This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 25 Juni 2019

Peluang Sukses Budidaya Kambing







Jual Aspergillus niger untuk fermentasi pakan ternak
Telp. 087731375234


Kambing adalah salah satu hewan ternak yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Daging kambing banyak diminati karena aroma khas daging kambing sangat disukai oleh penggemarnya. Di Indonesia kuliner sate kambing, tongseng kambing, dan lain-lain, sangat populer di Indonesia. Selain itu, daging kambing juga telah banyak dikalengkan menjadi  produk kemasan yang menarik, tahan lama, dan dipasarkan luas. Oleh karena itulah permintaan daging kaming terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, saat ini peternakan kambing di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan yang ada. Hal ini disebabkan  budidaya kambing di Indonesia secara umum belum dilakukan secara intensif, sehingga kapasitas produksinya masih rendah. Hal ini menjadi peluang yang menarik untuk mengusakan budidaya kambing. Di Indonesia, jenis kambing yang sudah umum dibudidayakan di antaranya adalah kambing Jawa, kambing Gibas, PE (peranakan etawa).  Langkah-langkah dalam budidaya kambing adalah sebagai berikut:
1. Pembuatan Kandang
Untuk beternak kambing hal pertama yang harus di perhatikan adalah kualitas  kandang. Ukurannya harus sesuai dengan jumlah kambing yang akan kita pelihara. Kandang harus memudahkan kita melakukan pengawasan terhadap kambing yang ada pada kandang, memudahkan kita dalam pemberian pakan dan aman serta kuat bagi si kambing. Sirkulasi udara yang cukup, dan pencahayaan matahari yang cukup (tidak terlalu panas dan tidak terlalu lembab). Kandang cukup kokoh dan biayanya layak terjangkau sehingga mampu bertahan lama. Kandang yang akan dibuat hendaknya minimal berjarak 10 meter dari rumah agar menghindari bau yang tidak sedap  yang dapat mengganggu kesehatan.
Pada umumnya tipe kandang yang baik bagi ternak kambing adalah yang berbentuk panggung. Kandang panggung memiliki kolong untuk menampung kotorandi bagian bawah kandang, berfungsi menghindari kebecekan serta kontak langsung dengan tanah yang bisa jadi tercemar penyakit. Lantai kandang di tinggikan antara 1 – 2 meter, bak untuk pakan dapat di tempelkan pada dinding kandang dengan ketinggiannya sebahu kambing.Dasar kolong kandang bagian pinggir di gali sedalam ±20 cm dan 30-50 cm pada bagian tengah serta di buatkan saluran yang menuju bak penampung kotoran yang selanjutnya dapat di proses untuk menjadi pupuk kandang.
Ukuran kandang: jika ingin memelihara kambing terpisah, bisa dengan ukuran 1,5 x 1,5 meter untuk 1 ekor kambing dewasa, jika kambing masih kecil tapi sudah di sapih bisa muat 2 ekor kambing. Sedangkan bagi kambing yang baru di lahirkan, kandang ini cukup utuk 2 ekor kambing kecil beserta induknya.Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan kandang agar kambing tidak mudah terserang penyakit. Jika kandang sudah pernah digunakan oleh kambing yang terserang penyakit, lebih baik kandang di desinfektan terlebih dulu. Tapi kalo kambingnya sehat cukup di cuci menggunakan air bersih saja. Kandang dan lingkungan disekitarnya juga tidak boleh lembab dan juga bebas dari genangan air, agar tidak di jadikan sarang nyamuk atau hewan sejenis lain yang dapat menggigit dan menghisap darah si kambing.
2. Pemilihan bibit yang bagus
Kambing Jawa cirinya adalah badannya kecil dan relatif pendek, telinganya juga pendek dan tegak, baik jantan maupun betinanya memiliki sepasang tanduk, lehernya yang pendek dan punggung meninggi, warna bulu bervariasi, ada yang tunggal hitam, coklat, merah atau belang hitam putih dan rasa kambing ini juga enak, banyak yang menyukainya. Jenis kambing ini lebih mudah perawatannya karena lebih tahan terhadap penyakit dan memiliki presentase perkembangbiakan yang bagus.
Sedangkan kambing Etawa ukuran tubuhnya lebih tinggi dan lebih besar serta telinganya memanjang ke bawah sepanjang 15 – 30 cm. Bagian hidung ke atas melengkung dan warna bulunya bervariasi antara coklat, putih dan hitam adalah yang paling sering dijumpai. Bagi kambing jantan memiliki bulu tebal dan agak panjang di daerah pundak dan di bawah leher, sedangkan kambing betinanya di bagian bawah ekor. Kambing ini bisa menghasilkan susu yang banyak, sehingga sering di gunakan juga sebagai penghasil susu. Tapi, kambing ini juga sangat cocok untuk di jadikan sebagai kambing penghasil daging.
Setelah mengenal jenis kambing yang akan di pelihara barulah memilih bibit yang berkualitas dan di butuhkan ketelitian, tentunya kita tidak ingin salah memilih kambing yang terkena penyakit dan bahkan bisa menular. Usia kambing yang di jadikan bibit harus sudah mencapai 4 bulan, karena pada saat itu kambing sudah berkonsentrasi pada pembentukan daging dan lebih mudah untuk di gemukkan.
Pilihlah yang bulunya mengkilap, matanya bening, tidak cacat, kakinya lurus kokoh dan tumitnya terlihat tinggi. Mulut dan hidung bersih tidak berlendir, sebagai tanda kambing tidak penyakitan, anusnya pun bersih. Garis pinggang dan garis punggung tulang belakang lurus, tidak melengkukng ke bawah. Usia ideal penggemukkan adalah sekitar 8 – 12 bulan. Ukuran badannya juga normal tidak kurus maupun terlalu gemuk / kelebihan. Sebaiknya juga pilih yang bentuk ekornya melebar bukan yang berbentuk seperti cambuk. Menurut para peternak, kambing yang memiliki ekor berbentuk cambuk pembentukan dagingya tidak terlalu maksimal / terlalu lamban. Sedangkan kambing yang memiliki bentuk ekor melebar lebih maksimal dalam pembentukan daging, yaitu sekitar 3 bulan.
3. Pemilihan pakan yang mencukupi kebutuhan gizi
Pakan adalah hal yang terpenting untuk menunjang proses penggemukan kambing, yaitu suatu aktivitas pemeliharaan kambing yang sebelumnya dalam kondisi kurus selanjutnya di tingkatkan berat badannya melalui proses pembesaran daging yang memakan waktu sekitar 3 – 5 bulan lamanya.Makanan kambing biasanya berupa hijau – hijauan segar, seperti: rumput, daun lamtoro, daun turi, daun singkong yang berprotein cukup tinggi, daun nangka dan daun pepaya. Tapi sebelum memberikan daun – daunan hijau pada kambing sebaiknya di lakukan penjemuran atau di layukan terlebih dahulu, sekitar 2 – 3 jam di bawah terik matahari yang bertujuan untuk menetralkan kemungkinan racun berbahaya yang ada di dalam daun – daunan hiaju tersebut.
Jika kambing sampai keracunan, si kambing bisa mabok, sakit dan bahkan mengalami kematian. Selain itu, kambing juga bisa diberi jerami (dari tanaman jagung, kedelai, padi, tebu atau yang lainnya), kulit umbi – umbian (seperti kulit singkong, ubi jalar dan yang lainnya), kulit kacang – kacangan (bisa kacang tanah ataupun kulit kopi), serta sayur – sayuran sisa dari pasar.
Kambing juga membutuhkan makanan padat atau konsentrat yang berguna untuk mempercepat penggemukan. Bisa di beli di toko pakan ternak atau di ganti menggunakan bekatul, ampas tahu dan ketela pohon yang sudah di cacah dengan perbandingan 40% : 40% : 20% . Kombinasi bahan tersebut harus mencapai 3 kg, karena sebanyak itulah yang harus di konsumsi 1 ekor kambing per harinya.
Kambing di beri makan 2 kali sehari, jam 8 pagi dan jam 4 sore. Pakan hijau – hijauan tidak di anjurkan di berikan bersamaan dengan pakan konsentrat, karena kandungan nutrisinya berbeda. Di sarankan, sebaiknya pakan konsentrat di berikan saat kambing sudah banyak mengkonsumsi hijau – hijauan, tapi belum juga terlihat kenyang. Jangan lupa juga untuk memberi minum dengan air bersih sekitar pukul 3 sore. Minuman yang paling bagus adalah air cucian beras yang sudah di campur dengan sedikit bekatul atau dedak.
Selain di berikan rumput, daun hijau dan juga makanan konsentrat. Kambing masih membutuhkan pakan pelengkap dengnan kandungan gizi ternak yang belum terdapat pada 3 jenis makanan sebelumnya. Pemberian pakan pelengkap ini bertujuan untuk lebih mengoptimalkan lagi pertumbuhan, kesehatan dan produksi ternak. Kambing dapat di berikan suplemen makanan yang mengandung asam amino esensial pembentuk sel dan organ tubuh, mengandung vitamin lengkap yang berguna untuk daya tahan tubuh dari serangan penyakit, serta mineral – mineral pelengkap (N, P, K, Ca, Mg, Cl dll) sebagai penyusun tulang dan darah, juga memperlancar proses metabolisme dalam tubuh. Bisa menggunakan suplemen merek Viterna yang bisa di larutkan bersamaan air atau pakan ternak yang akan di berikan.
4. Pemeliharaan kesehatan
Setelah kebutuhan pakan yang lengkap dan bergizi sudah tercukupi, selanjutnya adalah pemeliharaan atau perawatan si kambing. Tindakan pertama yang bisa kita lakukan adalah melakukan pencegahan terhadap penyakit yang bisa menyerang kambing peliharaan kita, seperti menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitarnya. Menurut pengalaman menjaga kebersihan kandang, memberi makanan sehat dan perawatan yang baik bisa menghilangkan bau pada kandang dan tubuh si kambing.
Lahan yang digunakan untuk memelihara atau yang di jadikan kandang harus bebas dari penyakit menular. Kambing yang di duga bulunya membawa penyakit sebaiknya di mandikan terlebih dahulu dan di gosok dengan larutan sabun karbol, Neguvon, Bacticol Pour, Triatex atau Granade 5% dengan konsentrat 4,5 gram untuk 3 liter air. Untuk membasmi kutu pada kambing, dapat di mandikan dengan larutan Asuntol dengan konsentrasi 3 – 6 gram untuk di larutkan pada 3 liter air.
Perlunya di lakukan vaksinasi secara rutin yang bertujuan untuk mencegah terjangkit penyakit yang di sebabkan oleh virus. Beberapa jenis penyakit yang sering menyerang kambing adalah: penyakit Parasit (cacingan, kudis, kutu), penyakit Bakterial (antraks, busuk kuku, cacar mulut), penyakit Virus, penyakit lain seperti keracunan sianida, kembung perut dan keguguran. Jika tidak segera di atasi bahkan bisa menyebabkan kematian.Maka perlunya pengamatan atau pemantauan pada ternak, jadi saat terdapat gejala penyakit tersebut terlihat pada kambing peliharaan kita, kita bisa segera tahu dan memastikan jenis penyakitnya serta cara pengobatannya sehingga mencegah penyakit tersebut menular ke kambing yang lainnya.
5. Cara reproduksi atau waktu kawin
Setelah semua persiapan, perawatan dan pemeliharaan baik dan benar yang sudah kita lakukan, hari demi hari si kambing akan tumbuh besar dan cukup dewasa untuk di kawinkan. Biasanya kambing potong yang berumur 8 – 10 bulan sudah siap untuk di kawinkan, tanda – tandanya adalah: kegelisahan, alat kelamin kambing menjadi kemerahan dan bengkak, ekor yang di gerak – gerakkan, dan juga berkurangnya nafsu makan.
Setelah di kawinkan kambing akan mengandung selama 5 – 6 bulan, lalu penanganan pada proses kelahiran juga di butuhkan. Kita perlu perhatikan tanda – tanda dari kambing potong yang ingin melahirkan, biasanya kambing akan menggaruk – garuk lantai kandang dan terlihat gelisah. Dalam hal ini, kita juga harus turut serta dalam proses kelahiran untuk menghindari hal- hal yang tidak di inginkan. Dengan pengelolaan yang baik kambing dapat melahirkan setiap 7 bulan sekali dan sekali melahirkan dapat menghasilkan 1 – 4 ekor anak kambing. Setelah 1 bulan semenjak sang induk kambing melahirkan maka induk kambing sudah bisa kita kawinkan kembali dengan kambing pejantan.
Setelah proses kelahiran, anak kambing yang baru lahir tersebut juga perlu perawatan yang baik dan benar. Memastikan sang anak mendapat susu dari si induk, agar si anak memperoleh asupan susu yang tepat dari sang induk karena terkadang si induk enggan menyusui anaknya, ini bisa menyebabkan anak kambing kekurangan gizi. Jika keadaannya seperti itu, kita bisa memberi si anak kambing susu buatan. Biasanya penyapihan anak kambing bisa di lakukan setelah usianya mencapai 3 – 4 bulan, setelah itu anakan kambing ini dapat di jual sebagai bakalan bibit. Sedangkan setelah umur 10 bulan ke atas barulah kambing dapat di panen untuk di ambil dagingnya.



