This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 23 Februari 2019

Cara Sukses Budidaya Kambing





Jual Aspergillus niger
087731375234



Kambing adalah salah satu hewan ternak yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Daging kambing banyak diminati karena aroma khas daging kambing sangat disukai oleh penggemarnya. Di Indonesia kuliner sate kambing, tongseng kambing, dan lain-lain, sangat populer di Indonesia. Selain itu, daging kambing juga telah banyak dikalengkan menjadi  produk kemasan yang menarik, tahan lama, dan dipasarkan luas. Oleh karena itulah permintaan daging kaming terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, saat ini peternakan kambing di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan yang ada. Hal ini disebabkan  budidaya kambing di Indonesia secara umum belum dilakukan secara intensif, sehingga kapasitas produksinya masih rendah. Hal ini menjadi peluang yang menarik untuk mengusakan budidaya kambing. Di Indonesia, jenis kambing yang sudah umum dibudidayakan di antaranya adalah kambing Jawa, kambing Gibas, PE (peranakan etawa).  Langkah-langkah dalam budidaya kambing adalah sebagai berikut:
1. Pembuatan Kandang
Untuk beternak kambing hal pertama yang harus di perhatikan adalah kualitas  kandang. Ukurannya harus sesuai dengan jumlah kambing yang akan kita pelihara. Kandang harus memudahkan kita melakukan pengawasan terhadap kambing yang ada pada kandang, memudahkan kita dalam pemberian pakan dan aman serta kuat bagi si kambing. Sirkulasi udara yang cukup, dan pencahayaan matahari yang cukup (tidak terlalu panas dan tidak terlalu lembab). Kandang cukup kokoh dan biayanya layak terjangkau sehingga mampu bertahan lama. Kandang yang akan dibuat hendaknya minimal berjarak 10 meter dari rumah agar menghindari bau yang tidak sedap  yang dapat mengganggu kesehatan.
Pada umumnya tipe kandang yang baik bagi ternak kambing adalah yang berbentuk panggung. Kandang panggung memiliki kolong untuk menampung kotorandi bagian bawah kandang, berfungsi menghindari kebecekan serta kontak langsung dengan tanah yang bisa jadi tercemar penyakit. Lantai kandang di tinggikan antara 1 – 2 meter, bak untuk pakan dapat di tempelkan pada dinding kandang dengan ketinggiannya sebahu kambing.Dasar kolong kandang bagian pinggir di gali sedalam ±20 cm dan 30-50 cm pada bagian tengah serta di buatkan saluran yang menuju bak penampung kotoran yang selanjutnya dapat di proses untuk menjadi pupuk kandang.
Ukuran kandang: jika ingin memelihara kambing terpisah, bisa dengan ukuran 1,5 x 1,5 meter untuk 1 ekor kambing dewasa, jika kambing masih kecil tapi sudah di sapih bisa muat 2 ekor kambing. Sedangkan bagi kambing yang baru di lahirkan, kandang ini cukup utuk 2 ekor kambing kecil beserta induknya.Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan kandang agar kambing tidak mudah terserang penyakit. Jika kandang sudah pernah digunakan oleh kambing yang terserang penyakit, lebih baik kandang di desinfektan terlebih dulu. Tapi kalo kambingnya sehat cukup di cuci menggunakan air bersih saja. Kandang dan lingkungan disekitarnya juga tidak boleh lembab dan juga bebas dari genangan air, agar tidak di jadikan sarang nyamuk atau hewan sejenis lain yang dapat menggigit dan menghisap darah si kambing.
2. Pemilihan bibit yang bagus
Kambing Jawa cirinya adalah badannya kecil dan relatif pendek, telinganya juga pendek dan tegak, baik jantan maupun betinanya memiliki sepasang tanduk, lehernya yang pendek dan punggung meninggi, warna bulu bervariasi, ada yang tunggal hitam, coklat, merah atau belang hitam putih dan rasa kambing ini juga enak, banyak yang menyukainya. Jenis kambing ini lebih mudah perawatannya karena lebih tahan terhadap penyakit dan memiliki presentase perkembangbiakan yang bagus.
Sedangkan kambing Etawa ukuran tubuhnya lebih tinggi dan lebih besar serta telinganya memanjang ke bawah sepanjang 15 – 30 cm. Bagian hidung ke atas melengkung dan warna bulunya bervariasi antara coklat, putih dan hitam adalah yang paling sering dijumpai. Bagi kambing jantan memiliki bulu tebal dan agak panjang di daerah pundak dan di bawah leher, sedangkan kambing betinanya di bagian bawah ekor. Kambing ini bisa menghasilkan susu yang banyak, sehingga sering di gunakan juga sebagai penghasil susu. Tapi, kambing ini juga sangat cocok untuk di jadikan sebagai kambing penghasil daging.
Setelah mengenal jenis kambing yang akan di pelihara barulah memilih bibit yang berkualitas dan di butuhkan ketelitian, tentunya kita tidak ingin salah memilih kambing yang terkena penyakit dan bahkan bisa menular. Usia kambing yang di jadikan bibit harus sudah mencapai 4 bulan, karena pada saat itu kambing sudah berkonsentrasi pada pembentukan daging dan lebih mudah untuk di gemukkan.
Pilihlah yang bulunya mengkilap, matanya bening, tidak cacat, kakinya lurus kokoh dan tumitnya terlihat tinggi. Mulut dan hidung bersih tidak berlendir, sebagai tanda kambing tidak penyakitan, anusnya pun bersih. Garis pinggang dan garis punggung tulang belakang lurus, tidak melengkukng ke bawah. Usia ideal penggemukkan adalah sekitar 8 – 12 bulan. Ukuran badannya juga normal tidak kurus maupun terlalu gemuk / kelebihan. Sebaiknya juga pilih yang bentuk ekornya melebar bukan yang berbentuk seperti cambuk. Menurut para peternak, kambing yang memiliki ekor berbentuk cambuk pembentukan dagingya tidak terlalu maksimal / terlalu lamban. Sedangkan kambing yang memiliki bentuk ekor melebar lebih maksimal dalam pembentukan daging, yaitu sekitar 3 bulan.
3. Pemilihan pakan yang mencukupi kebutuhan gizi
Pakan adalah hal yang terpenting untuk menunjang proses penggemukan kambing, yaitu suatu aktivitas pemeliharaan kambing yang sebelumnya dalam kondisi kurus selanjutnya di tingkatkan berat badannya melalui proses pembesaran daging yang memakan waktu sekitar 3 – 5 bulan lamanya.Makanan kambing biasanya berupa hijau – hijauan segar, seperti: rumput, daun lamtoro, daun turi, daun singkong yang berprotein cukup tinggi, daun nangka dan daun pepaya. Tapi sebelum memberikan daun – daunan hijau pada kambing sebaiknya di lakukan penjemuran atau di layukan terlebih dahulu, sekitar 2 – 3 jam di bawah terik matahari yang bertujuan untuk menetralkan kemungkinan racun berbahaya yang ada di dalam daun – daunan hiaju tersebut.
Jika kambing sampai keracunan, si kambing bisa mabok, sakit dan bahkan mengalami kematian. Selain itu, kambing juga bisa diberi jerami (dari tanaman jagung, kedelai, padi, tebu atau yang lainnya), kulit umbi – umbian (seperti kulit singkong, ubi jalar dan yang lainnya), kulit kacang – kacangan (bisa kacang tanah ataupun kulit kopi), serta sayur – sayuran sisa dari pasar.
Kambing juga membutuhkan makanan padat atau konsentrat yang berguna untuk mempercepat penggemukan. Bisa di beli di toko pakan ternak atau di ganti menggunakan bekatul, ampas tahu dan ketela pohon yang sudah di cacah dengan perbandingan 40% : 40% : 20% . Kombinasi bahan tersebut harus mencapai 3 kg, karena sebanyak itulah yang harus di konsumsi 1 ekor kambing per harinya.
Kambing di beri makan 2 kali sehari, jam 8 pagi dan jam 4 sore. Pakan hijau – hijauan tidak di anjurkan di berikan bersamaan dengan pakan konsentrat, karena kandungan nutrisinya berbeda. Di sarankan, sebaiknya pakan konsentrat di berikan saat kambing sudah banyak mengkonsumsi hijau – hijauan, tapi belum juga terlihat kenyang. Jangan lupa juga untuk memberi minum dengan air bersih sekitar pukul 3 sore. Minuman yang paling bagus adalah air cucian beras yang sudah di campur dengan sedikit bekatul atau dedak.
Selain di berikan rumput, daun hijau dan juga makanan konsentrat. Kambing masih membutuhkan pakan pelengkap dengnan kandungan gizi ternak yang belum terdapat pada 3 jenis makanan sebelumnya. Pemberian pakan pelengkap ini bertujuan untuk lebih mengoptimalkan lagi pertumbuhan, kesehatan dan produksi ternak. Kambing dapat di berikan suplemen makanan yang mengandung asam amino esensial pembentuk sel dan organ tubuh, mengandung vitamin lengkap yang berguna untuk daya tahan tubuh dari serangan penyakit, serta mineral – mineral pelengkap (N, P, K, Ca, Mg, Cl dll) sebagai penyusun tulang dan darah, juga memperlancar proses metabolisme dalam tubuh. Bisa menggunakan suplemen merek Viterna yang bisa di larutkan bersamaan air atau pakan ternak yang akan di berikan.
4. Pemeliharaan kesehatan
Setelah kebutuhan pakan yang lengkap dan bergizi sudah tercukupi, selanjutnya adalah pemeliharaan atau perawatan si kambing. Tindakan pertama yang bisa kita lakukan adalah melakukan pencegahan terhadap penyakit yang bisa menyerang kambing peliharaan kita, seperti menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitarnya. Menurut pengalaman menjaga kebersihan kandang, memberi makanan sehat dan perawatan yang baik bisa menghilangkan bau pada kandang dan tubuh si kambing.
Lahan yang digunakan untuk memelihara atau yang di jadikan kandang harus bebas dari penyakit menular. Kambing yang di duga bulunya membawa penyakit sebaiknya di mandikan terlebih dahulu dan di gosok dengan larutan sabun karbol, Neguvon, Bacticol Pour, Triatex atau Granade 5% dengan konsentrat 4,5 gram untuk 3 liter air. Untuk membasmi kutu pada kambing, dapat di mandikan dengan larutan Asuntol dengan konsentrasi 3 – 6 gram untuk di larutkan pada 3 liter air.
Perlunya di lakukan vaksinasi secara rutin yang bertujuan untuk mencegah terjangkit penyakit yang di sebabkan oleh virus. Beberapa jenis penyakit yang sering menyerang kambing adalah: penyakit Parasit (cacingan, kudis, kutu), penyakit Bakterial (antraks, busuk kuku, cacar mulut), penyakit Virus, penyakit lain seperti keracunan sianida, kembung perut dan keguguran. Jika tidak segera di atasi bahkan bisa menyebabkan kematian.Maka perlunya pengamatan atau pemantauan pada ternak, jadi saat terdapat gejala penyakit tersebut terlihat pada kambing peliharaan kita, kita bisa segera tahu dan memastikan jenis penyakitnya serta cara pengobatannya sehingga mencegah penyakit tersebut menular ke kambing yang lainnya.
5. Cara reproduksi atau waktu kawin
Setelah semua persiapan, perawatan dan pemeliharaan baik dan benar yang sudah kita lakukan, hari demi hari si kambing akan tumbuh besar dan cukup dewasa untuk di kawinkan. Biasanya kambing potong yang berumur 8 – 10 bulan sudah siap untuk di kawinkan, tanda – tandanya adalah: kegelisahan, alat kelamin kambing menjadi kemerahan dan bengkak, ekor yang di gerak – gerakkan, dan juga berkurangnya nafsu makan.
Setelah di kawinkan kambing akan mengandung selama 5 – 6 bulan, lalu penanganan pada proses kelahiran juga di butuhkan. Kita perlu perhatikan tanda – tanda dari kambing potong yang ingin melahirkan, biasanya kambing akan menggaruk – garuk lantai kandang dan terlihat gelisah. Dalam hal ini, kita juga harus turut serta dalam proses kelahiran untuk menghindari hal- hal yang tidak di inginkan. Dengan pengelolaan yang baik kambing dapat melahirkan setiap 7 bulan sekali dan sekali melahirkan dapat menghasilkan 1 – 4 ekor anak kambing. Setelah 1 bulan semenjak sang induk kambing melahirkan maka induk kambing sudah bisa kita kawinkan kembali dengan kambing pejantan.
Setelah proses kelahiran, anak kambing yang baru lahir tersebut juga perlu perawatan yang baik dan benar. Memastikan sang anak mendapat susu dari si induk, agar si anak memperoleh asupan susu yang tepat dari sang induk karena terkadang si induk enggan menyusui anaknya, ini bisa menyebabkan anak kambing kekurangan gizi. Jika keadaannya seperti itu, kita bisa memberi si anak kambing susu buatan. Biasanya penyapihan anak kambing bisa di lakukan setelah usianya mencapai 3 – 4 bulan, setelah itu anakan kambing ini dapat di jual sebagai bakalan bibit. Sedangkan setelah umur 10 bulan ke atas barulah kambing dapat di panen untuk di ambil dagingnya.
Beternak kambing ini relatif mudah untuk di lakukan. Sebenarnya kalau pemilihan bibitnya benar sehingga mendapatkan bibit yang bagus dan sehat, serta kebersihan kandang yang kita selalu jaga maka tidak perlu khawatir akan penyakit yang mengancam. Memang di butuhkan ketekunan dan kesabaran dalam beternak kambing, karena waktu yang di butuhkan sampai dengan masa panen cukup lama. Namun, hasilnya cukup lumayan kalau dilakukan secara intensif dalam jumlah cukup banyak.

