Senin, 06 Januari 2020

Prospek Pengembangan Agrobisnis Kelapa






Jual bibit / Starter Nata De coco
087731375234



Kelapa merupakan salah satu komoditas yang cukup prospektif di Indonesia. Daging kelapa dapat diolah menjadi minyak goring kelapa, VCO, nira-nya untuk membuat gula merah, air kelapa diolah menjadi nata de coco / sari kelapa, sabutnya untuk kerajinan seperti kesed, tali, dan lain-lain, batok kelapa digunakan untuk membuat briket. Oleh karena itu, tanaman kelapa memiliki nilai ekonomis tinggi. Di Indonesia, kelapa merupakan tanaman budi daya terluas ketiga setelah padi dan kelapa sawit tetapi penyebarannya nomor dua terbesar setelah padi. Sekitar 97% areal kelapa merupakan perkebunan rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia sampai di pulau-pulau terpencil pada ketinggian 0 - 700 m di atas permukaan laut. Sekitar 34,5% kelapa berada di Pulau Sumatra, 23,2% di Jawa, 8,0% di Bali, NTB, NTT, 19,6% di Sulawesi, 7,2% di Kalimantan, serta 7,5% di Papua dan Maluku.
Tingkat produksi dan konsumsi kelapa yang cukup besar tentu menghasilkan limbah berupa air kelapa dan kulit kelapa cukup besar pula. Air kelapa seringkali dianggap sebagai limbah. Hal ini disebabkan masih banyak orang yang belum tahu cara pemanfaatan air kelapa sehingga hanya dibuang begitu saja. Air kelapa ternyata memiliki nilai gizi yang tinggi dan sebagian orang telah memanfaatkan sebagai bahan dalam pengobatan tradisional misalnya minuman air kelapa muda dapat meredakan kegerahan, mulut kering, demam, dan air kelapa muda dipercaya mampu membuang racun dalam darah. Di samping itu, air kelapa juga dipercaya dapat bermanfaat untuk pengobatan colitis, luka dalam lambung, diare, disentri, dan mengatasi kerusakan sistem saluran pencernaan.
Kandungan nutrisi menurut hasil analisis Grimwood (1975) menunjukkan, air kelapa tua terdiri atas air 91,23%, protein 0,29%, lemak 0,15%, karbohidrat 7,27%, dan abu 1,06%. Air kelapa juga mengandung vitamin C 2,2 - 3,7 mg/100 ml dan vitamin B kompleks (Child 1964). Kandungan mineral air kelapa terdiri atas kalium, natrium, kalsium, magnesium, besi, tembaga, fosfor, sulfur, dan klorin.
Pada umumnya, air kelapa dan kulit kelapa dari hasil pengolahan kelapa masih dianggap limbah tidak bernilai ekonomis dan perlu biaya penanganan. Namun, sebagian telah memanfaatkan air kelapa dari industri seperti kopra, industri makanan, dan jasa pemarutan, menjadi nata de coco dengan bantuan Acetobacter xylinum. Proses fermentasi oleh bakteri tersebut mengubah air kelapa menjadi bahan selulosa berserat tinggi. Sedangkan limbah kulit kelapa berupa sabut banyak dimanfaatkan untuk berbagai aneka kerajinan tangan. Batok kelapa banyak dimanfaatkan untuk bahan bakar briket dan juga kerajinan.


0 comments:

Posting Komentar