Beternak kambing ini relatif mudah untuk di lakukan. Sebenarnya kalau pemilihan bibitnya benar sehingga mendapatkan bibit yang bagus dan sehat, serta kebersihan kandang yang kita selalu jaga maka tidak perlu khawatir akan penyakit yang mengancam. Memang di butuhkan ketekunan dan kesabaran dalam beternak kambing, karena waktu yang di butuhkan sampai dengan masa panen cukup lama. Namun, hasilnya cukup lumayan kalau dilakukan secara intensif dalam jumlah cukup banyak.

Sukses Budidaya Domba






Jual Aspergillus niger untuk fermentasi Pakan Ternak
Telp. 087731375234


Domba adalah salah satu hewan ternak yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Daging Domba memiliki cita rasa yang cukup disukai oleh banyak kalangan, sehingga permintaan daging domba semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hewan domba memiliki produktifitas yang cukup tinggi dan mudah dibudidayakan. Oleh karena itu, semakin banyak orang yang tertarik untuk membudidayakan domba secara intensif. Seperti halnya dengan kambing, domba memiliki produktivitas yang baik dari segi performanya, hasil produksinya meliputi bulu, daging, susu yang mengandung nilai gizi yang baik dan anakannya serta kotoran yang dapat di jadikan pupuk kandang. Selain itu domba cenderung tidak memiliki bau yang menyengat seperti kambing, sehingga tidak mengganggu sekitar area kandang domba.
Dalam beternak domba, manajemen cara ternak penting dikuasai agar produktifitas tinggi. Semakin cepat proses pemeliharaannya maka akan semakin mendapatkan keuntungan yang besar bagi peternak. Berikut cara ternak domba yang dapat mempercepat proses pemeliharaan.
1. Memilih Bibit Domba Unggul
A. Syarat Calon Induk Betina
B. Syarat Calon Induk Jantan
2. Kandang Domba
Berikut Adalah Syarat Kandang Domba Yang Baik :
Tipe Kandang Domba
Perlengkapan Kandang Domba
3. Pakan Domba
A. Pakan Hijauan
B. Pakan Kosentrat
C. Suplemen Organik
4. Pemeliharaan Ternak Domba
5. Penyakit Pada Domba Dan Solusilnya
A. Penyakit Cacingan
B. Kudis
1. Memilih Bibit Domba Unggul
Cara ternak domba diawali dengan pemilihan bibit domba yang tepat dan benar. Jika salah dalam memilih bibit domba, maka pengeluaran akan jauh lebih banyak. Selain itu pertumbuhan domba akan tidak optimal.



Hal ini dikarenakan pemilihan bibit adalah faktor yang penting dalam menghasilkan domba-domba berkualitas tinggi. Bibit domba unggul didapat dari indukan yang baik.
Berikut adalah syarat calon indukan domba betina dan jantan yang baik.

A. Syarat Calon Induk Betina
ciri ciri domba betina
Pililah indukan domba betina yang sehat, dengan ciri-ciri seperti berikut :
Memiliki badan yang panjang, besar, dan simetris
Selaput mata tidak pucat
Badan tidak terlalu gemuk
Bulu tidak kusam dan kaku
Tidak cacat fisik
Ambing besar, putting lengkap dan tidak bepotensi penyakit
Umur 1,5 – 2 tahun
Bentuk perut normal
Memliki nafsu kawin yang tinggi dan ekor normal
B. Syarat Calon Induk Jantan
ciri ciri domba jantan
Pilih pejantan yang sehat dengan ciri-ciri :
Memiliki badan yang panjang, besar, seimbang, dan simetris
Selaput mata tidak pucat
Badan tidak terlalu gemuk
Bulu tidak kusam dan kaku
Tidak cacat fisik
Cuping hidung lembab
Terdapat sepasang testis, bentuk normal, tonjolan tulang pada kaki besar
Umur minimal 1,5 tahun
Berasal dari induk yang melahirkan anak 2 ekor atau lebih
Itulah syarat calon indukan domba yang baik. Dengan memilih calon indukan yang seperti kami jelaskan diatas, maka bibit domba yang dihasilkan pun akan menjadi bibit domba unggul.
2. Kandang Domba
kandang domba
Langkah selanjutnya dalam ternak domba yaitu membuat kandang domba. Kandang sebagai tempat berlindung dari panas dan hujan serta dapat membatasi ruang gerak domba agar dapat di awasi dengan baik.
Dalam membuat domba, dulur-dulur harus mengetauhi persyaratan kandang domba. Dengan kandang domba yang baik, maka diharapkan domba akan terhindar dari stres hingga kematian.
Berikut Adalah Syarat Kandang Domba Yang Baik :
Kandang harus kuat
Bahan kandang terbuat dari kayu
Kandang mendapat sinar matahari yang cukup, ventilasi cukup, terhindar dari banjir, mudah di bersihkan
Terdapat lubang penampungan kotoran
Terdapat saluran pembuangan di sekitar kandang


Setelah mengetahui syarat kandang domba, kini dulur-dulur bisa memilih tipe kandang domba. Ada 3 tipe kandang domba yang perlu dulur-dulur ketahui.
Tipe Kandang Domba
Ada beberapa jenis kandang untuk domba antara lain :
Kandang ganda, posisi ternak saling behadapan (head to head)/bertolak belakang (tail to tail)
Kandang tunggal, dalam satu kandang di tempati satu ternak dengan posisi satu baris, pada bagian belakang terdapat selokan untuk pembuangan kotoran
Kandang lemprak, biasanya untuk domba kereman. Kandang ini tidak di alasi dengan kayu, tetapi beralas kotoran dan sisa hijauan. Dalam kandang di lengkapi dengan keranjang berisi rumputyang di letakkan di atas alas. Untuk pemberian pakan sengaja di beri untuk berlebih agar menghasilkan banyak kotoran dan 1-6 bulan kotoran di bongkar.

