitian, tentunya kita tidak ingin salah memilih kambing yang terkena penyakit dan bahkan bisa menular. Usia kambing yang di jadikan bibit harus sudah mencapai 4 bulan, karena pada saat itu kambing sudah berkonsentrasi pada pembentukan daging dan lebih mudah untuk di gemukkan.
Pilihlah yang bulunya mengkilap, matanya bening, tidak cacat, kakinya lurus kokoh dan tumitnya terlihat tinggi. Mulut dan hidung bersih tidak berlendir, sebagai tanda kambing tidak penyakitan, anusnya pun bersih. Garis pinggang dan garis punggung tulang belakang lurus, tidak melengkukng ke bawah. Usia ideal penggemukkan adalah sekitar 8 – 12 bulan. Ukuran badannya juga normal tidak kurus maupun terlalu gemuk / kelebihan. Sebaiknya juga pilih yang bentuk ekornya melebar bukan yang berbentuk seperti cambuk. Menurut para peternak, kambing yang memiliki ekor berbentuk cambuk pembentukan dagingya tidak terlalu maksimal / terlalu lamban. Sedangkan kambing yang memiliki bentuk ekor melebar lebih maksimal dalam pembentukan daging, yaitu sekitar 3 bulan.
3. Pemilihan pakan yang mencukupi kebutuhan gizi
Pakan adalah hal yang terpenting untuk menunjang proses penggemukan kambing, yaitu suatu aktivitas pemeliharaan kambing yang sebelumnya dalam kondisi kurus selanjutnya di tingkatkan berat badannya melalui proses pembesaran daging yang memakan waktu sekitar 3 – 5 bulan lamanya. Makanan kambing biasanya berupa hijau – hijauan segar, seperti: rumput, daun lamtoro, daun turi, daun singkong yang berprotein cukup tinggi, daun nangka dan daun pepaya. Tapi sebelum memberikan daun – daunan hijau pada kambing sebaiknya di lakukan penjemuran atau di layukan terlebih dahulu, sekitar 2 – 3 jam di bawah terik matahari yang bertujuan untuk menetralkan kemungkinan racun berbahaya yang ada di dalam daun – daunan hiaju tersebut.
Jika kambing sampai keracunan, si kambing bisa mabok, sakit dan bahkan mengalami kematian. Selain itu, kambing juga bisa diberi jerami (dari tanaman jagung, kedelai, padi, tebu atau yang lainnya), kulit umbi – umbian (seperti kulit singkong, ubi jalar dan yang lainnya), kulit kacang – kacangan (bisa kacang tanah ataupun kulit kopi), serta sayur – sayuran sisa dari pasar.
Kambing juga membutuhkan makanan padat atau konsentrat yang berguna untuk mempercepat penggemukan. Bisa di beli di toko pakan ternak atau di ganti menggunakan bekatul, ampas tahu dan ketela pohon yang sudah di cacah dengan perbandingan 40% : 40% : 20% . Kombinasi bahan tersebut harus mencapai 3 kg, karena sebanyak itulah yang harus di konsumsi 1 ekor kambing per harinya.
Kambing di beri makan 2 kali sehari, jam 8 pagi dan jam 4 sore. Pakan hijau – hijauan tidak di anjurkan di berikan bersamaan dengan pakan konsentrat, karena kandungan nutrisinya berbeda. Di sarankan, sebaiknya pakan konsentrat di berikan saat kambing sudah banyak mengkonsumsi hijau – hijauan, tapi belum juga terlihat kenyang. Jangan lupa juga untuk memberi minum dengan air bersih sekitar pukul 3 sore. Minuman yang paling bagus adalah air cucian beras yang sudah di campur dengan sedikit bekatul atau dedak.
Selain di berikan rumput, daun hijau dan juga makanan konsentrat. Kambing masih membutuhkan pakan pelengkap dengnan kandungan gizi ternak yang belum terdapat pada 3 jenis makanan sebelumnya. Pemberian pakan pelengkap ini bertujuan untuk lebih mengoptimalkan lagi pertumbuhan, kesehatan dan produksi ternak. Kambing dapat di berikan suplemen makanan yang mengandung asam amino esensial pembentuk sel dan organ tubuh, mengandung vitamin lengkap yang berguna untuk daya tahan tubuh dari serangan penyakit, serta mineral – mineral pelengkap (N, P, K, Ca, Mg, Cl dll) sebagai penyusun tulang dan darah, juga memperlancar proses metabolisme dalam tubuh. Bisa menggunakan suplemen merek Viterna yang bisa di larutkan bersamaan air atau pakan ternak yang akan di berikan.
4. Pemeliharaan kesehatan
Setelah kebutuhan pakan yang lengkap dan bergizi sudah tercukupi, selanjutnya adalah pemeliharaan atau perawatan si kambing. Tindakan pertama yang bisa kita lakukan adalah melakukan pencegahan terhadap penyakit yang bisa menyerang kambing peliharaan kita, seperti menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitarnya. Menurut pengalaman menjaga kebersihan kandang, memberi makanan sehat dan perawatan yang baik bisa menghilangkan bau pada kandang dan tubuh si kambing.
Lahan yang digunakan untuk memelihara atau yang di jadikan kandang harus bebas dari penyakit menular. Kambing yang di duga bulunya membawa penyakit sebaiknya di mandikan terlebih dahulu dan di gosok dengan larutan sabun karbol, Neguvon, Bacticol Pour, Triatex atau Granade 5% dengan konsentrat 4,5 gram untuk 3 liter air. Untuk membasmi kutu pada kambing, dapat di mandikan dengan larutan Asuntol dengan konsentrasi 3 – 6 gram untuk di larutkan pada 3 liter air.
Perlunya di lakukan vaksinasi secara rutin yang bertujuan untuk mencegah terjangkit penyakit yang di sebabkan oleh virus. Beberapa jenis penyakit yang sering menyerang kambing adalah: penyakit Parasit (cacingan, kudis, kutu), penyakit Bakterial (antraks, busuk kuku, cacar mulut), penyakit Virus, penyakit lain seperti keracunan sianida, kembung perut dan keguguran. Jika tidak segera di atasi bahkan bisa menyebabkan kematian. Maka perlunya pengamatan atau pemantauan pada ternak, jadi saat terdapat gejala penyakit tersebut terlihat pada kambing peliharaan kita, kita bisa segera tahu dan memastikan jenis penyakitnya serta cara pengobatannya sehingga mencegah penyakit tersebut menular ke kambing yang lainnya.
5. Cara reproduksi atau waktu kawin
Setelah semua persiapan, perawatan dan pemeliharaan baik dan benar yang sudah kita lakukan, hari demi hari si kambing akan tumbuh besar dan cukup dewasa untuk di kawinkan. Biasanya kambing potong yang berumur 8 – 10 bulan sudah siap untuk di kawinkan, tanda – tandanya adalah: kegelisahan, alat kelamin kambing menjadi kemerahan dan bengkak, ekor yang di gerak – gerakkan, dan juga berkurangnya nafsu makan.
Setelah di kawinkan kambing akan mengandung selama 5 – 6 bulan, lalu penanganan pada proses kelahiran juga di butuhkan. Kita perlu perhatikan tanda – tanda dari kambing potong yang ingin melahirkan, biasanya kambing akan menggaruk – garuk lantai kandang dan terlihat gelisah. Dalam hal ini, kita juga harus turut serta dalam proses kelahiran untuk menghindari hal- hal yang tidak di inginkan. Dengan pengelolaan yang baik kambing dapat melahirkan setiap 7 bulan sekali dan sekali melahirkan dapat menghasilkan 1 – 4 ekor anak kambing. Setelah 1 bulan semenjak sang induk kambing melahirkan maka induk kambing sudah bisa kita kawinkan kembali dengan kambing pejantan.
Setelah proses kelahiran, anak kambing yang baru lahir tersebut juga perlu perawatan yang baik dan benar. Memastikan sang anak mendapat susu dari si induk, agar si anak memperoleh asupan susu yang tepat dari sang induk karena terkadang si induk enggan menyusui anaknya, ini bisa menyebabkan anak kambing kekurangan gizi. Jika keadaannya seperti itu, kita bisa memberi si anak kambing susu buatan. Biasanya penyapihan anak kambing bisa di lakukan setelah usianya mencapai 3 – 4 bulan, setelah itu anakan kambing ini dapat di jual sebagai bakalan bibit. Sedangkan setelah umur 10 bulan ke atas barulah kambing dapat di panen untuk di ambil dagingnya.
Beternak kambing ini relatif mudah untuk di lakukan. Sebenarnya kalau pemilihan bibitnya benar sehingga mendapatkan bibit yang bagus dan sehat, serta kebersihan kandang yang kita selalu jaga maka tidak perlu khawatir akan penyakit yang mengancam. Memang di butuhkan ketekunan dan kesabaran dalam beternak kambing, karena waktu yang di butuhkan sampai dengan masa panen cukup lama. Namun, hasilnya cukup lumayan kalau dilakukan secara intensif dalam jumlah cukup banyak.