Budidaya Sapi Perah





Jual Aspergillus niger, Saccaharomyces cerevisiae Untuk Fermentasi Pakan Ternak

087731375234


A. Mengenal Jenis-Jenis Sapi
Sapi adalah hewan ternak yang memiliki peran sangat penting sebagai penghasil daging, dan susu yang merupakan sumber gizi banyak dibutuhkan oleh manusia. Selain itu sapi banyak pula dimanfaatkan sebagai sarana transportasi atau pembajak sawah di pedesaan. Hal ini menjadikan sapi merupakan aset sangat berharga yang harus dikembangkan oleh masyarakat Indonesia sebagai penggerak ekonomi rakyat. Beberapa referensi menyebutkan bahwa sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit. Di Indonesia permintaa daging sapi cukup tinggi, sehingga kebutuhan konsumen yang melebihi dari pada produksi daging sapi nasional harus dipenuhi dengan cara impor dari negara lain seperti AS, Australia dan lain-lain.

Sapi adalah jenis hewan yang termasik famili Bovidae. Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos Taurus. Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia).

Salah satu jenis sapi yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jenis sapi Ongole dari India, kemudian dibawa ke pulau Sumba dan kembangbiakan sebagai hewan ternak penghasil daging. Salah satu cara untuk memberpaiki mutu genetik sapi adalah dilakukan kawin silang antara sapi satu dengan yang lain sehingga diperoleh keturunan yang lebih baik. Pada tahun 1957 dilakukan penyilangan antara perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan sapi Red Deen, peranakan Ongole / PO dengan sapi perah Frisian Holstein untuk mendapatkan sapi perah jenis sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia. Saat ini, telah banyak berkembang jenis sapi impor yang mulai dibudidayakan di tanah air seperti Limousin, Simental dan lain-lain.

Dari beberapa jenis sapi tersebut, kita akan mengupas tentang budidaya sapi perah dan mengolah hasil susu menjadi aneka produk olahan. Saat ini di Indonesia, usaha ternak sapi perah masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi bisnis. Rendahnya tingkat produktivitas sapi perah lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, teknik pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Dan kurangnya pengetahuan peternak tentang aspek tata niaga sapi perah.

B. Teknik Budidaya Sapi Perah
Untuk mencapai keberhasilan dalam usaha budidaya hewan sapi maka penting sekali memahami teknik budidaya yang baik. Tanpa memahami teknik budidaya yang baik maka usaha hewan ternak sapi dapat mengalami kegagalan. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan adalah antara lain:
a. Menentukan Lokasi Kandang Dan Pembuatan Kandang
Untuk melakukan budidaya hewan sapi yang pertama harus dilakukan adalah menentukan lokasi kandang yang sesuai dengan jenis sapi dan lingkungan yang kondusif. Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah tidak berada di tempat pemukiman yang padat. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari. Kandang mendapat sinar matahari yang cukup sehingga tidak terlalu lembab yang dapat menyebabkan datangnya penyakit. Kandang dapat dibuat dengan kayu, batako, bambu. Dan, dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang. Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.

Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak. Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat. Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya.
Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).

b. Penyediaan Bibit
untuk budidaya sapi perah, maka syarat-syarat bibit betina yang harus dipenuhi adalah:
  1. produksi susu tinggi,
  2. umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak,
  3. berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi,
  4. bentuk tubuhnya seperti baji,
  5. matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat,
  6. ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek,
  7. tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan
  8. tiap tahun beranak.
  9. berasal dari induk yang menghasilkan air susu tinggi,
  1. kepala dan leher sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar,
  2. jarak antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup lebar,
  3. pertumbuhan ambing dan puting baik,
  4. jumlah puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris, serta
  5. sehat dan tidak cacat.
Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
  1. umur sekitar 4-5 tahun,
  2. memiliki kesuburan tinggi,
  3. daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya,
  4. berasal dari induk dan pejantan yang baik,
  5. besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik,
  6. kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat,
  7. muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar,
  8. paha rata dan cukup terpisah,
  9. dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar,
  10. badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta
  11. sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.

c.Pemeliharaan
  1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
    Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan. Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.
  2. Perawatan Ternak
    Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan, sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut harus dibongkar). Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.
  3. Pemberian Pakan
    Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
    1. sistem penggembalaan (pasture fattening) 
    2. kereman (dry lot fattening) 
    3. kombinasi cara pertama dan kedua.
      Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa
      umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).
      Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari.
      Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara. Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.
       