Perlengkapan Kandang Domba
Setelah membuat kandang domba, dulur-dulur harus melengkapi perlengkapan ini agar ternak domba dulur-dulur bisa menjadi maksimal. Berikut adalah perlengkapan kandang domba :
Tempat pakan dan minum
Lampu
Ember, Sekop, sapu, sikat, tali, selang air
Alat kesehatan
Timbangan
Chooper

3. Pakan Domba
Pemberian pakan domba harus sesuai dengan kebutuhan ternak domba yaitu untuk proses pertumbuhan, reproduksi, dan produksi. Maka dari itu pakan yang di berikan harus terdiri dari zat-zat berupa protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin dan air.
Pada umumnya domba mengkonsumsi pakan sebanyak 10 hingga 20% dari bobot tubuhnya, sedangkan minum sebanyak 3-4 liter sehari.
Kebutuhan pakan pada domba harus sangat diperhatikan. Biasanya dalam sehari domba mengkonsumsi pakan hijau seperti rumput dan daun-daunan sebanyak 10-20% dari bobot tubuh. Sedangkan minum 3-4 liter sehari. Pakan domba terdiri dari 2 hal, yaitu pakan hijauan dan pakan kosentrat.

 A. Pakan Hijauan
Pakan hijauan terdiri dari rumput dan dedaunan (leguminosa). Pakan hijauan ini dapat di berikan dalam keadaan segar/fermentasi.

 Pemberian pakan hijauan yaitu 3-4% bahan kering dari bobot hidup. Pakan hijauan yang baik adalah yang belum terlalu tua dan belum menghasilkan bunga. Hiajaun yang masih muda memiliki kandungan protein kasar yang tinggi juga memilki kadar air yang tinggi.
Untuk memgurangi kadar air pada pakan hijauan yaitu dengan cara di layukan/fermentasi. Hijauan merupakan pakan utama bagi ternak ruminansia dan berfungsi sebagai sumber gizi yaitu protein, sumber tenaga, vitamin dan mineral.
Bagi dulur-dulur yang belum mengetahui cara fermentasi pakan ternak, dapat kunjungi link berikut
B. Pakan Kosentrat
Pakan konsentrat untuk domba pada umumya sebagai bahan baku yang memiliki kandungan serat kasar <18% dan mudah di cerna. Pada periode pemacak untuk pejantan sebaiknya di beri lebih banyak konsetrat ± 1kg.
C. Suplemen Organik
Berikan suplemen organik yang berfungsi untuk menunjang penyerapan nutrisi dari pakan. Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Ternak merupakan suplemen organik cair 100% berbahan organik dan mengandung 5 bakteri yang menguntungkan.
Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Ternak berfungsi untuk membantu penyerapan nurtrisi dari pakan, menekan adanya penyakit, meingkatkan system imun pada ternak serta menghemat biaya pakan dan pengobatan. Dengan pemberian Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Ternak pada domba, maka dapat meningkatkan perfoma dan produktivitas ternak domba.
4. Pemeliharaan Ternak Domba
Untuk menjaga kesehatan ternak domba yang harus di perhatikan yakni dari kebersihan kandang serta lingkungan sekitar. Hal ini sangat berpengaruh tehadap tingkat wabah penyakit yang menyerang.
Ada beberapa tahapan untuk membersihkan domba dan lingkungan kandang :
Domba di mandikan seminggu sekali
Cukur bulu mencegah bulu menggumpal
Potong kuku yang panjang mencegah kontaminasi bakteri
Semprot dengan disinfektan lingkungan sekitar kandang
Bersihkan kandang dari kotoran dan sisa pakan
Cek rutin gudang penyimpanan pakan untuk mencegah tumbuhnya jamur


5. Penyakit Pada Domba Dan Solusilnya
domba sakit

Penyakit yang sering menyerang domba yaitu cacingan dan kudis. Agar dulur-dulur bisa mengatasi serangan penyakit cacingan dan kudis, berikut akan kami berikan gejala dan cara mengatasinya.
A. Penyakit Cacingan
Pada umumnya, penyakit cacingan disebabkan oleh parasit cacing dari golongan cacing gilig.
Gejala serangan penyakit cacingan pada domba yaitu:
Domba kurus,
Nafsu makan turun,
Mata sayu,
Hidung dan mulut kering,
Diare,
Kotoran cenderung lembek,
Bulu kusam,
Terkadang ada beberapa cacing yang ikut keluar bersama kotoran.
Solusinya jika domba terkena penyakit cacingan yaitu dengan memberikan obat cacing secara rutin, biasanya diberi albendazol (harus petugas vet). Kemudian berikan Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Ternak agar dapat mengembalikan nafsu makan domba.
Pencegahan penyakit cacingan yaitu dengan menjaga kebersihan kandang. Jadi dulur-dulur harus mengusahakan kandang domba jangan terlalu lembab dan sisa makanan jangan terlalu lama di dalam kandang.
B. Kudis
Penyakit kudis disebabkan oleh parasit kulit, penyakit ini dapat menular ke manusia.
Jika terdapat domba yang terkena penyakit kudis, maka pisahkan domba yang sakit dengan domba yang lain. Agar penyakit kudis tidak menular ke domba yang sehat lainnya.
Gejala penyakit kudis, yaitu :
Domba terlihat gatal-gatal,
Domba akan menggosok-gosokan tubuhnya,
Bulu rontok,
Timbul bercak berwarna abu-abu pada tubuh.
Jika ternak domba terkena penyakit kudis, maka cara pengobatannya yaitu:
Mencukur bulu domba,
Kemudian kerok bagian kulit yang terkena kudis
Bersihkan dengan air hangat
Kemudian oleskan Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Ternak
Fungsi mengoleskan suplemen organik cair GDM spesialis ternak pada kulit domba yaitu untuk merangsang pertumbuhan bulu lebih cepat dan lebih mengkilap.
Cara penjegahan penyakit kudis pada ternak domba yaitu dengan mencagah kebersihan domba, cucilah tangan sebelum dan sesudah memegang domba.
Itulah cara ternak domba yang terbukti ampuh, cara ini sangat mudah dipahami bahkan untuk pemula sekalipun. Jika dulur-dulur ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai cara ternak domba, bisa kita diskusikan lebih lanjut di kolom komentar, livechat, ataupun whatsapp kami.


Peranan Bioteknologi Dalam Berbagai Industri







Jual Aneka Culture Mikroba
Telp .087731375234


Mikroba adalah organisme yang sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mata telanjang, sehingga diperlukan alat bantu untuk dapat melihatnya seperti mikroskop, lup, atau alat canggih lainnya. Mikroba berukuran sekitar seperseribu milimeter (1 mikrometer) atau bahkan kurang, walaupun ada juga yang lebih besar dari 5 mikrometer. Beberapa mikroorganisme yang dikenal meliputi jenis bakteri, jamur (kapang) dan khamir. Mikroba ada yang menguntungkan ada yang merugikan dan banyak kita jumpai di sekeliling kita. Mikroba banyak terdapat di udara yang kita hirup, makanan atau minuman yang tercemar (terkontaminasi), di permukaan kulit, mulut, hidung dan setiap lubang pada tubuh, serta pada saluran pernafasan dan pencernaan.

Sebagian mikroba dari jenis jenis bakteri dan jamur memiliki peran penting dalam proses pengolahan bahan pangan. Mikroba ini mempunyai peranan dalam proses fermentasi sehingga menghasilkan produk olahan makanan dan minuman. Beberapa peranan mikroba pada pangan yang menguntungkan terdapat pada proses pembuatan tempe, oncom, ragi roti, tape, terasi, yoghurt, tauco, kecap, dan keju. Mikroba perusak makanan adalah mikroba yang mengakibatkan kerusakan pangan seperti menimbulkan bau busuk, lendir, asam, perubahan warna, pembentukan gas dan perubahan lain yang tidak diinginkan. Bakteri dan jamur (kapang dan khamir) merupakan jenis mikroba pangan yang bermanfaat dalam proses pembuatan makanan dan minuman, terbukti dengan adanya produk olahan pangan yang sangat diminati.

Ada dua jenis mikroba dilihat dari manfaatnya, yaitu mikroba baik dan mikroba yang merugikan bagi kehidupan manusia. Berikut diuraikan mikroba yang menguntungkan dan merugikan.