Teknik Pembuatan Bioetanol





Jual Enzim Alfa Amylase, Gluco Amylase, Cellulose
087731375234

Bioetanol adalah merupakan etanol (etil alkohol) yang proses produksinya menggunakan bahan baku alami dan proses biologis. Sedangkan etanol sintetik diperoleh dari sintesis kimiawi senyawa hidrokarbon. Etanol yang digunakan sebagai bahan bakar kendaraan memiliki struktur kimia yang persis sama dengan etanol yang ditemukan pada minuman keras. Etanol yang digunakan untuk bahan bakar disebut dengan Fuel Grade Ethanol (FGE) dengan tingkat kemurnian 99.5%
Bahan baku yang digunakan untuk produksi bioetanol dapat menggunakan glukosa. Gula (glukosa) merupakan bentuk bahan baku yang paling sederhana dengan rumus kimia C6H12O6 , berbeda dengan pengertian gula sehari-hari yang mengandung sukrosa, laktosa dan fruktosa. Gula dapat diperoleh dari tebu (sugar cane) melalui hasil sampingan produksinya berupa tetes (molases). Sebagai bahan baku bioetanol, glukosa dapat langsung digunakan dalam proses pembuatan bioetanol.
Glukosa dapat dihasilkan dari bahan yang mengandung pati tinggi seperti jagung,  singkong, sagu dan umbi-umbian lainnya yang mengandung karbohidrat. Rumus kimia dari pati adalah (C6H10O5)n dengan jumlah n antara 40 – 3.000. Sebagai bahan baku bioetanol, pati membutuhkan proses untuk memecah ikatan kimianya menjadi glukosa. untuk memecah pati menjadi glukosa digunakan enzim alfa amylase dan gluco amylase. Enzim alfa amylase berperan untuk proses likuifikasi yaitu memecah pati menjadi dekstrin, sedangkan gluco amylase berfungsi memecah dekstrin menjadi glukosa (sakarifikasi) yang memiliki rasa manis. Penggunaan bahan pati sebagai bahan baku bioetanol secara umum akan bersaing dengan cadangan pangan bagi manusia, yang pada akhirnya akan meningkatkan harga bahan pangan.
Bahan baku pembuatan bioetanol juga bisa dengan memanfaatkan biomasa berasal dari selulosa. Selulosa merupakan polisakarida dengan rumus kimia (C6H10O5)n, dengan jumlah n ribuan hingga lebih dari puluhan ribu, yang membentuk dinding tanaman dan kayu. Selulosa merupakan senyawa organik yang paling banyak jumlahnya di muka bumi. Sekitar 1/3 komposisi tanaman adalah selulosa yang tidak tercerna oleh manusia. Karena tidak bersaing dengan bahan pangan, maka selulosa diperkirakan akan mendominasi bahan baku bioetanol di masa mendatang. Sebagai bahan baku bioetanol, selulosa membutuhkan pengolahan awal yang lebih intensif dibandingkan dengan bahan baku lain. Bahan mengandung selolase diantaranya jerami padi, kulit kacang, tongkol jagung, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut ketersediaannya cukup melimpah yang masih belum dimanfaatkan secara baik untuk menghasilkan produk bernilai ekonomis tinggi. Bahan tersebu sebelum diproses sebaiknya dikeringkan terlebih dahulu, kemudian digiling menjadi tepung.
Untuk melakukan proses hydrolysis (merubah struktur selulosa menjadi glukosa) dapat ditempuh menggunakan penambahan asam yang dilarutkan pada suhu dan tekanan tinggi. Proses tersebut membutuhkan energi yang cukup besar sehingga net energy gain yang dihasilkan menurun. Selain itu kondisi yang asam akan menggangu proses fermentasi lanjutan, sehingga dibutuhkan proses perantara untuk menetralkan keasaman. Selain cara tersebut, juga dapat dilakukan dengan menggunakan enzim celulose, melalui proses pemanasan maka bahan selulosa tersebut dengan penambahan enzim celelose dan air, maka dihasilkan glukosa yang selanjutnya difermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae.
Bahan baku harus melalui proses pre-treatment dengan tujuan untuk meningkatkan kandungan glukosa bahan semaksimal mungkin sebelum memasuki tahap fermentasi. Kandungan glukosa ditingkatkan dengan merubah bentuk gula kompleks (polisakarida) menjadi gula sederhana. Proses pre-treatment sangat bergantung dari tipe bahan baku yang digunakan. Proses produksi bioetanol dilakukan melalui proses fermentasi yang menghasilkan alkohol dengan kadar rendah. Proses fermentasi merubah bahan baku glukosa menjadi alkohol dan residu karbon dioksida. Pada proses tersebut dibutuhkan bantuan ragi saccharomyces cerevisae dengan persamaan kimia sebagai berikut:
C6H12O6 → 2 CH3CH2OH + 2 CO2
Proses fermentasi menghasilkan alkohol dengan kadar maksimal hanya 7 – 9% ( 15% jika menggunakan strain ragi yang paling tahan alkohol). Untuk meningkatkan kadar etanol hingga mencapai Fuel Grade Ethanol (FGE) 99.5% dibutuhkan proses penyulingan (distillation) dan dehidrasi (dehydration). Proses penyulingan akan menghasilkan etanol dengan kadar maksimum 95.6% dan tidak bisa ditingkatkan lagi karena sifat azeotrope larutan etanol-air.
Untuk meningkatkan konsentrasi etanol hingga mencapai FGE dilakukan proses dehidrasi dengan beberapa metode antara lain:
1. Azeotropic Distillation
Penambahan benzene pada larutan alkohol-air untuk menghilangkan sifat larutan azeotrope. Dibutuhkan proses tambahan untuk memisahkan benzene dari larutan alkohol.
2. Molecular Sieve
Penambahan zat adsorbent untuk memerangkap air dari larutan etanol-air. Zat adsorbent yang jamak digunakan antara lain zeolite. Dalam proses yang lebih sederhana dapat digunakan kapur gamping (CaO) bubuk yang dilarutkan dalam larutan etanol-air.
3. Membrane Pervaporation
Proses pervaporation menggunakan membran porous atau non-porous untuk memfilter fase gas dari larutan azeotrope alkohol-air. Proses ini diklaim mengonsumsi energi relatif rendah karena memanfaatkan tekanan dan suhu rendah.