  4. Pemeliharaan Kandang
    Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar. Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.

C. Hama Dan Penyakit Pada Sapi
  1. Penyakit antraks 
    • Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan. 
    • Gejala:
      1. demam tinggi, badan lemah dan gemetar;
      2. gangguan pernafasan;
      3. pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul;
      4. kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina;
      5. kotoran ternak cair dan sering bercampur darah;
      6. limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
    • Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
       
  2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)  
    • Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
    • Gejala:
      1. rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening;
      2. demam atau panas, suhu badan menurun drastis;
      3. nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali;
      4. air liur keluar berlebihan.
    • Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.  
  3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
    Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.
    • Gejala:
      1. kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan;
      2. leher, anus, dan vulva membengkak;
      3. paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua;
      4. demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.
    • Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa. 
  4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot) 
    • Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
    • Gejala:
      1. mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh;
      2. kulit kuku mengelupas;
      3. tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit;
      4. sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
Pencegahan Serangan
Upaya pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit yang diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan kering.

D. Panen
Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk betina. S Selain susu sapi perah juga memberikan hasil lain yaitu daging dan kulit yang berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak. usu dapat dijual dalam keadaan segar, atau diolah menjadi susu bubuk yang dapat dilakukan secara manual dalam skala home industri. Susu sapi juga dapat diolah menjadi yogurt yang banyak sekali diminati oleh banyak kalangan karena rasanya yang nikmat, gizinya tinggi dan menyehatkan. Untuk membuat yogurt dapat dilakukan dengan teknik fermentasi dengan menggunakan bantuan mikrobia Lactobaccillus bulgaricus dan Streptococcus termophyllus. Bakteri ini memberikan flafour yang nikmat dan rasa asam serta meningkatkan gizi pada susu.


Peluang Bisnis Budidaya Kedelai Hitam




Kedelai hitam adalah salah satu komoditas pertanian yang banyak dibutuhkan oleh industri kecap di Indonesia. Di Indonesia, kedelai hitam tidak sepopuler kedelai kuning, hal ini dimungkinkan karena industri berbahan baku kedelai kuning lebih variatif seperti industri tahu, tempe, tauco, susu kedelai, soygurt, oncom dan lain-lain, sedangkan kedelai hitam sebagian besar dikonsumsi oleh industri kecap. Kandungan protein kedelai hitam yang tinggi mencapai 3,20 % dan warnanya yang hitam menarik sehingga sangat baik digunakan sebagai bahan dasar membuat kecap.
Di Indonesia permintaan produk kecap cukup tinggi, hal ini ditandai dengan beragamnya produk kecap baik diproduksi oleh produsen Indonesia atau produk kecap impor. Masuknya aneka produk kecap impor ke Indonesia menjadi pesaing yang cukup kuat bagi para pelaku usaha kecap di Indonesia. Para produsen lokal harus siap bersaing dalam hal mutu produk dan pelayanan terhadap konsumen, sehingga konsumen tidak berpindah kepada produk-produk kecap impor. Animo masyarakat Indonesia terhadap produk kecap sebagai bumbu masakan sangat tinggi, sehingga menyebabkan permintaan produk kecap cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Tingginya permintaan produk kecap menunjukan bahwa industri kecap memiliki prospek yang cukup menjanjikan sebagai peluang bisnis. Saat ini, produk-produk kecap lokal masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar seperti kecap bango (PT Unilever), Kecap ABC, dan kecap nasional, sedangkan produk kecap home industri jumlahnya hanya sedikit, padahal teknologinya sederhana dan investasi juga tidak terlalu besar. Hal ini dimungkinkan karena pasokan kedelai hitam masih sangat rendah, dan relatif mahal. Baik kedelai kuning maupun kedelai hitam sebagian besar masih impor, kurang lebih 60 % berasal dari Amerika Serikat.
Di Negara maju seperti AS, para petani kedelai mendapat subsidi dari pemerintah kurang lebih 50 % persen, sehingga mampu menjual kedelai dengan harga yang lebih murah. Hal ini yang seringkali memberi peluang para importir mendatangkan kedelai dari luar negeri, dan membuat para petani kedelai kita enggan untuk menanam kedelai. Membanjirnya kedelai impor, membuat para pelaku usaha industri berbasis kedelai semakin ketergantungan dengan kedelai impor. Saat harga kedelai melambung tinggi, banyak industri olahan kedelai yang mengeluh dan tidak sedikit yang berhenti beroperasi. Ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor menyebabkan harga kedelai fluktuatif. Hal ini juga berpengaruh terhadap pasang surutnya industri berbasis kedelai.
Oleh karena itu, Indonesia sebagai Negara agraris harus sesegera mungkin bangkit dari ketergantungan terhadap komoditas impor. Kita harus membangkitkan semangat para petani untuk menanam kedelai. Para petani menginginkan adanya kepastian pasar dengan harga yang menguntungkan dan relatif stabil. Peran pemerintah sangat penting yaitu dengan mengembangkan riset benih unggul, bantuan teknologi dan permodalan, pembentukan kelompok-kelompok tani, infra struktur, dan lain-lain. Benih kedelai unggul sangat penting untuk dikembangkan yaitu yang memiliki produktifitas yang tinggi dan kualitasnya juga mampu bersaing dengan kedelai impor.
Saat ini, terdapat beberapa benih kedelai hitam yang dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian yaitu; Detam 1 dan Detam 2. Detam 1 memiliki potensi hasil hingga 3,45 t/ha dan ukuran biji besar (14,84 g/100 biji) dan kandungan proteinnya mencapai45,36% bk. Detam 1 menjadi varietas kedelai hitam pertama berukuran biji besar dan menjadi varietas kedelai berkandungan protein tertinggi. Sedangkan Detam 2 memiliki ukuran biji sedang, kandungan protein mencapai 45,58% bk, dan menjadi varietas kedelai hitam dengan kandungan protein sangat tinggi, dan tahan kekeringan. Semakin tinggi protein biji kedelai, kadar protein kecap yang dihasilkan juga semakin tinggi. Sifat sensoris kecap, meliputi warna kecap Detam 1 dan Detam 2 berkriteria paling disukai.
Badan Litbang Pertanian, juga telah mengembangkan varietas kedelai berumur super genjahtoleran terhadap kekeringan dan hama melalui mekanisme escape(terhindar) serta meningkatkan indeks pertanaman (IP) antara lain yaitu; kedelai hitam W9837 X Cikuray-66, potensi hasil bijinya tinggi, hingga 3,15 t/ha (rata-rata 2,88 t/ha), berumur genjah (75 hari), rendemen kecap mencapai 88%, dan kecap yang dihasilkancukup baik; galur harapan  W9837 X 100H-236 memiliki potensi hasil 2,89 t/ha (rata-rata 2,54 t/ha), toleran kekeringan, berumur genjah, agak tahan hama kepik coklat dan karat daun.
Saat ini, Universitas Gadjah Mada juga telah mengembangkan benih kedelai hitam unggul yang diberi nama Kultivar Mallika yang merupakan varietas lokal kedelai hitam dan telah mengalami pemurnian dan diuji di 17 lokasi. Univeristas Gadjah Mada dengan berkolaborasi bersama PT Unilever mengembangkan kemitraan dengan para petani untuk mengembangkan budidaya kedelai hitam. PT Unilever bertindak sebagai fihak penampung hasil panen kedelai hitam dari para petani kedelai hitam yang menjadi mitra dengan konsep saling menguntungkan. Dengan adanya pasar yang jelas, para petani mulai bersemangat untuk membudidayakan kedelai hitam.
Saat ini, benih Mallika telah dikembangkan di 4 provinsi (DIY, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur) meliputi 16 kabupaten (Cianjur, Bantul, Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul, Blitar, Jombang, Trenggalek, Nganjuk, Madiun, Ngawi, Bojonegoro, Klaten, Blora, dan Pacitan, Wonogiri dan Sukoharjo. Target penanaman kedelai hitam tahun 2008 mencapai 2.150 ha dengan melibatkan lebih dari 8.000 petani. Kedelai hitam kultivar Mallika sudah cukup teruji dan mampu menunjukkan beberapa keunggulan baik kuantitas dan kualitasnya. Potensi hasil Mallika berkisar antara 1,64-2,93 ton/ha, dan di tingkat petani mampu mencapai 2,40 ton/ha (tahun 2004), 2,76 ton/ha (tahun 2005), bahkan 3,0 ton/ha. Mallika juga mampu beradaptasi terhadap kondisi kekeringan dan curah hujan tinggi. Adanya kerjasama antara lembaga peniliti, produsen kecap, dan petani, diharapkan produksi kedelai hitam di Indonesia meningkat. Meningkatnya produksi kedelai hitam pada gilirannya akan menurunkan impor, dan stabilitas harga kedelai hitam di dalam negeri dapat stabil, serta berkembangnya industri kecap baik skala besar atau rumahan.