A. Mikroba yang menguntungkan

Mikroba yang baik bagi manusia diantaranya adalah mikroba pangan yang membantu manusia pada proses pembuatan makanan dan minuman. Peranan mikroba dalam pembuatan berbagai makanan fermentasi sebagai pengawet sumber makanan tetapi juga berkhasiat bagi kesehatan. Bakteri laktat (lactobacillus) merupakan kelompok mikroba dengan habitat dan lingkungan hidup sangat luas, baik di perairan (air tawar ataupun laut), tanah, lumpur, maupun batuan. Di beberapa kawasan Indonesia, tanpa disadari makanan hasil fermentasi laktat telah lama menjadi bagian di dalam menu makanan sehari-hari. Yang paling terkenal adalah asinan sayuran dan buah-buahan. Selama pembuatan kecap, tauco, serta terasi, bakteri laktat banyak dilibatkan. Bekasam atau bekacem dari Sumatera bagian Selatan, yaitu ikan awetan yang difermentasi dengan bantuan bakteri laktat, bukan saja merupakan makanan tradisional yang digemari, tetapi juga menjadi contoh pengawetan secara biologis yang luas penggunaannya. Fermentasi dengan menggunakan bakteri laktat pada bahan pangan akan menyebabkan nilai pH pangan turun di bawah 5,0 sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri fekal yaitu sejenis bakteri yang jika dikonsumsi akan menyebabkan muntah-muntah, diare, atau muntaber.

Berikut ini adalah beberapa jenis mikroba yang dimanfaatkan dalam teknologi pangan antara lain adalah:

a. Bakteri

Bakteri dimanfaatkan pada pembuatan makanan dan minuman melalui proses fermentasi/pemeraman. Jenis-jenis bakteri fermentasi adalah:

a.1. Lactobacillus

Bakteri ini dikenal juga dengan nama bakteri laktat terdiri dari delapan jenis yang mempunyai manfaat berbeda-beda. Diantara jenis bakteri lactobacillus yang paling dikenal adalah Lactobacillus bulgaricus dan Lactobacillus sp. Lactobacillus bulgaricus merupakan salah satu bakteri yang berperan penting dalam pembuatan yoghurt. Yoghurt merupakan hasil olahan fermentasi dari susu. Bakteri ini hidup di dalam susu dan mengeluarkan asam laktat yang dapat mengawetkan susu dan mengurai gula susu sehingga orang yang tidak tahan dengan susu murni dapat mengonsumsi yoghurt tanpa khawatir akan menimbulkan masalah kesehatan.

Sedangkan Lactobacillus sp. biasanya digunakan untuk pembuatan terasi. Terasi biasanya terbuat dari udang kecil (rebon), ikan kecil ataupun teri. Proses pembuatan terasi dilakukan secara fermentasi. Rebon yang telah kering ditumbuk dan dicampur dengan bahan lain kemudian diperam selama 3-4 minggu. Selama fermentasi, protein diekstrak menjadi turunan-turunanya seperti pepton, peptida dan asam amino. Fermentasi juga menghasilkan amonia yang menyebabkan terasi berbau merangsang.

Ada beberapa jenis lactobacillus yang juga berperan dalam pembuatan kefir. Bakteri yang berperan antara lain: Lactocococcus lactis, Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus kefir, Lactobacillus kefirgranum, Lactobacillus parakefir. Semua bakteri tadi merupakan bibit kefir dan berfungsi sebagai penghasil asam laktat dari laktosa. Sedangkan Lactobacillus kefiranofaciens berperan sebagai pembentuk lendir (matriks butiran kefir).

a.2. Streptococcus

Jenis bakteri streptococcus yang biasanya digunakan dalam makanan adalah Streptococcus lactis. Bakteri ini berperan dalam pembuatan mentega, keju dan yoghurt. Pada pembuatan yoghurt, bakteri streptococcus bekerjasama dengan bakteri lactobacillus. Bakteri lactobacillus berperan dalam pembentukan aroma yoghurt, sedangkan bakteri Streptococcus lactis berperan dalam pembentukan rasa yoghurt.

Pada pembuatan mentega dan keju, bakteri Streptococcus lactis diperlukan untuk menghasilkan asam laktat. Pada pembuatan keju, asam laktat dapat menghasilkan gumpalan susu berbentuk seperti tahu. Gumpalan ini kemudian dipadatkan dan diberi garam. Garam berfungsi untuk mempercepat proses pengeringan, penambah rasa dan pengawet. keju diperam untuk dimatangkan selama sekitar 4 minggu. Selama proses pemeraman inilah, citarasa dan tekstur dari keju terbentuk. a.3. Pediococcus cerevisiae

Bakteri Pediococcus sp. digunakan dalam pembuatan sosis. Tidak semua sosis dibuat melalui proses fermentasi. Sosis fermentasi dikenal dengan istilah dry sausage atau semi dry sausage. Contoh sosis jenis ini antara lain adalah Salami Sausage, Papperson Sausage, Genoa Sausage, Thurringer Sausage, Cervelat SausageChauzer Sausage. dan

a.4. Acetobacter

Jenis acetobacter yang terkenal perannya dalam pengolahan makanan adalah Acetobacter xylinum yang berperan dalam pembuatan nata de coco. Bakteri ini disebut juga dengan bibit nata. Bakteri akan membentuk serat nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah asam. Dalam kondisi tersebut, bakteri akan menghasilkan enzim yang dapat membentuk zat gula menjadi serat atau selulosa. Dari jutaan bakteri yang tumbuh pada air kelapa tersebut akan dihasilkan jutaan benang-benang selulosa yang akan memadat dan menjadi lembaran-lembaran putih yang disebut nata.



b. Mikroba jenis fungi

b.1. Jamur Rhyzopus oryzae

Jamur ini sangat berperan dalam pembuatan tempe. Tempe sendiri dapat dibuat dari kacang kedelai maupun bahan nabati lain yang berprotein. Pada tempe berbahan kedelai, jamur selain berfungsi untuk mengikat atau menyatukan biji kedelai juga menghasilkan berbagai enzim yang dapat meningkatkan nilai cerna saat dikonsumsi.

b.2. Neurospora sitophila

Jamur ini berperan dalam pembuatan oncom. Oncom dapat dibuat dari kacang tanah yang ditambahkan dengan bahan makanan lain seperti bungkil tahu. Bahan-bahan tersebut dapat menjadi oncom dengan bantuan jamur oncom. Proses yang terjadi dalam pembuatan oncom hampir sama dengan pembuatan tempe.

b.3. Aspergillus wentii dan Aspergillus oryzae

Jamur-jamur ini berperan dalam pembuatan kecap dan tauco. Kecap atau tauco dibuat dari kacang kedelai. Proses pembuatannya mengalami dua tahap fermentasi. Proses fermentasi pertama, yaitu adanya peran jamur Aspergillus wentii dan Aspergillus oryzae. Protein akan diubah menjadi bentuk protein terlarut, peptida, pepton dan asam-asam amino, sedangkan karbohidrat diubah oleh aktivitas enzim amilolitik menjadi gula reduksi. Proses fermentasi kedua menghasilkan kecap atau tauco yang merupakan aktivitas bateri Lactobacillus sp. Gula yang dihasilkan pada Kecap proses fermentasi diubah menjadi komponen asam amino yang menghasilkan rasa dan aroma khas kecap.

b.4. Saccharomyces cerevisiae

Jamur ini dimanfaatkan untuk pembuatan tape, roti dan minuman beralkohol dengan cara fermentasi. Tape dibuat dari singkong atau beras ketan. Dalam pembuatan tape, mikroba berperan untuk mengubah pati menjadi gula sehingga pada awal fermentasi tape berasa manis. Selain Saccharomyces cerivisiae, dalam proses pembuatan tape ini terlibat pula mikrorganisme lainnya, yaitu Mucor chlamidosporus dan Endomycopsis fibuligera. Kedua mikroorganisme ini turut membantu dalam mengubah pati menjadi Tape gula sederhana (glukosa). Adanya gula menyebabkan mikroba yang menggunakan sumber karbon gula mampu tumbuh dan menghasilkan alkohol. Keberadaan alkohol juga memacu tumbuhnya bakteri pengoksidasi alkohol yaitu Acetobacter aceti yang mengubah alkohol menjadi asam asetat dan menyebabkan rasa masam pada tape yang dihasilkan.

Pada pembuatan roti, fermentasi berfungsi menambah cita rasa, mengembangkan adonan roti dan membuat roti berpori. Hal ini disebabkan oleh gas CO2 yang merupakan hasil fermentasi. Roti yang dibuat menggunakan ragi memerlukan waktu fermentasi sebelum dilakukan pemanggangan. Pembuat roti harus menyimpan adonan di tempat yang hangat dan agak lembab. Keadaan lingkungan tersebut dapat memungkinkan ragi untuk berkembang biak, memproduksi karbon dioksida secara terus menerus selama proses fermentasi.