Peluang Bisnis Bioetanol





Jual Enzim Alfa Amylase, Gluco Amylase
087731375234


Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Produk bioetanol yang memenuhi standar, hampir bisa dikatakan tidak mempunyai efek samping yang merugikan selama dipakai memenuhi kriteria. Sebagai bahan bakar substitusi BBM pada motor berbahan bakar bensin; digunakan dalam bentuk neat 100% (B100) atau dicampur dengan premium (EXX). Gasohol s.d E10 bisa digunakan langsung pada mobil bensin biasa (tanpa mengharuskan mesin dimodifikasi).Gasohol campuran bioetanol kering/absolut terdena-turasi dan bensin pada kadar alkohol s/d sekitar 22 %-volume. Istilah bioetanol identik dengan bahan bakar murni.
Motor atau mobil yang menggunakan bahan bakar campuran bioetanol kerja mesinnya lebih bagus. Bisa membuat kendaraan sanggup menempuh jarak lebih jauh. Syaratnya, bioetanol yang digunakan sebagai campuran harus murni 99,5%. Artinya, nyaris tak tercampur zat lain. Pernah dilakukan uji coba pada dua buah motor. Satu motor diisi 1 liter bensin campur bioetanol, motor yang satunya diisi 1 liter bensin murni. Motor dengan bensin campur bioetanol mampu menempuh jarak 47 km, motor bensin murni 40 km. Gas buang bioetanol lebih sedikit polusinya. Itu karena gas buang bioetanol melepas karbondioksida lebih banyak dari pada karbonmonoksida. Karbondioksida adalah zat yang diperlukan tumbuhan untuk memasak makanan. Sebaliknya, gas buang bensin banyak mengandung karbonmonoksida yang merugikan kesehatan makhluk hidup. Pencampuran bioetanol juga bisa menghemat penggunaan bensin. Dalam setahun, kita bisa menghemat bensin sebanyak 1,5 juta kiloliter.  Pembakarannya lebih sempurna. Asapnya pun lebih ramah lingkungan dan tanaman ini dikenal gampang hidup. Tinggal tancap batangnya di tanah basah, ketela pohon (Manihot utilissima atau Manihot esculenta) niscaya tumbuh.
Teknologi Pengolahan Bioetanol secara umum mencakup 3 (tiga) rangkaian proses, yaitu:
1. Persiapan Bahan Baku
Bahan baku untuk produksi biethanol bisa didapatkan dari berbagai tanaman, baik yang secara langsung menghasilkan gula sederhana semisal tebu atau yang menghasilkan tepung seperti jagung, singkong dan gandum disamping bahan lainnya. Pembuatan bioetanol melibatkan proses fermentasi yang menghasilkan etanol dan limbah organik. Selama proses pengolahan limbah memenuhi kriteria yang telah ditentukan, tidak ada dampak lingkungan yang akan tercemari. Persiapan bahan baku beragam bergantung pada bahan bakunya, tetapi secara umum terbagi menjadi beberapa proses, yaitu : Tebu dan Gandum manis harus digiling untuk mengektrak gula. Tepung dan material selulosa harus dihancurkan untuk memecahkan susunan tepungnya agar bisa berinteraksi dengan air secara baik.
Pemasakan, Tepung dikonversi menjadi gula melalui proses pemecahan menjadi gula kompleks (liquefaction) dan sakarifikasi (Saccharification) dengan penambahan air, enzyme serta panas (enzim hidrolisis). Pemilihan jenis enzim sangat bergantung terhadap supplier untuk menentukan pengontrolan proses pemasakan.  Tahap Liquefaction memerlukan penanganan sebagai berikut : Pencampuran dengan air secara merata hingga menjadi bubur, Pengaturan pH agar sesuai dengan kondisi kerja enzim, Penambahan enzim (alpha-amilase) dengan perbandingan yang tepat, Pemanasan bubur hingga kisaran 80 sd 90 C, dimana tepung-tepung yang bebas akan mengalami gelatinasi (mengental seperti Jelly) seiring dengan kenaikan suhu, sampai suhu optimum enzim bekerja memecahkan struktur tepung secara kimiawi menjadi gula komplek (dextrin). Proses Liquefaction selesai ditandai dengan parameter dimana bubur yang diproses menjadi lebih cair seperti sup.
Tahap sakarifikasi (pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana) melibatkan proses sebagai berikut :  Pendinginan bubur sampai suhu optimum enzim sakarifikasi bekerja, Pengaturan pH optimum enzim, Penambahan enzim (glukoamilase) secara tepat, Mempertahankan pH dan temperature pada rentang 50 sd 60 C sampai proses sakarifikasi selesai (dilakukan dengan pengetesan gula sederhana yang dihasilkan)
2. Fermentasi
Pada tahap ini, tepung telah sampai pada titik telah berubah menjadi gula sederhana (glukosa dan sebagian fruktosa) dimana proses selanjutnya melibatkan penambahan enzim yang diletakkan pada ragi (yeast) agar dapat bekerja pada suhu optimum. Proses fermentasi ini akan menghasilkan etanol dan CO2. Bubur kemudian dialirkan kedalam tangki fermentasi dan didinginkan pada suhu optimum kisaran 27 sd 32 C, dan membutuhkan ketelitian agar tidak terkontaminasi oleh mikroba lainnya. Karena itu keseluruhan rangkaian proses dari liquefaction, sakarifikasi dan fermentasi haruslah dilakukan pada kondisi bebas kontaminan. Selanjutnya ragi akan menghasilkan ethanol sampai kandungan etanol dalam tangki mencapai 8 sd 12 % (biasa disebut dengan cairan beer), dan selanjutnya ragi tersebut akan menjadi tidak aktif, karena kelebihan etanol akan berakibat racun bagi ragi. Dan tahap selanjutnya yang dilakukan adalah destilasi, namun sebelum destilasi perlu dilakukan pemisahan padatan-cairan, untuk menghindari terjadinya clogging selama proses distilasi.
3. Pemurnian / Distilasi                                                                                                                         
Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer (sebagian besar adalah air dan etanol). Titik didih etanol murni adalah 78 C sedangkan air adalah 100 C (Kondisi standar). Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 78 - 100 C akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95 % volume. Semakin murni etanol, semakin bagus untuk mesin. Harga jualnya pun lebih tinggi.

Mengolah Singkong Menjadi Glukosa







Jual Enzim Alfa Amylase, Gluco Amylase
087731375234

Glukosa adalah salah satu gula monosakarida merupakan sumber karbohidrat yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga dekstrosa, terutama pada industri pangan. Glukosa (C6H12O6, berat molekul 180.18) adalah heksosa monosakarida yang mengandung enam atom karbon. Glukosa merupakan aldehida (mengandung gugus -CHO). Glukosa dapat diproduksi dari berbagai bahan yang mengandung pati seperti singkong, ubi jalar, jagung, sukun, dan lain-lain. Glukosa cair dapat menjadi sumber kebutuhan gula yang sangat diperlukan oleh banyak orang atau industri pengolahan pangan.
Proses pembuatan gula cair  terdiri atas dua tahap yaitu: tahap likuifikasi dan sakarifikasi dengan menggunakan enzim. Likuifikasi merupakan pemecahan pati menjadi dekstrin dengan bantuan enzim alfa-amilase.Sedangkan sakarifikasi berupa penguraian dekstrin menjadi glukosa dengan enzim amiloglukosidase.Pada tahap likuifikasi, tapioka dicampur air dengan perbandingantiga liter air 1 Kg tapioka, sambil diaduk rata tambahkan1 ml enzim alfa-amilase per kg pati tapioka, panaskan pada suhu 95-105 oC. Tingkat keasaman larutan juga dipertahankan pada pH 6,0-6,5.
Proses selanjutnya adalah sakarifikasi yang berlangsung selama 76 jam yaitu dengan mendinginkan media larutan hingga suhu 60oC, kemudian tambahkan 1 ml enzim amiloglukosidase per kg pati. Arang aktif mampu mengikat, menggumpalkan, dan mengendapkan kotoran-kotoran yang terdapat dalam gula cair.Selain itu arang aktif berfungsi menghentikan aktivitas enzim.Setelah itu lakukan penyaringan untuk memisahkan gula cair dengan karbon aktif dan endapan kotoran. Penyaringan bertujuan menghasilkan gula cair dengan tingkat kejernihan 93%.Bila belum tercapai, ulangi kembali penyaringan.
Tahap terakhir adalah evaporasi.Produsen memasukkan gula cair yang telah melewati tabung penukar ion itu ke dalam evaporator untuk meningkatkan kemurnian gula. Proses evaporasi berlangsung pada suhu 50-60oC. Indikasi evaporasi selesai ketika gula cair berhenti menetes dari pipa evaporator. Dengan pemurnian itu kadar kemanisan gula cair meningkat, semula 30-36o briks menjadi 60-80o briks.
Tahapan Proses Membuat Gula Cair Bahan Baku Singkong
1.      Larutkan tepung tapioka dalam air dengan perbandingan 1 : 3.
2.      Panaskan pada suhu 95-105oC dan tambahkan 0,8 ml enzim alfa-amilase per kg pati sembari diaduk rata.
3.      Setelah mendidih, turunkansuhu larutan hingga bersuhu 60oC. Kemudian tambahkan 1 ml enzim amiloglukosidase per kg pati. Diamkan larutan selama 76 jam hingga menjadi cairan gula.
4.      Tambahkan 0,5-1% arang aktif per kg pati ke dalam gula cair untuk mengikat, menggumpalkan, dan mengendapkan pati, serta menghentikan aktivitas enzim.
5.      Lakukan penyaringan larutan untuk memisahkan gula cair dari karbon aktif dan kotoran sehingga tingkat kejernihan gula 93%. Bila belum tercapai, ulangi kembali pemucatan dan penyaringan.
6.      Alirkan gula cair melalui tabung berisi penukar ion untuk mengikat dan memisahkan ion-ion logam dan kotoran dalam gula cair. Tabung penukar ion terdiri atas 3 tabung masing-masing berisi resin kation, kation, dan campuran anion dan kation.
7.      Evaporasi gula ke dalam evaporator untuk meningkatkan kadar gula. Proses evaporasi berlangsung pada suhu 50-60oC.

