Minggu, 02 Desember 2018

Peluang Bisnis Budidaya Kopi








Kopi adalah salah satu komoditas pertanian yang sangat digemari di seluruh dunia. Selain cita rasa nya yang nikmat dan mengusir rasa kantuk, minum kopi telah menjadi tradisi yang kuat bagi banyak kalangan merekatkan nilai-nilai kekeluargaan, kebersama antara teman bisnis, keluarga, teman ngobrol, dan lain-lain. Oleh karena itu, kopi telah menjadi komoditas unggulan semenjak dahulu hingga sekarang. Oleh karena itu, kopi merupakan bisnis yang sangat menjanjikan
Indonesia merupakan salah satu Negara penghasil kopi yang cukup besar. Wilayah subtropis dan tropis merupakan lokasi yang baik untuk budidaya kopi. Oleh karena itu, negara-negara yang mendominasi produksi kopi dunia berada di wilayah Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara.
Kopi adalah komoditi yang diperdagangkan di bursa-bursa komoditi dan futures, yang paling penting di London dan New York. Di bawah ini, terdapat dua tabel yang mengindikasikan lima negara produsen kopi utama dunia dan lima negara eksportir kopi utama dunia.
Top 5 Negara Produsen Kopi Terbesar di Dunia - Tahun Tanaman 2014:

  1. Brasil            45,342,000    
  2. Vietnam            27,500,000    
  3. Kolombia            12,500,000    
  4. Indonesia             9,350,000    
  5. Etiopia             6,625,000  

Top 5 Negara Eksportir Kopi Terbesar di Dunia pada Tahun 2014:

  1. Brasil            36,420,000    
  2. Vietnam            25,298,000    
  3. Kolombia            10,954,000    
  4. Indonesia             5,977,000    
  5. India             5,131,000  
dalam bungkus 60 kilogram
Sumber: International Coffee Organization

Indonesia adalah salah satu negara produsen dan eksportir kopi paling besar di dunia. Kebanyakan hasil produksinya adalah varietas robusta yang berkualitas lebih rendah. Indonesia juga terkenal karena memiliki sejumlah kopi khusus seperti 'kopi luwak' (dikenal sebagai kopi yang paling mahal di dunia) dan 'kopi Mandailing' (lihat di bawah). Berkaitan dengan komoditi-komoditi agrikultur, kopi adalah penghasil devisa terbesar keempat untuk Indonesia setelah minyak sawit, karet dan kakao.
Kopi diperkenalkan di Nusantara oleh Belanda yang pada awalnya menanam pohon-pohon kopi di sekitar wilayah kekuasaan mereka di Batavia namun kemudian dengan cepat mengekspansi produksi kopi ke wilayah Bogor dan Sukabumi di Jawa Barat di abad ke-17 dan abad ke-18. Indonesia terbukti memiliki iklim yang hampir ideal untuk produksi kopi dan karenanya perkebunan-perkebunan segera didirikan di wilayah-wilayah lain di Jawa, Sumatra dan juga di Sulawesi.
Pada saat ini, perkebunan kopi Indonesia mencakup total wilayah kira-kira 1,24 juta hektar, 933 hektar perkebunan robusta dan 307 hektar perkebunan arabika. Lebih dari 90% dari total perkebunan dibudidayakan oleh para petani skala kecil. Seperti yang telah disebutkan di atas dan mirip dengan raksasa kopi regional Vietnam, sebagian besar hasil produksi biji kopi Indonesia adalah varietas robusta yang berkualitas lebih rendah. Biji arabika yang berkualitas lebih tinggi kebanyakan diproduksi oleh negara-negara Amerika Selatan seperti Brazil, Kolombia, El Salvador dan Kosta Rika. Oleh karena itu, sebagian besar ekspor kopi Indonesia (kira-kira 80%) terdiri dari biji robusta. Ekspor kopi olahan hanyalah bagian kecil dari total ekspor kopi Indonesia.
Provinsi yang berkontribusi paling besar produksi kopi Indonesia adalah:

           Robusta         Arabika    
1. Bengkulu (Sumatra) a. Aceh (Sumatra)    
2. Sulawesi Selatan b. Sumatra Utara    
3. Lampung (Sumatra)  
Dimulai dari tahun 1960an, Indonesia telah menunjukkan peningkatan yang kecil namun stabil dalam produksi kopi dunia. Kendati begitu, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), luas perkebunan-perkebunan kopi di Indonesia menurun karena para petani telah mengubah fokus produksi mereka kepada minyak sawit (seperti minyak sawit mentah dan minyak inti kelapa sawit), karet dan kakao yang semuanya memberikan pendapatan yang lebih tinggi di pasar internasional. Oleh karena itu, perkebunan-perkebunan kopi - atau sebagian dari perkebunan tersebut - telah ditransformasi menjadi perkebunan komoditi-komoditi lain.
Pada tahun 2012, kira-kira 70% dari total produksi tahunan biji kopi Indonesia diekspor, terutama kepada para pelanggan di Jepang, Afrika Selatan, Eropa Barat, dan Amerika Serikat. Meskipun begitu, karena konsumsi domestik kopi Indonesia telah bertumbuh, jumlah ekspor telah menurun. Konsumsi kopi di Indonesia meningkat dengan compound annual growth rate (CAGR) 7,7% di tahun 2011-2014. Tetap saja, pada 1,0 kilogram (data 2014), konsumsi per kapita kopi tetap rendah di Indonesia.
Produksi & Ekspor Kopi Indonesia:

    2008   2009   2010   2011   2012   2013   2014   2015   2016¹    
Produksi
(dalam ton) 698,016 682,690 686,921 633,991 748,109 740,000 711,513 550,000 650,000    
Ekspor
(dalam ton) 491,335 518,122 440,241 353,698 520,275 460,000 382,774 350,000 400,000    
Ekspor
(dalam milliar 
dollar AS)    1.08    0.89    0.86    1.09    1.53     n.a.    1.03    1.19    1.36  
¹ menunjukkan prognosis
Sumber: Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI)
Konsumsi Domestik Kopi di Indonesia:

        2011       2012       2013       2014    
Konsumpsi Nasional
(dalam bungkus 60 kilogram)   3,333,000   3,584,000   4,042,000   4,167,000  
Sumber: International Coffee Organization
Indonesia memiliki beberapa kopi spesial diantaranya adalah adalah kopi luwak, kopi Toraja, kopi Aceh dan kopi Mandailing. Kopi jenis pertama - kopi luwak - mungking merupakan jenis kopi paling terkenal karena dikenal sebagai kopi termahal di dunia. Kopi ini diekstrasi dari biji kopi yang telah melalui sistem pencernaan musang luwak Asia (hewan yang mirip kucing). Karena proses fermentasi khusus di dalam perut hewan tersebut (dan juga karena fakta luwak bisa memilih buah kopi yang paling juicy) kopi ini dipercaya memiliki rasa yang lebih kaya. Proses produksinya yang memerlukan banyak tenaga kerja dan kelangkaannya di pasar internasional menyebabkan harganya menjadi mahal.
Menurut data dari Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), para petani Indonesia bersama dengan kementerian-kementerian terkait berencana untuk memperluas perkebunan-perkebunan kopi Indonesia, sambil meremajakan perkebunan-perkebunan lama melalui program intensifikasi. Dengan meningkatkan luas perkebunan, produksi kopi Indonesia dalam 10 tahun ke depan ditargetkan untuk mencapai antara 900 ribu ton sampai 1,2 juta ton per tahun. 
Disebabkan oleh meningkatnya permintaan global dan domestik, dibutuhkan investasi di sektor kopi negara ini. Selain meningkatkan kuantitas biji kopi, kualitas juga diprediksi akan meningkat karena inovasi-inovasi teknologi. Kendati begitu, produksi kopi per hektar Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara-negara utama penghasil kopi lainnya. Di 2015, Indonesia memproduksi 741 kilogram biji robusta per hektar dan 808 kilogram biji arabika per hektar. Di Vietnam, angka ini mencapai 1.500 kilogram per hektar di di Brazil mencapai 2.000 kilogram per hektar.

0 comments:

Posting Komentar