B. Mikroba yang merugikan

Mikroba perusak pangan adalah mikroba yang mengakibatkan kerusakan pada pangan seperti menimbulkan bau busuk, lendir, asam, perubahan warna, pembentukan gas dan perubahan lain yang tidak diinginkan. Ciri makanan biasanya basi atau rusak yang tampak pada kenampakan/tekstur bahan makanan dan minuman. Berikut adalah bakteri perusak makanan yang beracun dan berbahaya bagi kesehatan:

• Clostridium botulinin, penyebab racun botulinin yang terdapat pada makanan kaleng

• Pseudomonas cocovenenans, asam bongkrek pada tempe dan oncom

• Leuconostoc mesenteroides, terdapat pada makanan yang sudah berlendir


Jual Bibit Nata De Coco (Acetobacter xylinum)







Jual Bakteri Acetobacter xylinum, Acetobacter aceti, Lactobacillus sp., Bacillus sp. Aspergillus niger, Aspergillus oryzae, Saccharomyces sp.
Enzym alfa amylase, gluco amylase, Pectinase, selulase, Sweetzime/fructase,
Telp. 087731375234


Acetobacter xylinum adalah bakteri yang mampu memfermentasi bahan menghasilkan nata (bahan selulosa berupa jeli). Acetobacter xylinum merupakan bakteri berbentuk batang pendek, mempunyai panjang kurang lebih 2 mikron dan permukaan dindingnya berlendir. Acetobacter xylinum mampu mengoksidasi glukosa menjadi asam glukonat dan asam organik lain pada waktu yang sama, dan mempolimerisasi glukosa sehingga terbentuk selulosa. Bakteri ini biasa digunakan untuk membuat nata de coco/nata de soya/nata de cassava. Bakteri ini merupakan bakteri yang menguntungkan dan tidak berbahaya. 
Acetobacter xylinum memiliki ciri-ciri antara lain merupakan gram negatif pada kultur yang masih muda, sedangkan pada kultur yang sudah tua merupakan gram positif, bersifat obligat aerobic artinya membutuhkan oksigen untuk bernafas, membentuk batang dalam medium asam, sedangkan dalam medium alkali berbentuk oval, bersifat non mortal dan tidak membentuk spora, tidak mampu mencairkan gelatin, tidak memproduksi H2S, tidak mereduksi nitrat dan termal death point pada suhu 65-70°C.
Acetobacter xylinum mengalami pertumbuhan sel secara teratur, mengalami beberapa fase pertumbuhan sel yaitu fase adaptasi, fase pertumbuhan awal, fase pertumbuhan eksponensial, fase pertumbuhan lambat, fase pertumbuhan tetap, fase menuju kematian, dan fase kematian. Acetobacter xylinum akan mengalami fase adaptasi terlebih dahulu jika dipindahkan ke dalam media baru. Pada fase ini terjadi aktivitas metabolisme dan pembesaran sel, meskipun belum mengalami pertumbuhan. Fase pertumbuhan adaptasi dicapai pada 0-24 jam sejak inokulasi. Fase pertumbuhan awal dimulai dengan pembelahan sel dengan kecepatan rendah. Fase ini berlangsung beberapa jam saja. Fase eksponensial dicapai antara 1-5 hari. Pada fase ini bakteri mengeluarkan enzim ektraseluler polimerase sebanyak-banyaknya untuk menyusun polimer glukosa menjadi selulosa. Fase pertumbuhan lambat terjadi karena nutrisi telah berkurang, terdapat metabolit yang bersifat racun yang menghambat pertumbuhan bakteri dan umur sel sudah tua. Pada fase ini pertumbuhan tidak stabil, tetapi jumlah sel yang tumbuh masih lebih banyak dibanding jumlah sel mati. Fase pertumbuhan tetap terjadi keseimbangan antara sel yang tumbuh dan yang mati. Matrik nata lebih banyak diproduksi pada fase ini. Fase menuju kematian terjadi akibat nutrisi dalam media sudah hampir habis. Setelah nutrisi habis, maka bakteri akan mengalami fase kematian. Pada fase kematian, sel dengan cepat mengalami kematian tidak baik untuk dijadikan strain nata.
Pertumbuhan Acetobacter xylinum dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah kandungan nutrisi meliputi jumlah karbon dan nitrogen, tingkat keasaman media, pH, temperatur, dan udara (oksigen). Suhu optimal pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum pada 28–31˚C, pH optimal 3-4, memerlukan oksigen sehingga dalam fermentasi tidak ditutup dengan bahan kedap udara sehingga tidak memungkinkan udara masuk sama sekali, tutup untuk mencegah kotoran masuk ke dalam media yang dapat mengakibatkan kontaminasi.
Bibit Acetobacter xilynum berasal dari kultur murni yang sudah ada dapat dikembangbiakan dengan menggunakan media air kelapa atau substrat nanas. Bibit Acetobacter xilynum  yang dikembangkan dipilih dari bibit yang memiliki kualitas baik tidak terkontaminasi mikroorganisme lain, umur 4-10 hari.

Suskses Berbisnis Pupuk Organik






Jual Aneka Culture Microba
Telp. 087731375234


Selain menghasilkan daging, usaha peternakan juga menghasilkan produk sampingan berupa limbah kotoran ternak (feses). Limbah ternak dapat diolah untuk dijadikan kompos dan sebagai bahan baku penghasil biogas. Dengan adanya pengolahan limbah ternak ini selain dapat mengatasi masalah lingkungan juga dapat memberikan nilai tambah bagi peternak karena mempunyai nilai ekonomis. Pembuatan kompos dapat mendukung kegiatan pertanian untuk mengembalikan kesuburan lahan. Adapun pembuatan biogas dapat dijadikan alternatif pengganti sumber energi yang tidak dapat diperbaharui seperti bahan bakar fosil. Selain menghasilkan gas metan, biogas juga menghasilkan pupuk organik padat dan pupuk organik cair.

Kotoran sapi dapat dibuat menjadi beberapa jenis kompos yaitu curah, blok, granula dan bokhasi. Kompos sebagai pupuk organik yang berbahan kotoran sapi mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan pupuk anorganik. Selain itu, kompos juga mempunyai prospek dan peluang yang besar untuk dipasarkan secara lebih meluas untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia. Penyediaan kompos organik yang berkelanjutan dan praktis dapat mempermudah petani untuk memanfaatkannya sebagai penyubur tanah.

Kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Selama ini sisa tanaman dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk buatan. Kompos yang baik adalah yang sudah cukup mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang. Proses pembuatan dan pemanfaatan kompos dirasa masih perlu ditingkatkan agar dapat dimanfaatkan secara lebih efektif, menambah pendapatan peternak dan mengatasi pencemaran lingkungan.

Proses pengomposan adalah proses menurunkan C/N bahan organik hingga sama dengan C/N tanah ( 20). Selama proses pengomposan, terjadi perubahan-perubahan unsur kimia yaitu : 1) karbohidrat, selulosa, hemiselulosa, lemak dan lilin menjadi CO2 dan H2O; 2) penguraian senyawa organik menjadi senyawa yang dapat diserap tanaman. Kompos merupakan salah satu komponen untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan memperbaiki kerusakan fisik tanah akibat pemakaian pupuk anorganik (kimia) pada tanah secara berlebihan yang berakibat rusaknya struktur tanah dalam jangka waktu lama. Mengingat pentingnya pupuk kompos dalam memperbaiki struktur tanah dan melambungnya harga pupuk buatan maka perlu disusun buku petunjuk teknis pembuatan kompos organik berbahan kotoran sapi untuk memudahkan petani dalam memanfaatkan kotoran sapi, sekaligus memproduksi pupuk organik yang akhirnya akan menambah pendapatan.

Manfaat kompos organik diantaranya adalah 1) memperbaiki struktur tanah berlempung sehingga menjadi ringan; 2) memperbesar daya ikat tanah berpasir sehingga tanah tidak berderai; 3) menambah daya ikat tanah terhadap air dan unsur-unsur hara tanah; 4) memperbaiki drainase dan tata udara dalam tanah; 5) mengandung unsur hara yang lengkap (jumlah tersebut tergantung dari bahan pembuat pupuk organik); 6) membantu proses pelapukan bahan mineral; 7) memberi ketersediaan bahan makanan bagi mikroba; 8) menurunkan aktivitas mikroorganisme yang merugikan. Pengolahan kotoran sapi yang mempunyai kandungan N, P dan K yang tinggi sebagai pupuk kompos dapat mensuplai unsur hara yang dibutuhkan tanah dan memperbaiki struktur tanah menjadi lebih baik, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi semakin optimal.

Pembuatan kompos diawali dengan pengumpulan kotoran sapi dengan cara pemanenan dari kandang. Sebelum diproses menjadi pupuk kompos, kotoran sapi ditampung dalam tempat yang disediakan khusus yang letaknya agak berjauhan dengan tempat penyimpanan pakan dan kandang, selanjutnya jika mencapai jumlah yang dibutuhkan dapat diproses menjadi kompos dalam bentuk curah, blok, granula dan bokhasi.

Kotoran yang dipanen dari kandang diangin-anginkan di tempat teduh selama 2 bulan di musim hujan atau 1 bulan di musim kemarau, kotoran dihancurkan dan diayak dengan ukuran lubang 0,5 x 0,5 cm. Kemudian ditambahkan tanah humus, kapur, diaduk, setelah rata di ayak, ditambahkan bahan aktifator. Bahan aktifator pembuatan kompos dapat diperoleh di toko-toko pertanian. Dapat pula dengan menambahkan bahan-bahan organik lainnya seperti kotoran ayam, sekam, bekatul, dan lain-lain.