Membuat Casapro Pakan Ternak



Jual Aspergillus niger
087731375234


Salah satu aspek yang sangat menentukan keberhasilan dalam usaha peternakan adalah ketersedian pakan dalam jumlah yang cukup dan memenuhi gizi yang berkualitas. Kebutuhan pakan merupakan variable biaya yang member andil  70% dari biaya pemeliharaan secara keseluruhan. Ketergantungan peternak kepada pakan pabrikan yang mahal menjadi salah satu masalah yang perlu mendapat solusi agar para peternak menadapat laba yang lebih optimal. Oleh karena itu, para peternak perlu memanipulasi pakan secara efektif dan efesien dengan mengembangkan pakan alternatif.
Hewan ternak sangat membutuhkan pakan yang memiliki kadar protein tinggi. Tuntutan akan kebutuhan pakan  dengan kandungan protein tinggi semakin meningkat. Saat ini, Indonesia masih harus mengimpor pakan berkualitas baik dari negara lain. Oleh sebab itu, pengembangan pakan ternak perlu dilakukan dengan memanfaatkan potensi  sumber daya lokal  yang ada di sekitar kita seperti onggok singkong, bungkil kelapa, bungkil kedelai, bekatul atau dedak, dan lain-lain. Kandungan gizi bahan-bahan tersebut cukup tinggi, dan kita dapat meningkatkan kandungan gizinya dengan melakukan fermentasi dengan memanfaatkan mikroba fermenter. Salah satu bahan yang cukup melimpah yang dimiliki oleh Indonesia adalah singkong atau ubi kayu.
Umbi singkong dapat digunakan sebagai pakan ternak karena kandungan pati, tapi kadar proteinnya rendah berkisar (1-3%). Peningkatan kadar protein singkong dapat dilakukan  dengan proses fermentasi dengan kapang Aspergillus niger. Umbi singkong memenuhi kriteria sebagai bahan pakan ternak karena harganya yang relatif murah, mudah didapatkan, dan kandungan patinya tinggi sehingga dapat digunakan sebagai karbohidrat terlarut. Peningkatan kandungan protein pada singkong dapat menjadikan singkong sebagai sumber pakan ternak dengan kualitas yang baik. Umbi singkong yang telah difermentasikan dengan menggunakan kapang A. niger dikenal sebagai  Cassapro (cassava protein).
Cassapro dapat digunakan sebagai bahan  tambahan pada pakan ternak. Penambahan cassapro juga dapat meningkatkan daya  cerna ternak terhadap pakan. Hal tersebut  disebabkan karena Aspergillus niger  mampun menghasilkan enzim-enzim  pencernaan seperti selulase, amilase, protease, fitase, dan mananase yang dapat membantu mencerna pakan ternak. Kadar protein pada singkong dengan perlakuan amonium sulfat setelah fermentasi selama tiga hari mengalami peningkatan, yaitu dari 2-3% pada 0 hari menjadi 2-6% setelah fermentasi selama 3 hari. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fermentasi singkong dengan menggunakan Aspergillus niger dapat meningkatkan kadar protein menjadi 100 %. Hal ini sangat menguntungkan karena dapat memacu pertumbuhan hewan ternak.

Sabtu, 24 November 2018

Membuat Minyak Goreng Kelapa






Minyak goreng kelapa saat ini sangat digemari oleh konsumen di Indonesia karena dinilai lebih sehat. Saat ini terdapat aneka produk minyak goreng kelapa di pasaran yang merupakan produksi home industri atau pabrikan.  Permintaan minyak goreng kelapa cukup tinggi, dan harga di pasaran juga cukup menarik berkisar Rp.25.000 -28.000. Tentu hal ini merupakan peluang bisnis yang cukup menjajikan. Sedangkan ketersediaan kelapa di Indonesia cukup melimpah, hampir di seluruh wilayah Indonesia terdapat tanaman kelapa
Proses produksi minyak goreng kelapa relatif mudah dan dapat dilakukan dengan investasi yang tidak terlalu tinggi sehingga dapat dilakukan dalam skala home industri. Minyak goreng kelapa diperoleh dari daging buah kelapa (Cocos nucifera), yang dapat diproses secara kering dan secara basah. Proses pembuatan minyak secara kering dilakukan dengan membuat kopra kemudian dikempa untuk menghasilkan minyak. Proses pembuatan minyak kelapa secara basah dikelompokkan menjadi 2 cara, yaitu proses esktraksi dan proses fermentasi. Cara membuatan minyak kelapa dengan fermentasi akan memberikan beberapa kemudahan, yaitu : tidak boros energi, waktu proses lebih cepat, dan juga produksi dalam skala besar akan sangat menguntungkan.
Kelapa dikenal sebagai tanaman serba guna, karena seluruh bagian tanaman ini bermanfaat bagi kehidupan manusia. Selain sebagai salah satu sumber minyak nabati, tanaman kelapa juga sebagai sumber pendapatan bagi keluarga petani, sebagai sumber devisa negara, penyedia lapangan kerja, pemicu dan pemacu pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru, serta sebagai pendorong tumbuh dan berkembangnya industri hilir berbasis minyak kelapa dan produk ikutannya.
Beberapa jenis kelapa yang bisa Anda gunakan adalah kelapa dalam, kelapa dalam, kelapa hibrida, dan kelapa deres. Kelapa dalam mulai berbuah agak lambat (antara 6-8 tahun), dengan keunggulan antara lain: daging buah tebal dengan kadar minyak yang tinggi, dan lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Kelapa hibrida diperoleh dari hasil persilangan antara kelapa varietas genjah dan varietas dalam. Sifat-sifat unggul yang dimiliki kelapa hibrida antara lain: lebih cepat berbuah (sekitar 3-4 tahun setelah tanam), daging buah tebal, keras, dan kandungan minyaknya cukup tinggi.
Produksi minyak kelapa dengan proses fermentasi, merupakan pengganti proses pembuatan minyak kelapa dengan menggunakan panas yang boros energi, dan karena jumlah energi yang tidak terkendali dapat menghasilkan minyak dengan kualitas yang konstan setiap saat, hanya dengan mengatur perbandingan bahan baku dengan ragi atau enzim yang dipergunakan, dan teknologi fermentasi ini dapat dilakukan di rumah. 
Minyak kelapa merupakan minyak yang diperoleh dari kopra (daging buah kelapa yang dikeringkan) atau dari perasan santannya. Kandungan minyak pada daging buah kelapa diperkirakan mencapai 30%-35%, atau kandungan minyak dalam kopra mencapai 63%-72%. Minyak kelapa sebagaimana minyak nabati lainnya merupakan senyawa trigliserida yang tersusun atas berbagai asam lemak dan 90% diantaranya merupakan asam lemak jenuh. Selain itu minyak kelapa yang belum dimurnikan juga mengandung sejumlah kecil komponen bukan lemak seperti fosfatida, gum, sterol, tokoferol, asam lemak bebas, dan sedikit protein dan karoten. Sterol berfungsi sebagai stabilizer dalam minyak dan tokoferol sebagai antioksidan.
a. Alat yang diperlukan:
Stoples plastic yang dilubangi dan dihubungkan dengan slang plastik sepanjang 30 cm.
Waskom
Saringan
Gelas ukur
Beker gelas
Timbangan
Thermometer
b. Bahan
Kelapa yang sudah diparut sebayak 1 kg
Air hangat dengan suhu 50-600C
Ragi roti (permifan)
C.  Urutan Proses Pembuatan  Minyak Kelapa Goreng 
Pembuatan krim santan
Hal pertama yang harus dilakukan adalah memarut kelapa, proses pemarutan kelapa itu sendiri bisa dilakukan dengan menggunakan tangan atau agar lebih mudah dan efisien bisa menggunakan mesin parut kelapa.
Kelapa yang telah diparut disiram dengan air hangat (suhu 50-600C) sebanyak 1 liter, kemudian diperas hingga diproleh santan sebanyak 1,5 liter. Untuk memproleh hasil yang maksimal, ampas yang diperoleh dapat disiram lagi dengan air hangat sebanyak 0,5 liter, kemudian diperas kembali. Anda juga bisa menggunakan Mesin Pemeras Santan Kelapa Model Ulir.
Santan yang diperoleh dimasukkan kedalam stopels yang telah dihubungkan dengan selang plastik pada bagian dasarnya.
Menutup stoples yang telah berisi santan dengan kertas agar tidak banyak
terkontaminasi, kemudian menyimpan selama 6-12 jam agar terjadi pemisahan antara air dan krim santannya.
Setelah air dan krim santan tampak terpisah. Membuang airnya melalui selang pada bagian dasar stoples, sehingga tertinggal didalam stoples hanya krim santannya saja.
Fermentasi dan inkubasi
Menimbang krim santan yang diperoleh, kemudian menambahkan ragi roti sebayak 0.5 % dari berat krim santan tersebut, kemudian mengaduknya hingga merata.
Menutup dan menyimpan krim santan yang telah dikasih ragi didalam ruang inkubasi dengan suhu 300C selama 24 jam. Selama inkubasi ini proses fermentasi oleh ragi akan berlangsung.
Setelah masa inkubasi mencapai 24 jam, minyak yang terbentuk akan tampak berada dipermukaan. Kemudian memisahkan minyak tersebut dari bahan-bahan lain yang mengendap dibawahnya, kemudian memanaskan selama 10-40 menit.
Setelah itu memasukan minyak dalam stoples
Untuk memperoleh mutu minyak kelapa yang lebih baik, biasanya dilakukan proses pemurnian. Tujuan dari pemurnian adalah untuk menghilangkan kotoran yang larut dalam minyak. Kotoran-kotoran ini dapat berupa larutan atau suspensi koloid dan terdiri dari getah, resin, zat warna, protein, keton, aldehid, dan senyawa-senyawa lain yang menyebabkan rasa yang tidak disukai. Dengan adanya asam lemak jenuh yang cukup tinggi, sebenarnya minyak kelapa sebagai minyak makan mempunyai nilai kesehatan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan minyak sawit atau minyak jagung yang dapat mencegah naiknya kadar kolesterol dalam tubuh kita.
Asam lemak tidak jenuh dan asam lemak bebas akan mudah teroksidasi oleh oksigen di udara. Oleh sebab itu, minyak kelapa yang disimpan terlalu lama akan menjadi getir atau tengik karena terbentuknya macam-macam aldehida dan peroksida. Bau tengik ini dapat dinetralisir dengan menggunakan irisan bawang putih, roti tawar tua, atau irisan kentang. Sebaiknya, minyak disimpan dalam kaleng yang diberi sedikit garam untuk mencegah timbulnya bau tengik.