JUAL ACETOBACTER XYLINUM (BIBIT NATA)




Acetobacter xylinum
087731375234


Acetobacter xylinum adalah bakteri yang mampu memfermentasi bahan menghasilkan nata (bahan selulosa berupa jeli). Acetobacter xylinum merupakan bakteri berbentuk batang pendek, mempunyai panjang kurang lebih 2 mikron dan permukaan dindingnya berlendir. Acetobacter xylinum mampu mengoksidasi glukosa menjadi asam glukonat dan asam organik lain pada waktu yang sama, dan mempolimerisasi glukosa sehingga terbentuk selulosa. Bakteri ini biasa digunakan untuk membuat nata de coco/nata de soya/nata de cassava. Bakteri ini merupakan bakteri yang menguntungkan dan tidak berbahaya. 
Acetobacter xylinum memiliki ciri-ciri antara lain merupakan gram negatif pada kultur yang masih muda, sedangkan pada kultur yang sudah tua merupakan gram positif, bersifat obligat aerobic artinya membutuhkan oksigen untuk bernafas, membentuk batang dalam medium asam, sedangkan dalam medium alkali berbentuk oval, bersifat non mortal dan tidak membentuk spora, tidak mampu mencairkan gelatin, tidak memproduksi H2S, tidak mereduksi nitrat dan termal death point pada suhu 65-70°C.
Acetobacter xylinum mengalami pertumbuhan sel secara teratur, mengalami beberapa fase pertumbuhan sel yaitu fase adaptasi, fase pertumbuhan awal, fase pertumbuhan eksponensial, fase pertumbuhan lambat, fase pertumbuhan tetap, fase menuju kematian, dan fase kematian. Acetobacter xylinum akan mengalami fase adaptasi terlebih dahulu jika dipindahkan ke dalam media baru. Pada fase ini terjadi aktivitas metabolisme dan pembesaran sel, meskipun belum mengalami pertumbuhan. Fase pertumbuhan adaptasi dicapai pada 0-24 jam sejak inokulasi. Fase pertumbuhan awal dimulai dengan pembelahan sel dengan kecepatan rendah. Fase ini berlangsung beberapa jam saja. Fase eksponensial dicapai antara 1-5 hari. Pada fase ini bakteri mengeluarkan enzim ektraseluler polimerase sebanyak-banyaknya untuk menyusun polimer glukosa menjadi selulosa. Fase pertumbuhan lambat terjadi karena nutrisi telah berkurang, terdapat metabolit yang bersifat racun yang menghambat pertumbuhan bakteri dan umur sel sudah tua. Pada fase ini pertumbuhan tidak stabil, tetapi jumlah sel yang tumbuh masih lebih banyak dibanding jumlah sel mati. Fase pertumbuhan tetap terjadi keseimbangan antara sel yang tumbuh dan yang mati. Matrik nata lebih banyak diproduksi pada fase ini. Fase menuju kematian terjadi akibat nutrisi dalam media sudah hampir habis. Setelah nutrisi habis, maka bakteri akan mengalami fase kematian. Pada fase kematian, sel dengan cepat mengalami kematian tidak baik untuk dijadikan strain nata.
Pertumbuhan Acetobacter xylinum dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah kandungan nutrisi meliputi jumlah karbon dan nitrogen, tingkat keasaman media, pH, temperatur, dan udara (oksigen). Suhu optimal pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum pada 28–31˚C, pH optimal 3-4, memerlukan oksigen sehingga dalam fermentasi tidak ditutup dengan bahan kedap udara sehingga tidak memungkinkan udara masuk sama sekali, tutup untuk mencegah kotoran masuk ke dalam media yang dapat mengakibatkan kontaminasi.
Bibit Acetobacter xilynum berasal dari kultur murni yang sudah ada dapat dikembangbiakan dengan menggunakan media air kelapa atau substrat nanas. Bibit Acetobacter xilynum  yang dikembangkan dipilih dari bibit yang memiliki kualitas baik tidak terkontaminasi mikroorganisme lain, umur 4-10 hari.

Peluang Bisnis Pupuk Kandang




Jual Aneka Culture Mikroba
087731375234


Selain menghasilkan daging, usaha peternakan juga menghasilkan produk sampingan berupa limbah kotoran ternak (feses). Limbah ternak dapat diolah untuk dijadikan kompos dan sebagai bahan baku penghasil biogas. Dengan adanya pengolahan limbah ternak ini selain dapat mengatasi masalah lingkungan juga dapat memberikan nilai tambah bagi peternak karena mempunyai nilai ekonomis. Pembuatan kompos dapat mendukung kegiatan pertanian untuk mengembalikan kesuburan lahan. Adapun pembuatan biogas dapat dijadikan alternatif pengganti sumber energi yang tidak dapat diperbaharui seperti bahan bakar fosil. Selain menghasilkan gas metan, biogas juga menghasilkan pupuk organik padat dan pupuk organik cair.

Kotoran sapi dapat dibuat menjadi beberapa jenis kompos yaitu curah, blok, granula dan bokhasi. Kompos sebagai pupuk organik yang berbahan kotoran sapi mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan pupuk anorganik. Selain itu, kompos juga mempunyai prospek dan peluang yang besar untuk dipasarkan secara lebih meluas untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia. Penyediaan kompos organik yang berkelanjutan dan praktis dapat mempermudah petani untuk memanfaatkannya sebagai penyubur tanah.

Kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Selama ini sisa tanaman dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk buatan. Kompos yang baik adalah yang sudah cukup mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang. Proses pembuatan dan pemanfaatan kompos dirasa masih perlu ditingkatkan agar dapat dimanfaatkan secara lebih efektif, menambah pendapatan peternak dan mengatasi pencemaran lingkungan.

Proses pengomposan adalah proses menurunkan C/N bahan organik hingga sama dengan C/N tanah ( 20). Selama proses pengomposan, terjadi perubahan-perubahan unsur kimia yaitu : 1) karbohidrat, selulosa, hemiselulosa, lemak dan lilin menjadi CO2 dan H2O; 2) penguraian senyawa organik menjadi senyawa yang dapat diserap tanaman. Kompos merupakan salah satu komponen untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan memperbaiki kerusakan fisik tanah akibat pemakaian pupuk anorganik (kimia) pada tanah secara berlebihan yang berakibat rusaknya struktur tanah dalam jangka waktu lama. Mengingat pentingnya pupuk kompos dalam memperbaiki struktur tanah dan melambungnya harga pupuk buatan maka perlu disusun buku petunjuk teknis pembuatan kompos organik berbahan kotoran sapi untuk memudahkan petani dalam memanfaatkan kotoran sapi, sekaligus memproduksi pupuk organik yang akhirnya akan menambah pendapatan.

Manfaat kompos organik diantaranya adalah 1) memperbaiki struktur tanah berlempung sehingga menjadi ringan; 2) memperbesar daya ikat tanah berpasir sehingga tanah tidak berderai; 3) menambah daya ikat tanah terhadap air dan unsur-unsur hara tanah; 4) memperbaiki drainase dan tata udara dalam tanah; 5) mengandung unsur hara yang lengkap (jumlah tersebut tergantung dari bahan pembuat pupuk organik); 6) membantu proses pelapukan bahan mineral; 7) memberi ketersediaan bahan makanan bagi mikroba; 8) menurunkan aktivitas mikroorganisme yang merugikan. Pengolahan kotoran sapi yang mempunyai kandungan N, P dan K yang tinggi sebagai pupuk kompos dapat mensuplai unsur hara yang dibutuhkan tanah dan memperbaiki struktur tanah menjadi lebih baik, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi semakin optimal.

Pembuatan kompos diawali dengan pengumpulan kotoran sapi dengan cara pemanenan dari kandang. Sebelum diproses menjadi pupuk kompos, kotoran sapi ditampung dalam tempat yang disediakan khusus yang letaknya agak berjauhan dengan tempat penyimpanan pakan dan kandang, selanjutnya jika mencapai jumlah yang dibutuhkan dapat diproses menjadi kompos dalam bentuk curah, blok, granula dan bokhasi.

Kotoran yang dipanen dari kandang diangin-anginkan di tempat teduh selama 2 bulan di musim hujan atau 1 bulan di musim kemarau, kotoran dihancurkan dan diayak dengan ukuran lubang 0,5 x 0,5 cm. Kemudian ditambahkan tanah humus, kapur, diaduk, setelah rata di ayak, ditambahkan bahan aktifator. Bahan aktifator pembuatan kompos dapat diperoleh di toko-toko pertanian. Dapat pula dengan menambahkan bahan-bahan organik lainnya seperti kotoran ayam, sekam, bekatul, dan lain-lain.

Setelah proses pencampuran dan pengadukan bahan-bahan kompos, maka bahan kompos tersebut kemudian ditutup dengan menggunakan plastik atau dengan menggunakan terpal kurang lebih satu minggu-sebulan. Agar proses fermentasi dapat berlangsung dengan baik, maka diusahakan tempat untuk proses fermentasi tersebut terlindung dari hujan dan terik panas yang berlebihan.