Setelah proses pencampuran dan pengadukan bahan-bahan kompos, maka bahan kompos tersebut kemudian ditutup dengan menggunakan plastik atau dengan menggunakan terpal kurang lebih satu minggu-sebulan. Agar proses fermentasi dapat berlangsung dengan baik, maka diusahakan tempat untuk proses fermentasi tersebut terlindung dari hujan dan terik panas yang berlebihan.

Setelah proses fermentasi cukup, maka bahan kompos tersebut kemudian diayak untuk menghilangkan bahan-bahan kasar. Setelah diayak kemudian digiling dengan menggunakan mesin penggiling hingga dihasilkan pupuk kompos yang halus. Setelah itu, pupuk kompos dikemas dengan menggunakan karung dengan ukuran 20 Kg.


Peluang Bisnis Budidaya Cabe Hibrida










Jual Bukud Budidaya Cabe Hibrida
Telp. 087731375234



A. Potensi Pasar Cabe
            Cabe adalah salah satu komoditas pertanian yang banyak dikonsumsi oleh rumah tangga dan aneka industri pangan di Indonesia. Semenjak dahulu hingga sekarang, cabe merupakan salah satu komponen bumbu masakan yang terpenting, karena rasanya yang pedas menggugah selera makan dan menambah rasa nikmat pada makanan. Masyarakat Indonesia umumnya menyukai masakan rasa pedas, sehingga berbagai masakan tradisional nusantara banyak menggunakan cabe. Cabe biasa diolah menjadi sambal dan dihidangkan saat menikmati menu seperti; bakso, soto, siomay, bakmie, nasi goreng dan aneka kuliner lainnya. Cabe juga biasa dikonsumsi dalam kondisi segar teman bersantap hidangan makanan kecil seperti tahu, tempe, bakwan, mie, dan lain-lain.

Selain sebagai bumbu masakan, cabe juga telah banyak diolah sebagai bumbu instan seperti sambal instan, saos sambal, dan aneka produk camilan dengan bumbu pedas. Saat ini, telah banyak beredar di toko-toko atau supermarket produk-produk olahan cabe seperti; bumbu masakan instan, sambal, saos, cabe bubuk, aneka makan camilan bumbu pedas, dan lain-lain. Saat ini, cabe juga telah banyak digunakan dalam industri obatobatan atau jamu, misalnya koyo cabe. Penggunaan cabe yang semakin variatif menyebabkan permintaan cabe semakin meningkat dan masih seringkali harus mendatangkan dari negara lain dalam jumlah besar manakala pasokan tidak mencukupi permintaan dalam negeri.

Permintaan produk cabe yang cukup tinggi dan pangsa pasar sangat luas baik di dalam negeri maupun luar negeri, sehingga dapat dikatakan bahwa cabe merupakan komoditas unggulan yang bernilai ekonomis tinggi. Permintaan pasar produk cabe dalam negeri dan luar negeri dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Oleh karena itu, harus diimbangi dengan upaya peningkatan produksi dan stabilisasi harga cabe. Gagal panen sering kali menjadi penyebab menurunnya tingkat produksi dan pasokan cabe di pasaran. Berkurangnya pasokan cabe di pasaran memicu naiknya harga cabe. Tingginya permintaan produk cabe baik dalam negeri maupun pasar internasional merupakan peluang usaha yang cukup menarik untuk berinvenstasi budidaya cabe. Dalam perdagangan ekspor cabe dijual dalam bentuk segar, kering, pasta, giling dan saos. 

Cabe merupakan salah satu komoditas pertanian yang harganya seringkali mengalami fluktuasi. Saat panen raya, harga cabe bisa sangat rendah, sebaliknya pada saat pasokan menurun, maka harga cabe bisa melambung sangat tinggi. Meskipun demikian banyak petani yang tetap optimis untuk bertanam cabe karena pangsa pasar-nya besar dan sewaktu-waktu harganya melambung, para petani dapat meraup laba berlipat. Namun, saat harga cabe segar sangat tinggi banyak konsumen yang mengeluhkan, sehingga konsumen cabe berusaha mencari produk alternatif seperti lada, cabe bubuk, atau dengan mengurangi konsumsi cabe. Untuk membantu daya beli konsumen, biasanya pemerintah melakukan kebijakan impor cabe untuk menetralisir permintaan dan menurunkan harga menuju titi normal.  

Pada bulan Januari 2011, harga cabe mengalami kenaikan yang cukup fantastis  dimana harga cabe rawit merah mencapai angka tertinggi Rp.120.000,- / Kg, cabe keriting mencapai harga Rp.60.000,- / Kg di pasaran. Kemudian pada bulan Februari 2011, harga berangsur-angsur turun menjadi; cabe rawit merah Rp.80.000,- di pasaran, dan Rp.60.000,- harga petani. Sedangkan harga  cabe keriting Rp.30.000,- di pasaran, dan Rp. 25.000,- di tingkat petani. Kemudian pada bulan berikutnya harga cabe turun lagi menjadi; cabe keriting merah di pasaran Rp.20.000,- / Kg dan Rp.15.000,- / Kg di tingkat petani.
Harga cabe umumnya meningkat pada saat musim penghujan, karena pada saat musim tersebut jumlah produksi dan kualitas menurun akibat meningkatnya serangan hama dan penyakit, kejadian bencana yang menyebabkan gagal panen seperti banjir atau gunung meletus, dan lain-lain. Kenaikan jumlah permintaan dan harga cabe juga sering terjadi menjelang hari-hari raya keagamaan seperti misalnya Hari Raya Idul Fitri, Bulan puasa, Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Harga cabe seringkali mengalami fluktuasi tidak menentu sehingga membuat para petani mengalami kerugian pada saat harga turun dan meraup untung besar pada saat harga naik berlipat.

B. Mengenal Tanaman Cabe
Cabe (Capsicum sp.) merupakan tanaman perdu dari famili terongterongan (solanaceae) yang sudah dikenal semenjak dahulu sebagai bumbu masakan. Awalnya tanaman cabe masih merupakan tanaman liar di hutan-hutan. Beberapa referensi menyebutkan bahwa cabe berasal dari Amerika Selatan, tepatnya di Bolivia, kemudian tanaman cabe menyebar hingga ke Amerika Tengah dan akhirnya menyebar ke seluruh dunia.


Cabe yang tersebar ke seluruh dunia, dalam perkembangannya mengalami perubahan, baik bentuk, rasa, maupun warna yang disebabkan oleh proses adaptasi terhadap lingkungan dimana tanaman tersebut dibudidayakan yang dipengaruhi oleh iklim dan kondisi lingkungan lainnya. Selain disebabkan oleh proses alamiah tersebut, perkembangan perubahan tanaman cabe juga dilakukan oleh manusia yang dilakukan melalui proses pemuliaan tanaman sehingga dihasilkan berbagai varietas tanaman dengan berbagai keunggulan. Saat ini telah banyak muncul berbagai macam jenis cabe hibrida yang merupakan cabe hasil penggabungan dua tanaman induk yang memiliki sifat dan penampilan lebih baik dibandingkan dengan kedua induknya. Cabe hibrida yang banyak dibudidayakan saat ini antara lain adalah; cabe besar, cabe keriting, dan cabe rawit. Perbedaan pada masing-masing jenis cabe tersebut adalah pada panjang, diameter buah, bentuk permukaan rata atau bergelombang.

Saat ini, budidaya tanaman cabe telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Teknik budidaya sudah mampu menghasilkan produksi yang optimal dengan perawatan yang intensif yaitu dilakukan pemupukan secara teratur dan tepat, pemakaian mulsa, pemberian hormon atau zat perangsang tumbuh, pengendalian hama dan penyakit secara efektif, sistem pengairan yang teratur, penanaman dengan menggunakan polybag, penaman di lahan basah seperti sawah atau tegalan, penanaman dalam green house atau rumah kaca dan lain sebagainya.

C. Jenisjenis cabe
Tanaman cabe adalah termasuk family solanaceae (terong-terongan). Tanaman cabe banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di negara asalnya. Jenis tanaman cabe yang umumnya banyak dibudidayakan adalah cabe besar, cabe keriting, (Capsicum annum), cabe rawit (Capsicum frutescens). Dan masing-masing jenis tersebut juga memiliki banyak variasi merupakan hasil pemuliaan dari galur murni. Berdasarkan sistem taksonomi, tanaman cabe diklasifikasikan ke dalam:

Tanaman cabe merupakan tanaman perdu yang memiliki kayu, bercabang dan tumbuh tegak. Tanaman ini memiliki akar tunggang dan akar serabut, memiliki daun berwarna hijau muda atau hijau tua bergantung jenisnya. Tanaman ini mampu mencapai tinggi 120 cm. tanaman cabe memiliki bunga lengkap yang terdiri dari kelopak bunga, mahkota bunga, benangsari, dan putik. Bunga cabe merupakan bunga berkelamin ganda karena benangsari dan putik terdapat dalam satu tangkai bunga. Bunga cabe keluar dari ketiak daun. Bunga tersebut akan berkembang menjadi buah cabe. Buah cabe memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda-beda sesuai dengan jenisnya. Cabe rawit memiliki ukuran lebih kecil, tapi rasanya lebih pedas. Cabe besar ukurannya lebih besar permukaannya lebih halus. Sedangkan cabe keriting memiliki ukuran panjang dan permukaannya bergelombang. Saat ini telah banyak benih cabe hibrida yang beredar di pasaran dengan nama varietas yang beraneka ragam dengan berbagai keunggulan yang dimiliki.

a. Cabe Rawit
Cabe Rawit (Capsicum frutescens ) dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Hot pepper atau bird's eye chili pepper; dalam bahasa Melayu dikenal dengan nama Cili padi, lada merah, lada mira; dalam bahasa Thailand disebut Phrik kheenuu; dalam bahasa China disebut La jiao, ye la zi;  dalam bahasa Jepang disebut Kidachi tougarashi.