Mengolah Kopi



Jual Probiotik Untuk Fermentasi Biji Kopi
087731375234



Kopi adalah salah satu komoditas pertanian yang sangat digemari di seluruh dunia. Selain cita rasa nya yang nikmat dan mengusir rasa kantuk, minum kopi telah menjadi tradisi yang kuat bagi banyak kalangan merekatkan nilai-nilai kekeluargaan, kebersama antara teman bisnis, keluarga, teman ngobrol, dan lain-lain. Oleh karena itu, kopi telah menjadi komoditas unggulan semenjak dahulu hingga sekarang. Oleh karena itu, kopi merupakan bisnis yang sangat menjanjikan karena memiliki nilai ekonomis tinggi dan diminati banyak kalangan. Selain itu, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi yang cukup besar sehingga ketersediaannya cukup melimpah. Wilayah subtropis dan tropis merupakan lokasi yang baik untuk budidaya kopi.
Jenis kopi yang paling banyak digunakan adalah jenis kopi arabika dan robusta, masing-masing biji kopi memiliki cita rasa tersendiri dari daerah asalnya masing-masing. Kopi arabika hanya dapat tumbuh pada negara-negara yang beriklim tropis dan sub-tropis di ketinggian 600 – 2000 m diatas permukaan laut dengan suhu rata-rata  yang berkisar antara 18°C-26°C. Kopi Robusta memiliki cita rasa yang lebih pahit dan memiliki rasa asam. Selain itu kopi robusta lebih tahan terhadap hama dan penyakit tanaman lainnya. Kopi robusta relatif lebih bisa tumbuh diberbagai daerah dibandingkan dengan arabika. Kopi arabika juga memiliki rasa yang lebih ringan dan tidak asam seperti robusta. Dengan rasa yang lebih ringan ini membuat kopi arabika lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat.
Jika kita ingin berbisnis mengolah kopi, sebaiknya kita belajar dahulu bagaimana mengolah kopi yang baik dan benar. Ada beberapa cara dalam mengolah minuman kopi, dari cara yang tradisional sampai ke cara yang lebih modern dengan menggunakan teknologi. Pada awal jaman ditemukannya kopi pertama kali, kopi dikonsumsi dengan cara dimakan bersama lemak hewan dan anggur. Nah, setelah kopi sampai di daratan Arab pengolahan kopi mulai berubah, pada saat itu orang-orang Arab mengkonsumsinya dengan cara merebusnya terlebih dahulu lalu diminum. Ada dua cara penyajian kopi yang umum dilakukan yaitu sebagai berikut:
1.) Kopi Seduh atau yang kita lebih kenal dengan kopi tubruk merupakan jenis pengolahan yang paling umum digunakan dalam mengolah minuman kopi. Cara membuat kopi tubruk sangatlah mudah dan semua orang dapat melakukannya, hanya dengan menuangkan bubuk kopi kedalam gelas lalu diseduh dengan air panas. Sisi negatif dalam membuat kopi tubruk adalah dengan ampasnya, dimana setelah kita olah tidak dapat langsung dikonsumsi dan harus menunggu sampai ampasnya turun. Tapi kopi tubruk juga dapat disajikan dengan gelas presser yang berguna untuk menyaring ampas kopi tersebut.
2.) Mungkin yang satu ini agak kedengaran asing, yaitu Espresso Brewing. Cara ini merupakan sebuah jenis pengolahan kopi menggunakan mesin bertekanan tinggi yang mengekstraksi kopi yang menghasilkan intisari kopi dan crema. Jenis pengolahan ini sering kita jumpai apabila kita datang ke sebuah cafe ataupun coffee shop dimana pengolahannya menggunakan mesin espresso. Espresso juga memiliki cita rasa serta kualitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kopi tubruk dan tidak memiliki ampas. Tidak semua orang dapat mengoperasikan serta mengolah kopi dengan mesin espresso, harus memiliki keahlian jika ingin teknik pengolahan ini. Orang yang dapat mengoperasikan mesin espresso disebut sebagai Barista, tidak hanya sebagai sebutan Barista juga telah menjadi deskripsi pekerjaan pada zaman ini.
Pengolahan Kopi Biji menjadi Kopi Bubuk Arabika
1. Pengupasan Kulit Ari (Kulit Tanduk)
Pemisahan ini bertujuan untuk memisahkan biji kopi yang sudah kering dari kulit tanduk dan kulit ari. Proses ini bisa kita kerjakan dengan manual atau agar hasil yang didapat lebih optimal bisa dengan menggunakan mesin pengupas biji kopi.
Sortasi Biji Cacat
Tahap ini dilakukan dengan tujuan untuk membersihkan kopi dari kopi berkulit tanduk dan juga dari kotoran seperti pasir, kerikil, ataupun kotoran lainnya yang masih menempel.
Penyangraian
Kunci dari pengolahan kopi bubuk itu terletak pada proses penyangraiannya. Pernyangraian ini bertujuan untuk mendapatkan biji kopi yang berwarna cokelat kehitaman. Proses penyangraian ini bisa dilakukan dengan cara yang cukup sederhana, yaitu dengan menggunakan wajan penggoreng dengan api sedang. Selanjutnya kopi didinginkan dan dihamparkan pada sebuah tampi dan dibiarkan sampai kopi benar-benar dingin.
Penggilingan Pertama
Setelah biji kopi sudah menjadi dingin, langkah selanjutnya yaitu penggilingan, proses penggilingan ini bertujuan untuk mendapatkan bubuk kopi, bisa dilakukan dengan menggunakan mesin penggiling biji kopi.
Penggilingan Kedua
Penggilingan biji kopi yang kedua ini bertujuan agar bubuk kopi yang dihasilkan bisa menjadi lebih halus secara sempurna. Penggilingan yang kedua ini bisa dilakukan dengan menggunakan mesin yang sama.
Pengayakan
Pengayakan kopi dilakukan untuk menyaring kopi bubuk yang telah digiling oleh mesin. Pengayakan dilakukan menggunakan ayakan manual terbuat dari plastik. Untuk mendapat hasil pengolahan yang optimal. Proses pengolahan kopi bubuk sebaiknya dilakukan secara kelompok. Unit produksinya diharapkan menjadi salah satu bagian integral dari kegiatan pengolahan produk primernya sehingga pasakon bahan baku terjamin.
Semoga Sukses…

Cara Mengolah Singkong Menjadi Tepung Mocaf






Jual Formula Bio-Mocaf
087731375234


Singkong adalah salah satu produk pertanian unggulan Indonesia. Singkong dapat  diolah menjadi aneka produk yang sangat bernilai ekonomis diantaranya diolah sebagai pakan ternak, tepung tapioka, gula cair, bioethanol, nata de cassava, dan berbagai aneka makanan camilan seperti keripik balado, thiwul, selondok, dan lain-lain. Saat ini, temuan terbaru produk olahan singkong adalah tepung mocaf yang memiliki karakteristik sebagai penggganti terigu.
Mocaf (Modified Cassava Flour) adalah produk olahan singkong menjadi tepung yang difermentasi sehingga memiliki tekstur yang baik, warna putih, dan aroma tidak berbau singkong. Tepung mocaf kini kian popular, karena tepung mocaf memiliki karakteristik yang bagus mampu menyubstitusi terigu. Saat ini kebutuhan tepung terigu nasional sangat tinggi, sedangkan pasokan masih harus didatangkan dari luar negeri, karena Indonesia tidak mampu memproduksi gandum yang merupakan bahan dasar terigu.