Setelah proses fermentasi cukup, maka bahan kompos tersebut kemudian diayak untuk menghilangkan bahan-bahan kasar. Setelah diayak kemudian digiling dengan menggunakan mesin penggiling hingga dihasilkan pupuk kompos yang halus. Setelah itu, pupuk kompos dikemas dengan menggunakan karung dengan ukuran 20 Kg.



Peluang Bisnis Tahu




Jual GDL penggumpal Tahu
087731375234




A. Potensi Pasar Produk Tahu
Tahu merupakan produk makanan berbahan baku kedelai yang sudah dikenal sejak lama di Indonesia. Berbeda dengan tempe yang merupakan makanan asli Indonesia, tahu merupakan produk makanan asal China. Sebagaimana produk tempe, tahu juga banyak digemari oleh masyarakat Indonesia karena memiliki cita rasa yang nikmat, bergizi tinggi dan harganya juga terjangkau. Di Indonesia, tahu sudah menjadi makanan yang sangat familier dikonsumsi oleh masyaratkat kelas bawah maupun kelas atas. Tahu sudah menjadi masakan yang sangat familier banyak dijumpai di warung-warung sekelas warteg hingga restoran papan atas. Selain sebagai menu masakan lauk pauk, tahu telah diolah menjadi berbagai aneka produk makanan khas seperti; tahu bakso, siomay, tahu goreng, tahu gejrot, gado-gado dan aneka camilan seperti keripik tahu dan lain-lain. Hal ini menunjukan bahwa tahu memiliki pangsa pasar  yang luas.
Tahu merupakan produk makanan yang mudah rusak karena memiliki kadar air dan protein tinggi merupakan media tumbuh yang potensial bagi mikroorganisme pembusuk. Produk tahu memiliki umur simpan yang singkat 2-3 hari, hal ini menjadi faktor kendala untuk mencapai pasar yang lebih luas. Umumnya para pengrajin tahu berproduksi dalam skala home industri dengan kapasitas produksi sesuai kemampuan memasarkan hasil produksinya.
Untuk meningkatkan daya tahan tahu, umumnya para pengrajin tahu mencampurkan bahan pengawet. Namun, untuk mengawetkan tahu sebaiknya dilakukan dengan bahan-bahan yang aman tidak menimbulkan penyakit atau kematian terhadap konsumen. Penggunaan bahan-bahan berbahaya seperti formalin harus dihindari. Tahu yang telah direndam dengan formalin teksturnya menjadi kompak dan keras dan kadar airnya lebih sedikit. Tahu yang memiliki kualitas baik adalah memiliki warna cerah dan bersih, tidak keras, tidak berbau, menggunakan pewarna alami seperti kunyit. Pengawetan tahu yang aman dan murah dapat dilakukan dengan menggunakan bahan kalium sorbat. Tahu yang direndam dalam larutan air mendidih yang dicampur kalium sorbat 0,3%, memiliki  umur simpan seminggu dalam suhu kamar. Cara lain yang umumnya digunakan oleh para pengrajin tahu adalah dengan merendam dalam larutan kunyit yang telah disaring dan ditambahkan air jeruk nipis yang dipanaskan hingga mendidih. Cara ini dapat mengawetkan tahu selama 3 hari.
Industri tahu umumnya merupakan industri skala rumahan dengan jumlah tenaga kerja sedikit kurang lebih 2-6 orang dan investasi yang diperlukan tidak terlalu besar. Teknologi proses pada industri tahu sederhana dan mudah dipelajari sehingga industri tahu dapat dijalankan oleh siapa saja. Industri tahu juga tidak memerlukan tempat produksi yang luas dan dapat dijalankan di area perkampungan maupun perkotaan asalkan limbahnya dapat tertangani dengan baik dan tidak mengganggu lingkungan. Industri tahu menghasilkan limbah ampas tahu dan limbah cair tidak berbahaya, namun jika pengelolaannya tidak baik dibuang begitu saja ke lingkungan dapat mengganggu kenyamanan lingkungan.

B. Teknik Produksi
            Proses produksi tahu relatif mudah dan sederhana serta tidak membutuhkan investasi yang tinggi. Secara umum proses produksi tahu hampir sama, hanya saja ada yang menggunakan bahan kimia untuk penggumpal dan ada yang alami. Prinsip dasar pembuatan tahu adalah; sortasi, perendaman, penggilingan dan pengenceran, perebusan, penyaringan, penggumpalan, pencetakan, pengirisan, pengemasan.
a. Bahan
1) Kedelai 50 kg per hari
2) Air
b. Alat
1) Ember besar
2) Tampah (nyiru)
3) Kain Saring
4) Kayu pengaduk
5) Cetakan Terbuat dari papan kayu
6) Keranjang
7) Tungku perebusan dari semen yang dilapisi stainless
8). Mesin gilingan

            Setelah alat dan bahan disiapkan, maka proses produksi dapat dilakukan. Langkah-langkah proses produksi tahu adalah sebagai berikut:
1. Penyortiran
            Penyortiran kedelai dilakukan untuk menghilangkan kotoran-kotoran seperti batuan-batuan kecil, daun-daun atau batang tanaman yang terbawa pada kedelai, atau kedelai yang cacat, sehingga hanya kedelai yang memiliki kualitas bagus saja yang digunakan untuk proses pembuatan tahu.
2. Perendaman
Setelah didapatkan kedelai disortasi, kemudian direndam dengan menggunakan air bersih selama kurang lebih 8 jam. Pada saat perendaman hindaran terkena oleh bahan kimia seperti sabun, air yang mengandung kaporit, terkena garam, atau minyak.
3. Pencucian
            Setelah direndam, kedelai yang sudah mengembang dan lunak kemudian dicuci bersih dengan menggunakan air sumur, sebaiknya dicuci pada air yang mengalir agar lendirnya terbawa sehingga kedelai lebih bersih. Pencucian bertujuan untuk menghilangkan lendir dan sifat asam. 4.Penggilingan.
Kedelai yang telah dicuci kemudian digiling dengan menggunakan mesin dan sambil ditambahkan air sedikit demi sedikit hingga dihasilkan bubur kedelai yang berwarna putih. Bubur kedelai ini siap untuk direbus. Dengan menggunakan ember, bubur kedelai tersebut dituangkan ke dalam bak perebusan.
5. Perebusan
            Perebusan dilakukan dengan menggunakan bak terbuat dari semen yang di dalamnya dilapisi bahan stainless dengan diameter 1 m dan tinggi kurang lebih 1,2 m. Bak perebusan menggunakan bahan bakar kayu, sekam, atau sisa-sisa gergajian. Penggunakan bahan bakar tersebut lebih efesien dan lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan gas. Perebusan dilakukan selama kurang lebih 1 jam, selama perebusan lakukan pengadukan terus menerus.
6. Penyaringan
Setelah mendidih, larutan bubur kedelai  tersebut disaring dengan menggunakan kain kasa yang sangat halus, hasil endapannya ditampung dalam sebuah bak semen yang bagian dalamnya dilapisi bahan stainless. Lakukan pemerasan atau pengepresan sehingga sari kedelai dapat terpisahkan dengan optimal, kemudian pisahkan ampasnya. Sari kedelai yang telah tertampung kemudian tambahkan air, larutkan 3 ml asam cuka untuk 1 liter sari kedelai, sedikit demi sedikit sambil diaduk perlahan-lahan. Asam cuka kadar 70 -90% berfungsi membantu dalam penggumpalan sari kedelai.
7. Pencetakan
Setelah sari kedelai mengalami pengendapan dan menggumpal, langkah selanjutnya adalah melakukan pencetakan. Pencetakan dapat dilakukan dengan menggunakan cetakan yang terbuat dari kayu berukuran luasnya 40 x 40 cm2 tingginya kurang lebih 10 cm seperti pada gambar di bawah ini, pada tiap sisi cetakan dibuat lubang untuk pengeluaran air. Siapkan papan cetakan kosong dan bagian atas dilapisi kain halus dan tipis. Kemudian, sari kedelai dituangkan ke cetakan yang sudah dilapisi kain tipis tersebut, susun cetakan 2-5 unit, kemudian bagian atas nya ditutup dengan papan kayu, cetakan paling atas di beri pemberat dengan menggunakan ember yang diisi air.
8. Pemotongan
            Setelah sari kedelai dipres kurang lebih 15 menit, sehingga kadar airnya rendah maka dihasilkan tahu dalam bentuk lembaran sesuai dengan ukuran cetakannya. Tahu yang masih dalam lembaran tersebut pindahkan bersama papan cetakannya dan susun dengan rapi dalam ruang pemotongan. Pemotongan harus dilakukan segera, sehingga tahu tidak menjadi lembek dan basi. Tahu yang masih lembaran, berwarna putih tersebut dipotong-potong dengan menggunakan pisau stainlees yang tajam.
9. Pengukusan Tahu
Tahu yang telah dipotong-potong kemudian dikukus dengan menggunakan panci. Jika kita menghendaki tahu berwarna kuning, maka dapat dilakukan perebusan tahu yang sudah dipotong-potong dengan menambahkan bahan kunyit yang ditumbuk. Tahu tersebut akan berwarna kuning dan memiliki cita rasa khas lebih nikmat. Selain itu, tahu potongan yang masih mentah tersebut juga dapat digoreng dengan ditambahkan bumbu, kemudian direndam dalam air.
10. Pengemasan
            Tahu yang telah dikukus kurang lebih 15-20 menit kemudian dikemas dengan menggunakan plastik yang ditambah air agar tahu dapat bertahan kurang lebih 3-4 hari. Jika kita ingin memasarkan produk tahu ke supermarket dengan segmen pasar menengah ke atas, maka produk kita harus memiliki tampilan yang menarik selain cita rasanya enak.