Tanaman cabe rawit memiliki morfologi; daun tunggal, agak bulat dan melebar, ujung meruncing, pangkal menyempit, tepi rata, pertulangan menyirip, jumlah percabangan banyak, tinggi tanaman 50-120 cm, batangnya berbuku-buku, bertangkai, letak berselingan, panjang 5-9,5 cm, lebar 1,5-5,5 cm, berwarna hijau. Bunga keluar dari ketiak daun, mahkota bentuk bintang, bunga tunggal, berwarna putih, putih kehijauan, atau ungu. Buahnya cabe rawit tegak, kadang-kadang merunduk, berbentuk bulat telur, lurus atau bengkok, ujung meruncing, panjang 1-5 cm, bertangkai panjang, dan rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, putih kehijauan, atau putih, buah yang masak berwarna merah. Cabe rawit memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan cabe keriting atau cabe merah besar, namun lebih pedas. Memiliki jumlah biji yang banyak, berbentuk bulat pipih, berdiameter 2-2,5 mm, berwarna kekuningan.

Cabe rawit yang umumnya dibudidayakan oleh para petani di Indonesia terdiri dari jenis lokal/biasa dan jenis hibrida / hasil rekayasa pemuliaan. Beberapa jenis cabe rawit lokal yang banyak dikenal di Indonesia antara lain adalah; 1). Cabe rawit kecil / cabe jemprit; buahnya kecil dan pendek, lebih pedas; 2). Cabe rawit putih / cabe domba; buahnya lebih besar dari cabe jemprit, warna putih kekuningan; 3). Cabe rawit celepik; buahnya lebih besar dari pada cabe jemprit dan lebih kecil dari cabe domba, rasanya kurang pedas dibandingkan cabe rawit jemprit, waktu muda berwarna hijau setelah masak berwarna merah cerah. Sedangkan jenis cabe rawit hibrida memiliki ukuran tanaman yang lebih tinggi dan ukuran buah yang lebih besar, dan tingkat produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan cabe rawit biasa. Saat ini, sudah banyak dijual benih bibit cabe hibrida yang diproduksi oleh pabrikan yang dapat diperoleh di toko-toko pertanian.

b. Cabe Keriting
            Cabe keriting adalah jenis cabe merah yang merupukan cabe hibrida sering dibudidayakan oleh para petani karena cabe keriting memiliki keunggulan; produktifitasnya tinggi dan waktu panennya lebih cepat. Selain itu, tanaman cabe keriting juga memiliki adaptasi pertumbuhan yang cukup bagus baik di dataran tinggi maupun dataran rendah serta relatif tahan penyakit. Produksinya yang tinggi dan waktu panennya lebih cepat kurang lebih 75-120 hari sudah bisa panen. Buah cabe merah keriting antara lain bentuk buahnya memanjang, dan mengeriting dan bagian ujungnya meruncing,  rasanya pedas, biji yang dihasilkan relatif banyak. Buah yang masih muda berwarna hijau, lalu coklat, setelah masak menjadi merah tua.

Para petani menyukai bertanam cabe keriting, karena harga jual cabe keriting relatif lebih tinggi dan relatif stabil pada kondisi normal, dibandingkan dengan cabe besar, namun masih kalah dengan harga jual cabe rawit. Selain itu permintaan pasar terhadap cabe keriting juga relatif stabil. Beberapa jenis cabe keriting yang sering dibudidayakan oleh para petani: TM 999, TM 888, Sudra, CTH-01, dll

c. Cabe Besar
      Cabe besar adalah jenis cabe merah yang merupakan salah satu jenis cabe hibrida yang sangat diminati oleh para petani untuk dibudidayakan, karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Tanamannya produktif dan cukup memiliki pasar yang luas. Cabe besar memiliki ukuran yang relatif lebih besar dibandingkan dengan cabe keriting, dan permukaannya lebih halus tidak bergelombang. Cabe besar memiliki tingkat kepedesan yang lebih rendah dibandingkan dengan cabe rawit dan keriting. Di pasaran terdapat beberapa benih cabe besar produksi pabrikan yang dapat dibeli di toko-toko pertanian. Kita dapat memilih jenis cabe yang sesuai dengan kondisi lahan, iklim dan permintaan pasar.  Beberapa jenis cabe besar antara lain: Red Hot, Big sun, comando, dll

D. Syarat Tumbuh Tanaman Cabe
Tanaman cabe merupakan tanaman yang memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik, sehingga mudah tumbuh dengan baik di berbagai lahan seperti daerah persawahan, tegalan, dataran tinggi / pegunungan, daerah kering, daerah pantai. Pengusahaannya juga dapat dilakukan pada musim kemarau, musim hujan maupun rendengan. Untuk mendapatkan produksi yang maksimal, maka kita perlu memperhatikan beberapa faktor syarat pertumbuhan cabe optimum diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Jenis Tanah
Tanaman cabe pada umumnya memiliki pertumbuhan yang baik pada tanah yang memiliki banyak bahan organik, bertekstur remah, gembur tidak terlalu liat,  tidak terlalu porus dan tidak becek, bebas hama cacing (nematoda) dan penyakit tular tanah.

b. Derajat Keasaman (pH)
Tanaman  cabe dapat tumbuh dengan baik pada kisaran pH 5.5 - 6.8 dan pH optimum 6,0-6,5. Tanah dengan derajat keasaman yang tinggi ( < pH 5.5) dapat diperbaiki dengan cara pengapuran, sehingga pH-nya naik mendekati pH optimum. Sedangkan pada kondisi tanah dengan pH tinggi / basa, maka dapat dilakukan dengan penambahan belerang (S). 

c. A i r
Air merupakan senyawa yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Air berfungsi sebagai pelarut dan pengangkut unsur hara ke organ tanaman. Air sangat dibutuhkan dalam proses fotosintesis dan proses respirasi (pernafasan) tanaman. Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati. Sebaliknya kelebihan air dapat menyebabkan kerusakan pada perakaran tanaman, disebabkan kurangnya udara pada tanah yang tergenang.

d. I k l i m
Faktor iklim juga merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan dalam budi daya cabe. Faktor iklim tersebut meliputi: angin, curah hujan, cahaya matahari, suhu dan kelembaban. Pengetahuan tentang iklim sangat penting dalam usaha agrobisnis. Iklim mempengaruhi jenis tanaman yang sesuai untuk dibudidayakan pada suatu kawasan, penjadwalan budidaya pertanian, dan teknik budidaya yang dilakukan petani. Perubahan iklim mikro, sangat berpengaruh terhadap tanaman cabe. Tanaman cabe akan tumbuh optimal pada iklim dengan curah hujan berkisar 1.5002.500 mm per tahun dengan distribusi merata, suhu udara 1632°C. Hujan yang terlalu deras dapat mengakibatkan bunga banyak yang rontok dan gagal mengalami penyerbukan.

Tanaman cabe memerlukan kelembaban relatif 80% dan sirkulasi udara yang lancar. Curah hujan yang tinggi akan meningkatkan kelembaban sekitar pertanaman. Suhu dan kelembaban yang tinggi akan meningkatkan intensitas serangan bakteri Pseudomonas solanacearum penyebab layu akar serta merangsang perkembangbiakan cendawan dan bakteri. Untuk mengurangi kelembaban yang tinggi jarak tanam diperlebar dengan sistem tanam segitiga (zigzag) dan gulma-gulma dibersihkan.

Penyinaran matahari sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Intensitas cahaya yang cukup dibutuhkan untuk fotosintesis, pembentukan bunga, pembentukan buah dan pemasakan buah. Suhu untuk perkecambahan benih paling baik antara 25-30 ˚C. Suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 24-28˚C . Pada suhu <15 atau="atau" span="span" style="mso-spacerun: yes;">  >32 ˚C, buah yang dihasilkan kurang baik, suhu yang terlalu dingin menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, pembentukan bunga kurang sempurna, dan pemasakan buah lebih lama. Lamanya penyinaran (foto periodisitas) yang dibutuhkan tanaman cabe antara 10-12 jam/hari,

E.Teknik Budidaya Tanaman Cabe

1. Pemilihan Lahan
Lokasi yang tepat menentukan keberhasilan budidaya tanaman cabe. Oleh karena itu, sebelum melakukan budidaya tanaman cabe perlu dilakukan analisis pemilihan lahan secara tepat baik secara teknis maupun kelayakan ekonomis. Secara umum, cabe dapat tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi hingga mencapai ketinggian 2.000 meter di atas permukaan air laut.