Beberapa kendala dalam industri tepung mocaf antara lain adalah; harga singkong yang seringkali fluktuatif dipengaruhi masa panen yang tidak kontinue. Beberapa daerah di Indonesia memang bisa produksi singkong secara kontinue sehingga harganya bisa stabil dan terjangkau untuk industri. Saat ini harga singkong agak naik seiring berkembangnya industri berbasis singkong seperti; tapioka, mocaf, bioetanol, sorbitol, gula cair, pakan ternak, industri makanan camilan, dan lain-lain. Berkembangnya industri berbasis singkong hendaknya ditopang pertanian singkong yang optimal. Saat ini para petani masih banyak yang enggan bertanam singkong karena dirasa panennya lama dan harganya murah dibandingkan komoditas yang lain. Dan untuk beberapa daerah tertentu pemasarannya dalam jumlah besar tidak mudah karena  belum ada industri pengolahannya. Jika masing-masing daerah membangun industri pengolahan singkong maka produksi singkong dapat ditingkatkan dan petani tidak kesulitan untuk memasarankannya. Agar petani mendapat produksi yang maksimal, maka sebaiknya menggunakan bibit singkong yang unggul dan teknik budidaya yang baik pula dengan pemupukan dan pengairan yang cukup. Seringkali petani singkong di Indonesia menganggap bahwasanya singkong adalah tanaman yang tahan banting sehingga tidak memerlukan perawatan yang intensif. Hal ini yang seringkali menyebabkan panen yang kurang maksimal dan kurang menguntungkan, jika petani memperhatikan hal ini tentu akan mendapatkan laba yang optimal. Petani dan produsen perlu membuat kesepakatan harga yang sama-sama menguntungkan, petani menjual singkong tidak terlalu tinggi, dan produsen tidak membeli dengan harga terlalu murah.
Jika kita berharap bahwa mocaf mampu menggeser konsumsi terigu, tentuk produk tepung mocaf harus mampu bersaing dengan tepung terigu, baik harga maupun kualitas, maka harga tepung mocaf harus standar mampu mengikuti tepung terigu. Mahalnya harga singkong seringkali membuat harga tepung mocaf pun tinggi dan tidak mampu bersaing dengan terigu. Beberapa pabrik membeli harga tepung mocaf masih terlalu rendah berkisar 5500, hal ini di rasa masih terlalu berat karena biaya produksi untuk pembuatan tepung mocaf jika harga singkong menta per Kg 1000, maka untuk membuat 1 kg tepung mocaf membutuhkan 4 Kg singkong sehingga biaya bahan baku untuk membuat 1 Kg tepung mocaf 4000. Ditambah biaya lain-lain, maka BEP berkisar 5300.
Bagi yang berminat untuk berwirausaha tepung mocaf, maka perlu mempelajari teknik produksi pembuatan tepung mocaf. Proses produksi tepung mocaf relatif mudah, sederhana,  dan tidak memerlukan teknologi yang tinggi. Sehingga, bagi para pemula yang ingin menerjuni bisnis ini tidak memerlukan proses belajar lama. Usaha produksi tepung mocaf juga dapat dimulai dari skala home industri dengan investasi yang tidak terlalu tinggi. Secara umum, alat yang dibutuhkan untuk memproduksi tepung mocaf adalah; alat pengupas dapat menggunakan pisau, mesin slicer/pemotong, mesin penepung, mesin ayakan, dan alat pengemas. Kita dapat memulai usaha ini hanya dapat bermodal mesin penepung, sedangkan alat yang lain dilakukan secara manual. Mesin pemotong dapat diganti dengan menggunakan pisau atau alat semi mekanis, mesin ayakan dapat diganti dengan menggunakan ayakan terbuat dari kain kelambu yang halus. Hal ini dilakukan jika memang kondisi keuangan kita sangat terbatas. Memang untuk memproduksi tepung mocaf dengan skala besar tentu membutuhkan infestasi yang besar. 
Prinsip pembuatan tepung mocaf adalah dengan memodifikasi sel singkong dengan cara fermentasi, sehingga menyebabkan perubahan karakteristik yang dihasilkan berupa naiknya viskositas (daya rekat), kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan solubility (kemampuan melarut) sehingga memiliki tekstur yang lebih baik dibandingkan dengan tepung tapioka atau tepung singkong biasa. Alur proses produksi tepung mocaf (modified cassava flour) adalah sebagai berikut:
Sortasi Dan Penimbangan.
Sebelum singkong diproses, disortasi terlebih dahulu untuk memisahkan singkong yang rusak dan tidak memenuhi standar mutu, kemudian setelah itu dilakukan penimbangan agar dapat diketahui berat kotor dan berat bersih sehingga dapat dianalisis total produk jadi dan dapat dihitung tingkat kegagalan.
Pengupasan.
Pengupasan kulit singkong dapat dengan menggunakan pisau. Singkong yang telah dikupas sebaiknya ditampung dalam bak atau ember yang berisi air sehingga tidak menyebabkan timbulnya warna kecoklatan dan sekaligus menghilangkan asam sianida (HCN).
Pencucian
Setelah dikupas, kemudian singkong dicuci dengan menggunakan air bersih. Hindari penggunaan air yang mengandung kaporit atau terkontaminasi bahan kimia. Penggunaan air yang mengandung kaporit akan dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri fermentasi terhambat.
Slicing / chiping (pemotongan).
Singkong yang telah dicuci bersih kemudian dipotong-potong tipis-tipis berbentu chip berukuran kurang lebih 0.2- 0.3 cm. Pemotongan bisa secara manual dengan menggunakan pisau atau dengan menggunakan mesin slicing.
Fermentasi / Perendaman.
Proses fermenasi chips singkong dilakukan dengan menggunakan drum plastik yang diisi air kemudian dilarutkan starter Bio-Mocaf. Perendaman chip singkong diupayakan sedemikian hingga seluruh chip singkong tertutup air. Proses perendaman dilakukan 30-48 jam.
Pencucian.
Setelah proses fermentasi selesai, kemudian dilakukan pencucian kembali untuk menghilangkan sifat asam pada chips singkong hingga tidak berasa dan tidak berbau. lebih cepat kering.
Pengeringan / Penjemuran.
Setelah chips dicuci bersih, kemudian tiriskan dengan menggunakan penjemuran terbuat dari anyaman bambu/tampah, plat seng dengan ukuran bisa 120 cm x 60 cm, atau dapat dengan menggunakan terpal. Pengeringan bisa dilakukan dengan menggunakan energi matahari. Penjemuran dengan menggunakan terpal lebih praktis penanganannya jika terjadi hujan. Penjemuran dengan mengunakan nampan dari plat lebih cepat kering. Jika panas matahari normal maka penjemuran dapat dilakukan minimal 3 hari.
Penepungan.
Setelah chips singkong betul-betul kering hingga mencapai kadar air maksimal 13%, selanjutnya dapat dilakukan proses penggilingan dengan menggunakan mesin penepung.
Pengayakan
Pengayakan dilakukan untuk mengasilkan tepung mocaf yang lembut. Pengayakan dapat dilakukan secara manual menggunakan saringan atau dengan menggunakan mesin sehingga kapasitasnya lebih besar dan waktu yang digunakan lebih singkat dengan mesh 100-200.
Pengemasan.
Setelah menjadi produk tepung kemudian dikemasi sesuai ukuran yang kita kehendaki. Jenis kemasan sesuai dengan tujuan pasar, kemasan plastik umumnya digunakan untuk produk eceran, sedangkan kemasan karung umumnya pemasaran ke industri atau pedagang besar.