Jenis-Jenis Penyakit Pada Cabe Dan Cara Penanggulangannya





Jual Culture Mikroba
087731375234

Saat ini, tanaman cabe menjadi tanaman primadona, karena harga jualnya terkadang melambung tinggi sehingga para petani dapat menangguk untung besar. Pada saat panen raya, harga cabe biasanya turun, namun pada saat produksi merosot tajam karena gagal panen, harga bisa melambung fantastis. Inilah yang seringkali diharapkan petani agar pada masa panennya bertepatan dengan harga tinggi.Oleh karena itu, banyak petani cabe yang mulai berhitung untuk menentukan kapan harus bertanam cabe yang tepat.Selain jenis cabe yang unggul dan pemupukan yang baik, penting pula untuk mengantisipasi hama dan penyakit tanaman cabe yang seringkali menurunkan produktifitas tanaman. Hama dan penyakit tanaman cabe cukup banyak, sehingga para petani cabe harus intensif merawat tanaman cabe.  

Di musim kemarau, tanaman diintai lalat buah serta kutu daun yang dapat merusak buah. Sedangkan di musim hujan, tanaman terancam oleh antraknose, jamur dan pseudomonas solanaceanum. Untuk mengatasi lalat buah dan kutu daun, semprotkan pestisida dua minggu sekali setelah tanaman pindah ke pot, dan untuk mengatasi penyakit akibat antraknose, jamur dan bakteri bisa dengan penyemprotan fungisida satu hingga dua minggu sekali. Untuk pemanenan, cabe yang sudah berwama merah sebagian berarti sudah dapat dipanen. Ada juga petani yang sengaja memanen cabenya pada saat masih muda (berwarna hijau). Pemetikan dilakukan dengan hati-hati agar percabangan/tangkai tanaman tidak patah.

Hama dan penyakit menjadi faktor penyebab menurunnya produktifitas tanaman. Pada musim penghujan serangan hama dan penyakit tanaman cabe meningkat. Jika hama dan penyakit tersebut tidak dikendalikan secara baik, maka dapat menyebabkan petani mengalami kerugian. Strategi pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabe dianjurkan penerapan pengendalian secara terpadu. Pengendalian Hama dan Penyakit secara terpadu antara lain meliputi; pengendalian kultur teknik, hayati (biologi), varietas tahan penyakit, fisik dan mekanik, dan cara kimiawi.


A. Hama
1. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Ulat merupakan jenis hama yang akan menjadi kupu-kupu yang biasanya meletakkan telur secara berkelompok di atas daun atau tanaman. Ciri khas dari larva (ulat) grayak ini adalah terdapat bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergaris-garis kekuningan pada sisinya. Larva akan menjadi pupa (kepompong) yang dibentuk di bawah permukaan tanah. Daur hidup dari telur menjadi kupu-kupu berkisar antara 30 - 61 hari. Telur akan menetas menjadi ulat (larva), mula-mula hidup berkelompok dan kemudian menyebar. Menyerang bersama-sama dalam jumlah yang sangat banyak. Ulat ini memangsa segala jenis tanaman (polifag), termasuk menyerang tanaman cabe. Serangan ulat grayak terjadi di malam hari, karena kupu-kupu maupun larvanya aktif di malam hari. Pada siang hari bersembunyi di tempat yang teduh atau di permukaan daun bagian bawah. Hama ulat grayak merusak di musim kemarau dengan cara memakan daun mulai dari bagian tepi hingga bagian atas maupun bawah daun cabe. Serangan hama ini menyebabkan daun-daun berlubang secara tidak beraturan; sehingga menghambat proses fotosintesis dan akibatnya produksi buah cabe menurun.

Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara : mekanis, yaitu mengumpulkan telur dan ulat-ulatnya dan langsung dibunuh. Secara kultur teknis, yaitu menjaga kebersihan kebun dari gulma dan sisa-sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama, serta melakukan rotasi tanaman. Hayati (biologis) kimiawi, yaitu disemprot dengan insektisida berbahan aktif Bacilus thuringiensis. Sex pheromone, yaitu perangkap ngengat (kupu-kupu) jantan. Sex pheromone merupakan aroma yang dikeluarkan serangga betina dewasa yang dapat menimbulkan rangsangan sexual (birahi) pada serangga jantan dewasa untuk menghampiri dan melakukan perkawinan sehingga membuahkan keturunan. Sex pheromone dari Taiwan yang di Indonesia diberi nama "Ugratas" atau Ulat Grayak Berantas Tuntas berwarna "merah" sangat efektif untuk dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa ulat grayak. Cara pemasangan Ugratas merah ini adalah dimasukkan ke dalan botol bekas aqua volume 500 cc yang diberi lubang kecil untuk tempat masuknya kupu-kupu jantan. Untuk 1 hektar kebun cabe cukup dipasang 5-10 buah Ugratas merah, dengan cara digantungkan sedikit lebih tinggi di atas tanaman cabe.

2. Kutu Daun (Myzus persicae Sulz.)
Kutu daun atau sering disebut Aphid tersebar di seluruh dunia. Hama ini memakan segala jenis tanaman (polifag), lebih dari 100 jenis tanaman inang, termasuk tanaman cabe. Kutu daun berkembang biak dengan 2 cara, yaitu dengan perkawinan biasa dan tanpa perkawinan atau telur-telurnya dapat berkembang menjadi anak tanpa pembuahan (partenogenesis). Daur hidup hama ini berkisar antara 7 - 10 hari. Hama ini menyerang tanaman cabe dengan cara mengisap cairan daun, pucuk, tangkai bunga ataupun bagian tanaman lainnya. Serangan berat menyebabkan daun-daun melengkung, keriting, belang-belang kekuningan (klorosis) dan akhirnya rontok sehingga produksi cabe menurun.
Kehadiran kutu daun di kebun cabe, tidak hanya menjadi hama tetapi juga berfungsi sebagai penular (penyebar) berbagai penyakit virus. Di samping itu, kutu daun mengeluarkan cairan manis (madu) yang dapat menutupi permukaan daun. Cairan manis ini akan ditumbuhi cendawan jelaga berwarna hitam sehingga menghambat proses fotosintesis. Serangan kutu daun menghebat pada musim kemarau. Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara : Kultur teknik, yaitu menanam tanaman perangkap (trap crop) di sekeliling kebun cabe, misalnya jagung. Kimiawi, yaitu dengan semprotan insektisida yang efektif dan selektif seperti Deltamethrin 25 EC pada konsentrasi 0,1 - 0,2 cc/liter, Decis 2,5 EC 0,04%, Hostathion 40EC 0,1% atau Orthene 75 SP 0,1%.

3. Lalat Buah (Dacus ferrugineus)
Hama ini menyebabkan buah cabe mengalami kebusukan. Buah cabe yang diserang lalat buah akan menjadi bercak-bercak bulat, berlubang kecil dan kemudian membusuk. Buah cabe yang terserang akan dihuni larva yang menyebabkan semua bagian buah cabe rusak, busuk, dan berguguran (rontok). Serangga dewasa panjangnya kurang lebih 0.5 cm, berwarna coklat-tua, dan meletakkan telurnya di dalam buah cabe. Telur tersebut akan menetas, kemudian merusak buah cabe. Daur hidup hama ini lamanya sekitar 4 minggu, dan pembentukan stadium pupa terjadi di atas permukaan tanah.
Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara:  kultur teknik, yaitu dengan pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang lalat buah; secara mekanis yaitu dengan memusnahkan buah cabe yang terserang lalat buah, secara kimiawi yaitu dengan pemasangan perangkap beracun "metil eugenol" atau protein hydrolisat yang efektif terhadap serangga jantan maupun betina. Atau, disemprot langsung dengan insektisida seperti Buldok, Lannate ataupun Tamaron.