2. Pengolahan Tanah
Tanah sebagai media tumbuh tanaman cabe, sebelum ditanami harus diolah terlebih dahulu. Pengolahan tanah bertujuan mengubah struktur tanah menjadi gembur sesuai untuk perkembangan akar tanaman, menstabilkan peredaran air, peredaran udara dan suhu di dalam tanah. Tahapan-tahapan pengolahan tanah dilakukan dengan tata cara sebagai berikut :
a.       Pembersihkan gulma.
Sisa-sisa tanaman atau perakaran dari gulma atau tanaman sebelumnya harus dibersihkan terlebih dahulu. Selain itu, lahan juga harus dibersihkan dari sampah-sampah plastik, kaleng, dan lain-lain.
b.      Pembajakan atau pencangkulan.
Pembajakan atau pencangkulan dilakukan kurang lebih sedalam 40 - 60 cm, kemudian diangin-anginkan selama 7 - 10 hari. Sebelum dibajak lahan digenangi air sehari semalam agar tanah menjadi lunak.
c.       Pengeplotan bedengan.
Untuk membuat bedengan, maka lahan  diplot terlebih dahulu dengan menggunakan benang ditarik memanjang ukuran 9-13 m, lebar 100 - 120 cm. Sedangkan tingginya 30 - 40 cm (penanaman pada musim kemarau), 50-70 cm (untuk musim hujan atau lahan persawahan), lebar parit 40-50 cm (musim kemarau), dan 60-70 cm (penanaman pada musim hujan). Lahan yang memiliki curah hujan tinggi diusahakan memiliki sistem drainase yang baik, oleh karena itu parit dibuat lebih lebar sehingga tanah tidak mudah becek. Air yang menggenang menyebabkan penyakit busuk akar dan berbagai penyakit lainnya yang dapat menyebabkan menurunkan produktifitas tanaman.

d.      Pemupukan Dan Pengapuran.
Pemupukan dengan pupuk kandang (kotoran ayam, domba, kambing, sapi atau kompos) yang telah matang sebanyak 1,0 - 1,5 kg/tanaman. Pada tanah dengan pH rendah < 5.5 (masam), dilakukan penambahan kapur pertanian sebanyak 100 - 125 gram/tanaman. Selain pupuk kandang, dilakukan pula pemupukan kimia per bedengan 13 meter diperlukan kurang lebih 4 kg, yang terdiri atas perbandingan 3 ZA : 1 Urea : 2 TSP : 1,5 KCL. Tiap 100 kg pupuk campuran tersebut ditambahkan 1 kg Borate dan 1,5 kg Furadan.

e.       Pengadukan.
Pengadukan atau pencampuran tanah, pupuk kandang, pupuk kimia dan kapur pertanian hingga merata sambil dibalik-balik, kemudian dibiarkan diangin-anginkan selama kurang lebih 1-2 minggu. Pengadukan dapat menggunakan alat sederhana yaitu cangkul.


f. Pembuatan Bedengan

Setelah dilakukan pengadukan pupuk dan kapur, langkah selanjutnya adalah membuat bedengan sesuai plot dengan tinggi kurang lebih 30-40 cm pada lahan kering, 50-70 cm pada lahan basah seperti persawahan. Antar bedengan dibuatkan parit untuk drainase.

3. Pemasangan Mulsa
Penggunaan mulsa plastik hitam perak (MPHP) pada sistem pertanian adalah merupakan upaya perbaikan teknik budidaya secara intensif sehingga dihasilkan panen yang lebih optimal. Mulsa plastik berfungsi untuk mengendalikan penguapan air, mempertahankan suhu, kelembaban tanah, kandungan bahan organik, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan, meningkatkan penyerapan air dan mengendalikan pertumbuhan gulma.

4. Pembuatan Lubang Tanam
Bedengan yang telah ditutup mulsa dibiarkan selama 7-10 hari agar unsur hara dengan pupuk bereaksi dan segera dapat diserap tanaman. Sehari sebelum penanaman, lubang tanam harus sudah dipersiapkan dengan ukuran diameter kurang lebih 10 cm. Jarak antar tanaman kurang lebih 60 x 60 cm atau 70 x 70 cm.

5. Persemaian Benih
Dalam usaha budidaya cabe, salah satu faktor yang menentukan hasil panen yang maksimal adalah tersedianya bibit yang berkualitas. Oleh karena itu penting sekali mengetahui dan memilih bibit yang berkualitas. Teknik penyemaian biji cabe dapat dilakukan dengan menggunakan kotak persemaian, kantung plastik atau kantung dari daun kelapa, enau, pisang dll.  Langkah awal dalam proses pembibitan cabe adalah benih yang sudah siap direndam air hangat terlebih dahulu kurang lebih 30 menit, kemudian direndam sehari semalam dalam larutan perangsang akar. Benih yang mengapung setelah direndam harus dibuang, karena benih tersebut pertumbuhannya tidak akan maksimal. Kemudian benih yang layak semai dibungkus dengan kain basah dan dibiarkan sehari semalam lagi. Keesokan harinya benih disemaikan di media semai yang sebelumnya telah disiapkan. Media semai yang digunakan berupa tanah gembur yang dicampur pupuk kandang yang sudah matang dengan perbandingan 1:1, ditambahkan pupuk NPK. Masukan media persemaian ke dalam plastik berdiameter 3 cm, tingginya kurang lebih 5 cm, kemudian basahi media tanam dengan larutan perangsang akar hingga lembab. Selanjutnya, semaikan benih satu per satu ke plastik kecil tersebut. Jika menggunakan kotak persemaian, maka benih yang telah siap dapat langsung ditebarkan secara merata pada kotak persemaian tersebut yang telah diisi dengan media tanam berupa tanah dan pupuk kandang.

6. Penanaman
Setelah umur bibit di persemaian 17-21 hari, bibit sudah dapat dipindahkan ke lahan, pemindahan sebaiknya dilakukan pagi-pagi sebelum terik matahari atau sore hari. Jarak tanam dapat bervariasi 60 x 50 cm, 60 x 70 cm atau 70 x 70 cm, hal ini tergantung tingkat kesuburan tanah dan varietas yang digunakan. Bentuk pertanaman sebaiknya dengan sistem tanam segitiga (zig zag). Waktu tanam yang paling baik adalah pagi atau sore hari, dan bibit cabe telah berumur 20-25 hari atau berdaun 3 - 4 helai.

7. Pemasangan Ajir / Lanjaran
Cabe hibrida umumnya berbuah lebat, sehingga untuk menopang pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh serta tidak rebah maka diperlukan tiang lanjaran. Tiang lanjaran yang biasa digunakan adalah dengan menggunakan bambu yang dibelah. Lanjaran atau ajir harus dipasang sedini mungkin, yaitu dimulai pada saat tanam atau maksimal 1 (satu) bulan setelah penanaman.

8. Penyulaman
Bibit atau tanaman muda yang mati atau terserang penyakit harus diganti atau disulam. Bibit sulaman yang baik diambil dari tanaman yang sehat dan tepat waktu (umur bibit) untuk penanaman. Penyulaman dilakukan pada minggu pertama atau selambat-lambatnya minggu kedua. Sebaiknya penyulaman dilakukan pagi atau sore hari.

9. Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan kedua dan ketiga masing-masing 30% pupuk buatan diberikan pada umur 30 dan 60 hari setelah tanam melalui lubang yang dibuat antar tanaman.

10. Perempelan
Perempelan bertujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas produksi. Bagian yang dirempel yaitu tunas samping, yang keluar di ketiak daun pada saat tanaman
berumur 10-20 hari. Perempelan dilakukan 2-3 kali sampai terbentuk percabangan utama yang ditandai dengan munculnya bunga pertama, sekitar umur 18-22 hari setelah tanam untuk dataran rendah, dan 25-30 hari setelah tanam untuk dataran tinggi.

11. Pengairan / Penyiraman
Pengairan harus senantiasa diperhatikan, karena air merupakan faktor vital bagi tanaman cabe. Penyiraman yang paling banyak (2 hari sekali) yaitu, pada fase vegetatif < 40 HST (hari setelah tanam). Sistem pengairan dapat dengan menggunakan selang yang dimasukkan ke mulsa plastik melalui lubang tanaman, hingga posisi selang air tepat di tengah-tengah tempat tanaman cabe.

12. Penyiangan Gulma
Gulma atau tanaman pengganggu harus senantiasi dibersihkan dari semenjak masa tanam hingga masa panen. Penyiangan terhadap gulma atau tanaman pengganggu harus dilakukan secara rutin misal seminggu sekali. Gulma merupakan menjadi pesaing tanaman cabe untuk mendapatkan unsur hara, air, maupun sinar matahari. Kalau tidak dilakukan penyiangan/pembersihan gulma secara rutin maka akan mudah menjadi sarang hama maupun penyakit.

13. Pemasangan Tali Penyangga
Setelah tanaman tumbuh menjadi besar dan mulai berbunga, maka dibuatkan tali penyangga tanaman antar bedengan. Tali diikatkan pada tiang ajir tingginya disesuaikan tinggi tanaman yang fungsinya agar tanaman lebih teratur dan memudahkan ketika melakukan pemanenan.

14. Panen
Panen dapat dilakukan secara manual yaitu dengan pemetikan, hasilnya ditampung dengan menggunakan ember. Cabe yang busuk atau terserang penyakit dipisahkan.