Mengolah Singkong Menjadi Glukosa


Jual Enzim Alfa Amylase, Gluco Amylase
087731375234



Indonesia adalah salah satu negara penghasil singkong yang cukup besar di dunia. Indonesia memiliki berbagai macam varietas jenis singkong dengan kualitas yang cukup bagus. Singkong telah banyak diolah menjadi berbagai macam produk diantaranya adalah; tapioka, mocaf, nata de cassava, bioetanol, gula cair (glukosa), pakan ternak, aneka makanan camilan. Produksi singkong hampir tersebar di seluruh Indonesia. Potensi komoditas singkong sebagai bahan baku industri harus terus dikembangkan. Penemuan teknologi proses mengolah singkong menjadi gula cair berupa glukosa merupakan peluang bisnis yang menjanjikan, serta akan mengurangi ketergantungan gula impor. Gula merupakan salah satu kebutuhan mendasar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan industri yang terus berkembang. Permintaan gula semakin meningkat dari tahun ke tahun, sedangkan produksi gula yang umumnya didominasi gula tebu, produktifitasnya semakin menurun. Sehingga perlu dicarikan alternatif gula subtitusi yang ketersediaan bahan baku nya melimpah dan efesien.
Glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk alami (D-glukosa) disebut jugadekstrosa, terutama pada industri pangan. Glukosa (C6H12O6, berat molekul 180.18) adalah heksosa—monosakarida yang mengandung enam atom karbon. Glukosa merupakan aldehida (mengandung gugus -CHO).
Secara umum, proses pembuatan gula cair  terdiri atas dua tahap yaitu: tahap likuifikasi dan sakarifikasi dengan menggunakan enzim. Likuifikasi merupakan pemecahan pati menjadi dekstrin dengan bantuan enzim alfa-amilase.Sedangkan sakarifikasi berupa penguraian dekstrin menjadi glukosa dengan enzim amiloglukosidase.Pada tahap likuifikasi, tapioka dicampur air dengan perbandingantiga liter air 1 Kg tapioka, sambil diaduk rata tambahkan1 ml enzim alfa-amilase per kg pati tapioka, panaskan pada suhu 95-105 oC. Tingkat keasaman larutan juga dipertahankan pada pH 6,0-6,5.
Proses selanjutnya adalah sakarifikasi yang berlangsung selama 76 jam yaitu dengan mendinginkan media larutan hingga suhu 60oC, kemudian tambahkan 1 ml enzim amiloglukosidase per kg pati. Arang aktif mampu mengikat, menggumpalkan, dan mengendapkan kotoran-kotoran yang terdapat dalam gula cair.Selain itu arang aktif berfungsi menghentikan aktivitas enzim.Setelah itu lakukan penyaringan untuk memisahkan gula cair dengan karbon aktif dan endapan kotoran. Penyaringan bertujuan menghasilkan gula cair dengan tingkat kejernihan 93%.Bila belum tercapai, ulangi kembali penyaringan.
Tahap terakhir adalah evaporasi.Produsen memasukkan gula cair yang telah melewati tabung penukar ion itu ke dalam evaporator untuk meningkatkan kemurnian gula. Proses evaporasi berlangsung pada suhu 50-60oC. Indikasi evaporasi selesai ketika gula cair berhenti menetes dari pipa evaporator. Dengan pemurnian itu kadar kemanisan gula cair meningkat, semula 30-36o briks menjadi 60-80o briks.
Tahapan Proses Membuat Gula Cair Bahan Baku Singkong
Larutkan tepung tapioka dalam air dengan perbandingan 1 : 3.
Panaskan pada suhu 95-105oC dan tambahkan 0,8 ml enzim alfa-amilase per kg pati sembari diaduk rata.
Setelah mendidih, turunkansuhu larutan hingga bersuhu 60oC. Kemudian tambahkan 1 ml enzim amiloglukosidase per kg pati. Diamkan larutan selama 76 jam hingga menjadi cairan gula.
Tambahkan 0,5-1% arang aktif per kg pati ke dalam gula cair untuk mengikat, menggumpalkan, dan mengendapkan pati, serta menghentikan aktivitas enzim.
Lakukan penyaringan larutan untuk memisahkan gula cair dari karbon aktif dan kotoran sehingga tingkat kejernihan gula 93%. Bila belum tercapai, ulangi kembali pemucatan dan penyaringan.
Alirkan gula cair melalui tabung berisi penukar ion untuk mengikat dan memisahkan ion-ion logam dan kotoran dalam gula cair. Tabung penukar ion terdiri atas 3 tabung masing-masing berisi resin kation, kation, dan campuran anion dan kation.
Evaporasi gula ke dalam evaporator untuk meningkatkan kadar gula. Proses evaporasi berlangsung pada suhu 50-60oC.

Budidaya Gaharu





Jual Inokulan Gaharu Fusarium solani
087731375234

GAHARU adalah merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Hampir semua bagian pohon gaharu ini dapat dimanfaatkan untuk bahan baku produk, praktis tidak ada bagian yang terbuang. Kayu gaharu yang terinfeksi atau disebut gubal mempunyai nilai jual yang sangat tinggi, sementara gubal gaharu kualitas rendah pun masih memiliki nilai jual yang menarik. Daun gaharu dapat dimanfaatkan untuk pembuatan teh gaharu. Turunan produk gaharu pun semakin hari semakin meningkat variasinya, menempatkan pohon gaharu sebagai pohon industri.

Manfaat gaharu diantaranya adalah pewangi rungan, bahan baku industri parfum ekslusif, bahan baku industri kosmetika, bahan baku untuk bahan obat (kanker, asmatik, perangsang, dll), bahan HIO (untuk ritual agama hindu, budha dan Kong Hu Chu), bahan Kohdoh (jepang), serta daunnya dimanfaatkan untuk teh hijau (agarwood tea). Harga gubal gaharu bervariasi tergantung grade(kualitas), harga gubal gaharu grade super di pasar lokal mencapai Rp 25 jt/kg, sedangkan harga terendah Rp 50 ribu/kg untuk kayu gaharu yang tidak mengandung resin sama sekali. 
Negara potensial pemakai gaharu (pengimpor) adalah Saudi Arabia, Kuwait Yaman, United Emirat, Turki, Singapura, Jepang, dan Amerika. Kebutuhan gaharu dari tahun ke tahun terus meningkat berbanding lurus dengan harganya. Sementara stok gaharu alam semakin menurun akibat ditebang terus-menerus tanpa diimbangi penanaman. Kebutuhan gaharu dunia terus meningkat sehubungan dengan semakin meningkatnya pemanfaatan gaharu terutama untuk obat-obatan di China. Kebutuhan obat merupakan kebutuhan pokok umat manusia, yang keberadaanya sangat dibutuhkan manusia.
Indonesia merupakan salah satu Negara penghasil gaharu yang cukup besar, namun saat ini potensinya menurun, bahkan gaharu sudah menjadi jenis yang langka ditemukan. Beberapa jenis pohon penghasil gaharu sebagian besar termasuk dalam famili Themeleaceae, terutama dari genus Aquilaria dan Gyrinops, yang dapat menghasilkan gubal gaharu dengan kualitas terbaik (harga tinggi). Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam penanaman gaharu diperlukan pengetahuan yang memadai dalam bidang silvikultur (teknik budidaya) dan teknologi untuk mempercepat mendapatkan gubal gaharu (inokulasi). Tanpa mengetahui kedua masalah tersebut diatas, rasanya sulit untuk mendapatkan hasil gaharu yang memuaskan. Perlu diketahui bahwa tidak semua pohon gaharu menghasilkan gubal gaharu, hanya pohon yang terinfeksi cendawan tertentu saja yang dapat menghasilkan gubal gaharu. Sehingga secara alami pohon gaharu yang dapat menghasilkan gubal, prosentasenya sangat kecil, Oleh karena itu diperlukan teknologi inokulasi untuk mempercepat terbentuknya gubal gaharu. Ayo lestarikan hutan Indonesia demi generasi mendatang.
Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, memiliki kandungan damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi secara alami atau buatan pada pohon Aguilaria sp (Thymelaeaceae). Setelah 
Kebutuhan Agarwood Dunia

Kebutuhan dunia akan agarwood atau gaharu terus meningkat. Menurut statistik, Indonesia yang pada tahun 1995 menjadi pengexport gaharu yang cukup besar, kini nilai exportnya semakin menurun. Mengingat permintaan dunia akan agarwood yang terus meningkat, maka proyek Pengembangan Agarwood sangat menguntungkan "Investment for Highest Profit"

Penanganan Bibit Gaharu Cabutan/Stump
Berikut ini kami sampaikan beberapa catatan untuk mendukung keberhasilan pemeliharaan bibit gaharu (Aquilaria malaccensi) yang berasal dari cabutan/stump (pengiriman dari tempat lain) :
Pemeliharaan bibit yang berasal dari cabutan/stump harus terlebih dahulu dikondisikan dengan penyungkupan. Pemeliharaan bibit tanpa penyungkupan beresiko kegagalan walaupun bedeng pemeliharaan telah diletakkan di bawah naungan sekalipun. Ikuti petunjuk teknis pembuatan sungkup sebagaimana yang kami lampirkan. Sungkup terbuat dari plastic dan plastic sungkup tersebut dapat diperoleh dari toko peralatan pertanian atau toko plastic. Media tanam sebaiknya merupakan campuran: tanah : kompos : pasir (2:1:1)

Penyiraman pertama harus betul-betul jenuh air dan penyiraman berikutnya hanya dilakukan jika media tanam terlihat kering. Dalam penyiraman tersebut dihindari membuka sungkup ukuran besar, cukup hanya dimasuki selang/lobang kecil. Peletakan sungkup/bedeng pemeliharaan harus di bawah naungan tegakan (sebaiknya rindang) sehingga tidak ada sinar matahari langsung dengan intensitas tinggi dan lama. Paranet/shading net 75% diperlukan jika naungan tegakan kurang dan sebaiknya diatas sungkup diberikan lagi jerami/ pelepah daun kelapa/sawit. Periksa jika terjadi kebocoran pada sungkup. Hindari membuka-tutup sungkup cukup sering. Dengan pembuatan sungkup yang tepat, kondisi di dalam sungkup akan terlihat mengembun dan tidak kering. Jika terlalu sering membuka dan menutup sungkup bibit beresiko kematian. 