4. Thrips (Thrips sp.)
Gejala serangan yang ditimbulkan oleh thrips adalah awalnya timbul noda-noda keperakan pada daun-daun muda, akibat adanya luka bekas serangan thrips. Noda-noda keperakan tersebut berubah menjadi coklat. Serangan berat dapat menyebabkan daun-daun mengeriting ke atas. Serangga ini mempunyai tipe mulut pemarut dan pengisap. Ia memarut jaringan daun atau bunga dan mengisap cairan yang keluar dari bagian itu. Serangan pada bunga sudah mekar akan timbul bercak cokelat. Sedangkan pada bunga masih kuncup, thrips menyebabkan bunga gagal mekar. Thrips memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Serangga dewasa berukuran kecil, panjang 0,8 mm – 0,9 mm, berwarna kuning kecoklatan kehitam-hitaman. hama ini berkembang biak secara tak kawin (partenogenesis). Telur berbentuk oval, diletakkan di dalam jaringan daun. Nimfa berwarna putih dan sangat aktif, diikuti dengan periode pre pupa dan kemudian pupa. Pupa dibentuk dalam tanah, kemudian menjadi serangga dewasa. Daur hidup berkisar antara 7 – 12 hari di dataran rendah, dan berkembang pesat populasinya pada musim kering (kemarau). Spesies Thrips yang sering ditemukan adalah T. tabaci yang hidupnya bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag).

Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara kultur teknis, yaitu dengan pergiliran tanaman atau mengatur rotasi tanaman yang bukan sefamili, dan mengatur waktu tanam yang tepat, menggunakan mulsa plastik hitam perak pada lahan tanam. Pengendalian secara kimiawi, yaitu dengan disemprot insektisida berbahan aktif asetat, dimetoat, endosulfat, formothion, karbaril, merkaptodimetur, dan metomil. Dosis dan waktu pemberian yang tepat dapat menekan populasi thrips. Beberapa bahan insektida yang biasa digunakan oleh para petani antara lain adalah; Deltamethrin 25 EC 0,1-0,7 cc/lt, Triazophos 40 EC 0,5-2,0 cc/lt, Endosulfan 25 EC 0,5-2,0 cc/lt, atau juga Decis 2,5 EC (0,04%), Hostathion 20 EC (0,2%) maupun Mesurol 50 WP (0,1-0,2%), Pegasus 500 SC atau Perfekthion 400 EC, pada waktu sore hari.

5. Tungau (Tarsonemus translucens)
Tungau berukuran sangat kecil, tetapi bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Serangga dewasa panjangnya + 1 mm, bentuk mirip laba-laba, dan aktif di siang hari. Siklus hidup tungau berkisar selama 14-15 hari. Tungau menyerang tanaman cabe dengan cara mengisap cairan sel daun atau pucuk tanaman. Akibat serangannya dapat menimbulkan bintik-bintik kuning atau keputihan. Serangan yang berat, terutama di musim kemarau, akan menyebabkan cabe tumbuh tidak normal dan daun-daunnya keriting. Pengendalian tungau dapat dilakukan dengan cara disemprot insektisida akarisasi seperti Omite EC (0,2%) atau Mitac 200 EC (0,2%).

B. Penyakit
1. Patek
Penyakit patek atau antraks sering kali dijumpai tanaman cabe. Penyakit patek cukup berbahaya dan cepat menjalar, sehingga mampu menurunkan produktifitas yang signifikan. Penyakit patek disebabkan oleh cendawan Colletotricum capsici dan Colletotricum piperatum, bercak daun (Cercospora capsici). Gejala serangan antraks atau patek ialah bercakbercak pada buah, buah kehitaman dan busuk kering pada buah, dan akhirnya rontok. Penyakit busuk buah kering yang disebabkan cendawan untuk mengatasinya dapat menggunakan fungisida seperti Antracol dan dilakukan sesuai dengan dosis sesuai petunjuk penggunaan pada produk.

2. Keriting Daun  
Penyakit kuning keriting sangat sulit diberantas, apalagi dihilangkan sampai 0%. Upaya yang dilakukan hanya sebatas pengendalian risiko, untuk mencapai ambang toleransi penyakit agar tidak merugikan atau memperkecil kerugian produksi cabe.Gejala penyakit tanaman cabe pada umumnya berwarna mosaik kuning atau hijau muda mencolok. Kadang-kadang pucuk menumpuk keriting diikuti dengan bentuk helaian daun menyempit atau cekung, tanaman tumbuh tidak normal menjadi lebih kerdil dibandingkan dengan tanaman sehat. Kedua gejala penyakit di atas, kuning dan hijau keriting sering pula ditemukan secara bersamaan dalam satu varietas pada lahan yang sama. Di lapang gejala ditemukan dalam berbagai stadium dari mulai gejala awal seperti urat daun kekuningan pada pucuk sampai seluruh daun bergejala kuning. Penyakit ini diketahui pada beberapa varietas cabe cukup merugikan, hasil panen berkurang sampai terjadi puso, terutama pada tanaman yang terinfeksi sejak masa tanaman masih sangat muda. Pada tanaman cabe rawit yang terserang sampai 100% masih mampu menghasilkan buah walaupun sedikit, sedangkan pada cabe besar yang terserang penyakit ini menhasilkan buah yang sangat sedikit.

Bercak daun ialah bercakbercak kecil yang akan melebar. Pinggir bercak berwama lebih tua dari bagian tengahnya. Pusat bercak ini sering robek atau berlubang. Daun berubah kekuningan lalu gugur. Serangan keriting daun sesuai namanya ditandai oleh keriting dan mengerutnya daun, tetapi keadaan tanaman tetap sehat dan segar. Selain penyakit keriting daun, penyakit lainnya dapat dicegah dengan penyemprotan fungisida Dithane M 45, Antracol, Cupravit, Difolatan. Bila tanaman diserang penyakit keriting daun maka tanaman dicabut dan dibakar, karena pengendalian keriting daun secara kimia masih sangat sulit.  

Inti pengendalian penyakit kuning keriting pada tanaman cabe adalah upaya terpadu untuk menghalangi terjadinya infeksi terutama pada waktu tanaman masih muda. Pengendalikan penyakit kuning keriting adalah sebagai berikut: mengisolasi persemaian dengan kerodong yang kedap kutu kebul (+ 50 ), menggunakan mulsa plastik perak pada pertanaman di areal tanam, memantau tanaman muda sampai umur 30-35 hari, segera memusnahkan tanaman cabe yang terserang awal penyakit kuning keriting, tanaman yang dicabut segera disulam dengan semaian yang sehat, menggunakan insektisida selektif seperti imidaklorpid atau insektisida sejenis agar musuh alami predator tidak ikut termusnahkan, menyiangi gulma, pemeliharaan kebun dengan baik sesuai anjuran dan selalu memantau perkembangan serta mengendalian penyakit dan hama penting lainnya, gunakan varietas yang tahan terhadap keriting daun, dan lain-lain.


3. Layu Bakteri (Pseudomonas solana-cearum E.F. Smith)
Tanaman yang terserang Layu Bakteri akan menunjukan gejala layu pada batang dan daun tanaman, mulai dari bagian pucuk, kemudian menjalar ke seluruh bagian tanaman. Daun menguning dan akhirnya mengering serta rontok dan akhirnya mati. Penyakit layu bakteri dapat menyerang tanaman cabe pada semua tingkatan umur, tetapi paling peka adalah tanaman muda atau menjelang fase berbunga maupun berbuah.
Bakteri layu biasanya menghebat pada tanaman cabe di dataran rendah. Pengendalian penyakit bakteri layu harus dilakukan secara terpadu, yaitu: Perlakuan benih atau bibit sebelum tanam dengan cara direndam dalam bakterisida Agrimycin atau Agrept 0,5 gr/lt selama 5-15 menit. Perbaikan drainase tanah di sekitar kebun agar tidak becek atau menggenang. Pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menular ke tanaman yang sehat. Penggunaan bakterisida Agrimycin atau Agrept dengan cara disemprotkan atau dikocor di sekitar batang tanaman cabe tersebut yang diperkirakan terserang bakteri P. solanacearum. Selain itu juga dapat dilakukan dengan melakukan pengelolaan (manajemen) lahan, misalnya dengan pengapuran tanah ataupun pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae.

4. Layu Fusarium (Fusarium oxysporum Sulz.)
Gejala serangan yang dapat diamati adalah terjadinya pemucatan warna tulang-tulang daun di sebelah atas, kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai-tangkai daun; sehingga akibat lebih lanjut seluruh tanaman layu dan mati. Gejala kelayuan tanaman seringkali sulit dibedakan dengan serangan bakteri layu (P. solanacearum). Layu Fusarium disebabkan oleh organisme cendawan bersifat tular tanah. Biasanya penyakit ini muncul pada tanah-tanah yang ber-pH rendah (masam). Untuk membuktikan penyebab layu tersebut dapat dilakukan dengan cara memotong pangkal batang tanaman yang sakit, kemudian direndam dalam gelas berisi air bening (jernih). Biarkan rendaman batang tadi sekitar 5-15 menit, kemudian digoyang-goyangkan secara hati-hati. Bila dari pangkal batang keluar cairan putih dan terlihat suatu cincin berwarna coklat dari berkas pembuluhnya, hal itu menandakan adanya serangan Fusarium.

Pengendalian penyakit layu Fusarium dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: Perlakuan benih atau bibit dengan cara direndam dalam larutan fungisida sistemik, misalnya Benlate ataupun Derosal 0,5-1,0 gr/lt air selama 10-15 menit. Pengapuran tanah sebelum tanam dengan Dolomit atau Captan (Calcit) sesuai dengan angka pH tanah agar mendekati netral. Pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman yang sehat. Pengaturan pembuangan air (drainase), dengan cara pembuatan bedengan yang tinggi, terutama pada musim hujan. Penyiraman larutan fungisida sistemik seperti Derosal, Anvil, Previcur N dan Topsin di sekitar batang tanaman cabe yang diduga sumber atau terkena cendawan. Bercak Daun dan Buah (Collectro-tichum capsici (Syd). Butl. et. Bisby). Bercak daun dan buah cabe sering disebut penyakit Antraknose atau "patek". Penyakit ini menjadi masalah utama di musim hujan. Disebabkan oleh cendawan Gloesporium piperatum dan Colletotrichum capsici. Cendawan G. piperatum umumnya menyerang buah muda dan menyebabkan mati ujung.

5. Bercak Daun (Cercospora capsici Heald et Wolf)
Penyebab penyakit bercak daun adalah cendawan Cercospora capsici. Gejala serangan penyakit ditandai dengan bercak-bercak bulat kecil kebasah-basahan. Berikutnya bercak akan meluas dengan garis tengah + 0,5 cm. Di pusat bercak nampak berwarna pucat sampai putih dan pada bagian tepinya berwarna lebih tua. Serangan yang berat (parah) dapat menyebabkan daun menguning dan gugur, ataupun langsung berguguran tanpa didahului menguningnya daun. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun, dan disemprot fungisida seperti Topsin, Velimek, dan Benlate secara berselang-seling.
6. Bercak Alternaria (Alternaria solani Ell & Marf)
Penyebab penyakit bercak Alternaria adalah cendawan. Gejala serangan penyakit ini adalah ditandai dengan timbulnya bercak-bercak coklat-tua sampai kehitaman dengan lingkaran-lingkaran konsentris. Bercak-bercak ini akan membesar dan bergabung menjadi satu. Serangan penyakit bercak Alternaria dimulai dari daun yang paling bawah, dan kadang-kadang juga menyerang pada bagian batang. Pengendalian penyakit bercak Alternaria antara lain dengan cara menjaga kebersihan kebun, dan disemprot fungisida seperti Cupravit, Dithane M-45 dan Score, secara berselang-seling.

7. Busuk Daun dan Buah (Phytophthora spp)
Penyakit busuk daun dapat pula menyebabkan busuk buah cabe. Gejala serangan tampak pada daun yaitu bercak-bercak kecil di bagian tepinya, kemudian menyerang seluruh batang. Batang tanaman cabe juga dapat terserang penyakit ini, ditandai dengan gejala perubahan warna menjadi kehitaman. Buah cabe yang terserang menunjukkan gejala awal bercak-bercak kebasahan, kemudian meluas, dan akhirnya buah akan terlepas dari kelopaknya karena membusuk. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara pengaturan jarak tanam yang baik, yaitu di musim hujan idealnya 70 x 70 cm, mengumpulkan buah cabe yang busuk untuk dimusnahkan, dan disemprot fungisida seperti Sandovan MZ, Kocide atau Polyram secara berselang-seling.

8. Virus
Penyakit virus pada tanaman cabe di pulau Jawa dan Lampung ditemukan adanya Cucumber Mosaic Virus (CMV), Potato Virus Y (PVY), Tobacco Etch Virus(TEV), Tobacco Mosaic Virus (TMV), Tobacco Rattle Virus (TRV), dan juga Tomato Ringspot Virus (TRSV). Gejala penyakit virus yang umum ditemukan adalah daun mengecil, keriting, dan mosaik yang diduga oleh TMV, CMV dan TEV. Penyebaran virus biasanya dibantu oleh serangga penular (vektor) seperti kutu daun dan Thrips. Tanaman cabe yang terserang virus seringkali mampu bertahan hidup, tetapi tidak menghasilkan buah.
Pengendalian penyakit virus ini dapat dilakukan dengan cara : Pemberantasan serangga vektor (penular) seperti Aphids dan Thrips dengan semprotan insektisida yang efektif. Tanaman cabe yang menunjukkan gejala sakit dan mencurigakan terserang virus dicabut dan dimusnahkan. Melakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman yang bukan famili Solanaceae.

9. Penyakit Fisiologis
Merupakan keadaan suatu tanaman menderita sakit atau kelainan, tetapi penyebabnya bukan oleh mikroorganisme. Beberapa contoh penyakit fisiologis pada tanaman cabe yang paling sering ditemukan adalah kekurangan unsur hara Kalsium (Ca), dan terbakarnya buah cabe akibat sengatan sinar matahari. Tanaman cabe yang kekurangan unsur Ca akan menunjukkan gejala pada buahnya terdapat bercak hijau-gelap, kemudian menjadi lekukan bacah coklat kehitam-hitaman. Jaringan di tempat bercak menjadi rusak sampai ke bagian dalam buah. Bentuk buah cabe menjadi pipih dan berubah warna lebih awal (sebelum waktunya). Biasanya kekurangan Ca pada stadium buah rusak akan diikuti tumbuhnya cendawan. Usaha pencegahan kekurangan Ca dapat dilakukan dengan cara pengapuran sewaktu mengolah tanah, diikuti pemupukan berimbang, dan pengairan kebun secara merata. Bila tanaman cabe sedang masa berbuah tetapi menunjukan gejala kekurangan Ca, maka dapat disemprot dengan pupuk daun yang banyak mengandung unsur Ca.

C. Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Secara Organik

Teknik pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida umum  digunakan oleh para petani. Penggunaan pestisida sangat efektif untuk membasmi hama dan penyakit tanaman cabe. Pestisida merupakan bahan kimia yang dapat membunuh hama dan penyakit tanaman cabe, namun disisi lain bahan kimia tersebut juga dapat mencemari buah cabe sebagai produk pangan. Pestisida merupakan racun yang berbahaya bagi manusia, hewan peliharaan, dan lingkungan bila salah dalam penggunaannya. Penggunaan bahan-bahan berbahaya yang tidak diorientasikan sebagai pestisida hendaklah tidak dilakukan seperti formalin dan lain-lain. Penggunaan pestisida harus sesuai dosis yang dianjurkan, tepat waktu, tepat cara, tepat sasaran dan tepat guna.
Penggunaan pestisida secara kimia harus ditekan sedikit mungkin. Penggunaan pestisida kimia selain tidak baik bagi kesehatan konsumen, juga semakin lama hama dan penyakit menjadi resisten. Oleh karena itu, pertanian organic penting untuk digalakan. Kita dapat menggunakan agen mikrobia bahan bahan alami yang aman untuk mengendalikan hama dan penyakit. Beberapa jenis mikrobia yang sering digunakan sebagai agen pestisida pada sektor pertanian adalah antara lain;

No
Jenis Mikrobia
Jenis Pathogen
Jenis Tanaman
1
Bacillus thuringiensis
Lepidoptera ( Pluetella xylostella, Pieris rapae, Helicoverpa zea, Denddrolimus punctatus, Oristrina nubialis)
Sayuran, kapas, tanaman buah, padi, jagung, tanaman hias, tanaman hutan.
2
Beauveria bassiana
Coleoptera, Homoptera, Lepidoptera, Diptera
Tanaman kopi, bunga, sayuran, dll.
3
Beauveria brongniartii
Coleoptera, Homoptera, Lepidoptera, Diptera.
Tanaman bunga, kelapa sawit, tanaman budidaya lainnya.
4
Gliocladium virens
Layu semai ( Phytium, Rhizoctonia, Sclerotinia, Sclerotium, Fusarium spp)
Tanaman hias, sayuran, tanaman budidaya
5
Leginidium giganteum
Larva semua jenis nyamuk
Sawah, lahan basah, kolam, danau.
6
Metharizium anisopliae
Lepidoptera, Coleoptera, Homoptera, Orthoptera
Tanaman bunga, sayuran, kentang, lahan rumput, tanaman budidaya.
7
Myrothecium verrucaria
Cacing parasit
Tanaman hias, kubis, jeruk, turf
8
Trichoderma harzianum
Fusarium, Rhizoctonia, Alternaria, Rosellinia, Botrys, Sclerotium, Phytoptora sp.
Tanaman bunga, sayuran, buah, tanaman budidaya.
9
Pseudomonas fluorescens
Erwinia amylovora
Fusarium
Tanaman buah apel, ceri,pear, kentang, tomat,
10
Trichorderma coniingii
Jamur akar putih
Tanaman karet
11
Pseudomonas syringae
Organism pathogen lepas panen
Buah apel, pear, jeruk
12
Streptomyces griseoviridis
Jamur tular tanah (Fusarium sp, Alternaria, Rhizoctonia sp., Phomopsis sp. Phytium sp. Botrytis sp.)
Tanaman budidaya
13
Tricodherma viridae
Rhizotonia sp. Phytium sp. Fusarium sp.
Tanaman budidaya
14
Bacillus substillis
Rhizotonia sp. Phytium sp. Fusarium sp. Aspergillus sp.
Tanaman budidaya
15
Talaromyces flavus
Rhizotonia solani, verticilium dahliae
Busuk akar tanaman buah-buahan, tomat, mentimun.