Setelah 3-4 minggu, sungkup dibuka secara bertahap, dilarang membuka sungkup sekaligus. Contoh : hari pertama dibuka 0,5 meter, hari kedua 1 meter dan seterusnya. Jika dibuka sekaligus bibit beresiko kematian. Setelah dikeluarkan dalam sungkup, bibit dipeliharan dibawah naungan paranet dan sebaiknya juga di bawah tegakan agar tercipta iklim yang baik bagi pertumbuhan bibit.

MEMPERCEPAT PRODUKSI GAHARU DENGAN TEKNOLOGI INOKULASI
Gaharu merupakan komoditi elit hasil hutan bukan kayu yang saat ini banyak diminati oleh konsumen baik dalam maupun luar negeri. Pemanfaatan gaharu sangat bervariasi dari bahan baku pembuatan dupa, parfum, aroma terapi, sabun, body lotion, hingga bahan obat-obatan sebagai anti asmatik, anti mikrobia, stimulan kerja syaraf, dan pencernaan. Akibat dari pola pemanenan dan perdagangan yang masih mengandalkan alam, beberapa jenis tertentu pohon penghasil gaharu mulai langka dan telah masuk dalam appendix II CITES. Mengantisipasi kemungkinan pubahnya pohon penghasil gaharu jenis-jenis langka sekaligus pemanfaatannya secara lestari. Badan Litbang Kehutanan melakukan upaya konservasi dan budidaya serta rekayasa untuk mempercepat produksi gaharu dengan teknologi induksi atau inokulasi. 

Serangkaian penelitian yang dilakukan Badan Litbang Kehutanan saat ini telah menghasilkan teknik budidaya pohon penghasil gaharu dengan baik, mulai dari perbenihan, persemaian, penanaman, hingga pemeliharaannya. Sejumlah isolat jamur pembentuk gaharu hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia telah teridentifikasi berdasar ciri morfologis. Penelitian yang dilakukan juga telah menghasilkan empat isolat jamur pembentuk gaharu yang telah teruji dan mampu membentuk infeksi gaharu dengan cepat. Inokulasi menggunakan isolat jamur tersebut telah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan hanya dalam waktu satu bulan. Ujicoba telah dilakukan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Barat (Sukabumi dan Darmaga), dan Banten (Carita).
Secara teknis, garis besar tahapan rekayasa produksi gaharu dimulai dengan isolasi jamur pembentuk yang diambil dari pohon penghasil gaharu sesuai jenis dan ekologi sebaran tumbuh pohon yang dibudidayakan. Isolat tersebut kemudian diidentifikasi berdasar taksonomi dan morfologi lalu dilakukan proses skrining untuk memastikan bahwa jamur yang memberikan respon pembentukan gaharu sesuai dengan jenis pohon penghasil gaharu agar memberikan hasil optimal. Tahap selanjutnya adalah perbanyakan jamur pembentuk gaharu tadi, kemudian induksi, dan terakhir pemanenan. Untuk saat ini, produksi gaharu buatan yang dipanen pada umur 1 tahun berada pada kelas kemedangan dengan harga jual US$ 100 per kilogram.

Kritereri Kualitas Gaharu
Di pasaran dalam negeri, kualitas gaharu dikelompokkan menjadi 6 kelas mutu, yaitu Super (Super King, Super, Super AB), Tanggung, Kacangan (Kacangan A, B, dan C), Teri (Teri A, B, C, Teri Kulit A, B), Kemedangan (A, B, C) dan Suloan. Klasifikasi mutu tersebut berbeda dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang membagi mutu gaharu menjadi 3 yaitu Klas Gubal, Kemedangan, dan Klas Abu. Perbedaan klasifikasi tersebut sering merugikan pencari gaharu karena tidak didasari dengan kriteria yang jelas.

Cara Membuat Gula Cair Glukosa










Jual Enzim alfa amylase, gluco amylase
087731375234

Glukosa adalah salah satu gula monosakarida merupakan sumber karbohidrat yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga dekstrosa, terutama pada industri pangan. Glukosa (C6H12O6, berat molekul 180.18) adalah heksosa monosakarida yang mengandung enam atom karbon. Glukosa merupakan aldehida (mengandung gugus -CHO). Glukosa dapat diproduksi dari berbagai bahan yang mengandung pati seperti singkong, ubi jalar, jagung, sukun, dan lain-lain. Glukosa cair dapat menjadi sumber kebutuhan gula yang sangat diperlukan oleh banyak orang atau industri pengolahan pangan.

Proses pembuatan gula cair  terdiri atas dua tahap yaitu: tahap likuifikasi dan sakarifikasi dengan menggunakan enzim. Likuifikasi merupakan pemecahan pati menjadi dekstrin dengan bantuan enzim alfa-amilase.Sedangkan sakarifikasi berupa penguraian dekstrin menjadi glukosa dengan enzim amiloglukosidase.Pada tahap likuifikasi, tapioka dicampur air dengan perbandingantiga liter air 1 Kg tapioka, sambil diaduk rata tambahkan1 ml enzim alfa-amilase per kg pati tapioka, panaskan pada suhu 95-105 oC. Tingkat keasaman larutan juga dipertahankan pada pH 6,0-6,5.
Proses selanjutnya adalah sakarifikasi yang berlangsung selama 76 jam yaitu dengan mendinginkan media larutan hingga suhu 60oC, kemudian tambahkan 1 ml enzim amiloglukosidase per kg pati. Arang aktif mampu mengikat, menggumpalkan, dan mengendapkan kotoran-kotoran yang terdapat dalam gula cair.Selain itu arang aktif berfungsi menghentikan aktivitas enzim.Setelah itu lakukan penyaringan untuk memisahkan gula cair dengan karbon aktif dan endapan kotoran. Penyaringan bertujuan menghasilkan gula cair dengan tingkat kejernihan 93%.Bila belum tercapai, ulangi kembali penyaringan.

Tahap terakhir adalah evaporasi.Produsen memasukkan gula cair yang telah melewati tabung penukar ion itu ke dalam evaporator untuk meningkatkan kemurnian gula. Proses evaporasi berlangsung pada suhu 50-60oC. Indikasi evaporasi selesai ketika gula cair berhenti menetes dari pipa evaporator. Dengan pemurnian itu kadar kemanisan gula cair meningkat, semula 30-36o briks menjadi 60-80o briks.
Tahapan Proses Membuat Gula Cair Bahan Baku Singkong
1.      Larutkan tepung tapioka dalam air dengan perbandingan 1 : 3.
2.      Panaskan pada suhu 95-105oC dan tambahkan 0,8 ml enzim alfa-amilase per kg pati sembari diaduk rata.
3.      Setelah mendidih, turunkansuhu larutan hingga bersuhu 60oC. Kemudian tambahkan 1 ml enzim amiloglukosidase per kg pati. Diamkan larutan selama 76 jam hingga menjadi cairan gula.
4.      Tambahkan 0,5-1% arang aktif per kg pati ke dalam gula cair untuk mengikat, menggumpalkan, dan mengendapkan pati, serta menghentikan aktivitas enzim.
5.      Lakukan penyaringan larutan untuk memisahkan gula cair dari karbon aktif dan kotoran sehingga tingkat kejernihan gula 93%. Bila belum tercapai, ulangi kembali pemucatan dan penyaringan.
6.      Alirkan gula cair melalui tabung berisi penukar ion untuk mengikat dan memisahkan ion-ion logam dan kotoran dalam gula cair. Tabung penukar ion terdiri atas 3 tabung masing-masing berisi resin kation, kation, dan campuran anion dan kation.
7.      Evaporasi gula ke dalam evaporator untuk meningkatkan kadar gula. Proses evaporasi berlangsung pada suhu 50-60oC.